Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS-Iran Masih Saling Serang, Gimana Nasib Kesepakatan Damai?
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)
  • AS dan Iran kembali saling serang, menargetkan fasilitas militer penting di kedua pihak, membuat situasi keamanan kawasan semakin panas.
  • Kesepakatan damai yang disetujui pada Juni 2026 kini terancam bubar setelah Iran menyatakan perjanjian tersebut batal dan menolak negosiasi lanjutan dengan AS.
  • Belum ada tanda-tanda perang akan berakhir; konflik berkepanjangan ini memperburuk kondisi ekonomi dan kesejahteraan warga di kedua negara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini masih saling serang. Komando Pusat (CENTCOM) militer AS mengatakan, mereka baru menyelesaikan gelombang serangan terakhir ke Iran pada Rabu (15/7/2026) malam waktu setempat. Serangan itu ditargetkan ke pusat komando militer, sistem pertahanan udara, situs peluncuran rudal dan drone, serta fasilitas pengawasan pantai milik Iran. 

Sehari setelahnya, Kamis (16/7/2026) pagi waktu setempat, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas serangan AS dengan membombardir pangkalan militer mereka di Yordania dan Kuwait. Di Yordania, serangan ditujukan ke sistem komunikasi dan tangki penyimpanan bahan bakar yang ada di pangkalan militer Azraq, sedangkan di Kuwait menyasar sistem radar deteksi dini yang ada pangkalan udara Ali Al Salem.

1. Kesepakatan damai AS dan Iran diujung tanduk

ilustrasi kesepakatan damai (pexels.com/Magda Ehlers)

Aksi saling serang ini membuat kesepakatan damai AS dan Iran berada di ujung tanduk. Sebab, alih-alih saling menahan ego agar perang berakhir, Washington dan Teheran malah kembali terlibat bentrokan satu sama lain. Padahal, dalam kesepakatan damai yang sudah disetujui pada 17 Juni, AS dan Iran sepakat menghentikan serangan dan bersedia melanjutkan negosiasi agar tercapai perdamaian abadi.

Presiden AS, Donald Trump, sebetulnya sudah mendesak Iran kembali ke meja perundingan untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, ia ingin kedua negara berhenti saling serang. Padahal, pada 8 Juli lalu, Trump sempat membatalkan negosiasi lanjutan dengan Iran karena mereka melakukan serangan di Selat Hormuz. Namun, Trump kini berubah pikiran dan bersedia melanjutkan negosiasi. Bahkan, ia mengancam akan menyerang semua jembatan dan pembangkit listrik milik Iran jika mereka tetap ogah melanjutkan negosiasi dan mencapai kesepakatan damai dengan AS.

2. Iran sebut kesepakatan damai dengan AS batal

potret Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf (commons.wikimedia.org/State Duma of the Russian Federation)

Namun, Iran tetap enggan melanjutkan negosiasi dengan AS. Pada 10 Juli lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan, Iran tidak akan meminta negosiasi lanjutan dengan AS dan akan melakukan serangan balasan jika mereka melanggar gencatan senjata. Terbaru, negosiator senior sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan AS sudah dibatalkan.    

Dalam pernyataannya, Ghalibaf mengatakan, Iran akan tetap melakukan serangan ke AS dan tidak akan melanjutkan negosiasi dengan mereka. Sebab, ia menilai negosiasi dengan Washington tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu. “Iran berada dalam perang penting dan eksistensial dengan Amerika (Serikat) dan tidak punya alasan untuk terus mematuhi ketentuan perjanjian perdamaian tersebut,” tegas Ghalibaf, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu. 

3. Belum ada tanda-tanda perang akan berakhir

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa perang antara AS dan Iran akan segera berakhir. Bahkan, tensi kedua negara kini justru semakin meningkat. Trump pada Selasa (14/7/2026) kemarin juga sudah kembali memblokade semua pelabuhan milik Iran. Langkah ini dilakukan sebagai balasan karena Iran menutup Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal yang sedang melintas di sana. 

Sebetulnya, perang sudah membuat perekonomian AS dan Iran babak belur. Sebab, perang yang meletus sejak 28 Februari itu sudah menghabiskan sebagian besar anggaran belanja kedua negara. Anggaran yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting dan mendesak malah dipakai untuk memenuhi kebutuhan perang. 

Di AS, warga sudah mulai mengeluh karena harga bahan bakar dan bahan pokok naik imbas perang dengan Iran. Di sisi lain, warga Iran juga menjerit karena kondisi perekonomian di negaranya makin carut marut. Terlebih, sebelum perang dengan AS pun, kondisi ekonomi Iran sudah mengalami kontraksi hebat. Harga barang pokok naik sehingga inflasi juga turut meningkat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article