“Tadi malam, kapal tanker Trend berbendera Togo yang melanggar aturan bermaksud untuk melewati Selat Hormuz secara ilegal setelah dihasut dan ditipu oleh tentara Amerika (Serikat) yang gemar membunuh anak-anak. Kapal itu ditabrak dan dihentikan setelah terjadi kebakaran,” demikian bunyi pernyataan resmi IRGC, seperti dikutip Jerusalem Post.
Langgar Aturan, Iran Serang Kapal Tanker Togo di Selat Hormuz
- Iran mengklaim menyerang dan menghentikan tanker minyak berbendera Togo, Trend, di Selat Hormuz setelah menuding kapal itu melintas ilegal dan memicu kebakaran.
- IRGC menegaskan semua kapal wajib berkoordinasi sebelum melintas; kapal komersial yang dianggap melanggar aturan akan diblokade atau diserang.
- Saling klaim Iran dan AS atas status Selat Hormuz memperumit pelayaran komersial, di tengah rangkaian serangan balasan yang merusak sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Iran mengklaim telah menyerang kapal tanker minyak asal Togo yang sedang berlayar di Selat Hormuz pada Kamis (17/9/2026). Menurut keterangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), serangan dilakukan karena kapal tersebut telah melanggar aturan dengan berlayar secara ilegal di Selat Hormuz.
1. IRGC akan memblokade setiap kapal yang langgar aturan di Selat Hormuz

potret kapal milik IRGC (commons.wikimedia.org/NAVCENT Public Affairs) Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sudah berulang kali mewanti-wanti setiap kapal untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan mereka jika ingin melintas di Selat Hormuz. Jika tidak, maka IRGC akan memblokade dan menyerang kapal-kapal tersebut. Sayangnya, hingga saat ini, masih banyak kapal yang melanggar aturan.
“Melintas di Selat Hormuz secara ilegal tidak akan menghasilkan apa pun selain kehancuran kapal yang melanggar,” bunyi pernyataan resmi angkatan laut IRGC. IRGC juga kembali mewanti-wanti semua kapal komersial, baik yang membawa minyak maupun yang bermuatan lainnya untuk mentaati aturan di Selat Hormuz.
2. Iran dan AS masih saling klaim kekuasaan di Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency) Selama beberapa pekan terakhir, IRGC memang sering menyerang kapal komersial yang melanggar aturan di Selat Hormuz. Hal ini disebabkan karena Teheran dan Washington hingga kini masih saling mengklaim kekuasaan di salah satu jalur perdagangan strategis global tersebut.
Di satu sisi, Iran mengklaim Selat Hormuz kini masih ditutup. Selain itu, Teheran juga mengklaim Selat Hormuz masih berada di bawah kekuasaannya. Namun, di sisi lain, AS mengklaim bahwa Selat Hormuz saat ini sudah dibuka dan sudah 100 persen dikuasai oleh pasukan militernya.
Aksi saling klaim inilah yang akhirnya membuat kapal-kapal komersial mengalami dilema untuk berlayar di Selat Hormuz. Sebab, jika berlayar di sana karena percaya klaim AS, kapal-kapal tersebut sudah pasti akan diserang IRGC karena dianggap melanggar aturan.
3. Konflik Iran dan AS masih belum sepenuhnya usai

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Hingga saat ini, konflik antara Iran dan AS masih belum sepenuhnya usai. Bahkan, Teheran dan Washington juga sempat kembali terlibat adu serangan pada pekan lalu. Aksi saling serang kedua negara selalu dipicu hal yang sama, yakni Selat Hormuz.
Pekan lalu, Iran menyerang kapal tanker yang melanggar aturan di Selat Hormuz. Serangan ini lantas dibalas oleh AS dengan menyerang sejumlah wilayah yang ada di Iran, termasuk Pulau Qeshm. Setelah serangan itu, Iran menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang ada di Timur Tengah. BBC merujuk pada citra satelit melaporkan, sejumlah pangkalan militer Washington di Timur Tengah kini mengalami kerusakan akibat diserang Teheran.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















