Salah satu peran B.M Diah yang paling dikenal yaitu penyelamatan naskah asli Proklamasi yang ditulis Sukarno. Pada malam penyusunan naskah Proklamasi oleh Sukarno, Hatta dan Achmad Soebardjo pada 16 Agustus 1945, B.M Diah turut hadir sebagai pemuda yang menunggu di ruang tengah.
Biografi B.M Diah Sang Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

- B.M. Diah, tokoh pers kelahiran Banda Aceh, berkarier sebagai wartawan, pengusaha, diplomat, dan Menteri Penerangan ke-17 pada 1966–1969.
- Ia mendirikan Harian Merdeka pada 1 Oktober 1945 sebagai media perjuangan yang berupaya independen dari partai atau kelompok politik tertentu.
- B.M. Diah menyelamatkan naskah asli Proklamasi tulisan Soekarno yang sempat dibuang, lalu aktif di jurnalistik hingga wafat pada 10 Juni 1996.
Jakarta, IDN Times - Burhanuddin Mohammad Diah atau yang lebih dikenal B.M Diah merupakan salah satu tokoh pers yang mempunyai sejarah bagi bangsa Indonesia. Selain dikenal sebagai seorang jurnalis, B.M Diah juga dikenal sebagai pengusaha, diplomat, serta Menteri Penerangan Indonesia ke-17 (1966-1969) era kepemimpinan Presiden Sukarno dan Soeharto.
Terlepas dari kariernya tersebut, B.M Diah mempunyai peran penting dalam sejarah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Berikut perjalanan hidup B.M Diah mengutip dari laman Monumen Pers Nasional Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
1. Lahirnya sang penyelamat dan kisah pilunya

Ilustrasi - Sejumlah umat Muslim bertadarus Al Quran di Masjid At-Taqwa Desa Alue Raya, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Minggu (10/4/2022). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas) B.M Diah lahir pada 7 April 1917 di Kotaraja, Banda Aceh, dengan nama asli Burhanuddin. Ia lahir dari pasangan suami istri bernama Mohammad Diah dan Siti Sai'dah, dan merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara.
Ayahnya merupakan seorang pegawai pabean di Aceh Barat, yang kemudian menjadi seorang penerjemah. Tentunya, pekerjaan ayahnya sebagai karyawan menjadikan keluarganya cukup terpandang di kalangannya.
Namun, tepat sepekan setelah B.M Diah dilahirkan, sang ayah meninggal dunia. Sementara delapan tahun kemudian, ibunya, Siti Sai'dah menyusul kepergian sang ayah. Sejak itu, B.M Diah diasuh kakak perempuannya yang bernama Siti Hafsyah.
2. Awal mula perjalanan kariernya sebagai seorang jurnalis

ilustrasi koran bekas (pexels.com/mographe) B.M Diah menempuh pendidikan di Holandsch Inlandcshe School (HIS), yang kemudian melanjutkan sekolahnya di Taman Siswa Medan. Pada usianya yang menginjak 17 tahun, ia belajar di Middlebarre Journalisten School (Ksatrian Institut) Bandung, yang dipimpin E.E Douwes Dekker.
Di sekolah tersebut, B.M Diah memilih jurusan jurnalistik dan selama pengalamannya bersama Douwes Dekker sangat memengaruhi pemikiran dan kemampuan jurnalistiknya. Selesai masa pendidikannya, ia memulai kariernya sebagai redaktur di Sinar Deli Medan. Ia juga sempat bekerja di Sin Po dan menjadi pemimpin redaksi di Asia Raya.
3. Mendirikan Harian Merdeka setelah kemerdekaan

ilustrasi percetakan koran (unsplash.com/Bank Phrom) Salah satu perjalanan penting B.M Diah adalah mendirikan Harian Merdeka. Koran ini perdana diterbitkan pada 1 Oktober 1945 melalui percetakan De Unie di Molenvliet Oost, Jakarta. Dalam penerbitan awalnya, B.M. Diah menjadi pemimpin redaksi, Joesoef Isak sebagai wakil, dan Rosihan Anwar sebagai redaktur.
Edisi pertama Harian Merdeka memuat berita seputar Proklamasi, tentang bendera Merah Putih, serta mengenai keberadaan tentara Inggris dan Belanda di Indonesia.
Pada awal terbit, koran Merdeka dianggap radikal sehingga sering berbenturan dengan Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Adanya masalah tersebut, Diah membuat strategi baru dengan menekankan semboyan "Berpikir Merdeka, Bersuara Merdeka" yang pada akhirnya bisa diterima masyarakat.
B.M Diah juga berupaya agar korannya tidak menjadi alat partai atau kelompok politik tertentu. Ia ingin menjadikan Merdeka sebagai alat perjuangan, bukan sebagai penopang golongan tertentu.
4. Menjadi penyelamat naskah asli Proklamasi Kemerdekaan

Naskah Proklamasi hasil tulisan tangan Bung Karno yang disimpan oleh pihak Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). (IDN Times/Irfan Fathurohman) Setelah penulisan naskah yang diketik oleh Sayuti Melik, naskah asli Proklamasi hasil tulisan Sukarno sempat dibuang ke tempat sampah. Dengan naluri jurnalistiknya, B.M Diah mengambil teks tersebut dan menyimpannya. Dengan tindakannya tersebut, B.M Diah menjadi kunci bagi kelengkapan arsip tentang proklamasi kemerdekaan.
5. Aktif di dunia jurnalistik hingga akhir hayatnya

ilustrasi koran bekas (pexels.com/mike-van-schoonderwalt) Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Penerangan, B.M. Diah kembali berkecipung di dunia jurnalistik. Ia menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diakui pemerintah pada 1970, dan kemudian menjadi anggota Dewan Pembina PWI Pusat pada 1973–1983 serta penasihat PWI Pusat pada 1983–1988.
B.M Diah meninggal dunia di Jakarta pada 10 Juni 1996 pada usia 79 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Beberapa waktu sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya, B.M Diah harus menyaksikan saham Merdeka lepas dari kepemilikannya.

















