Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Gempur Iran 3 Hari Berturut-turut, Blokade Hormuz Kembali Berlaku

AS Gempur Iran 3 Hari Berturut-turut, Blokade Hormuz Kembali Berlaku
ilustrasi peta satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Iran selama tiga malam berturut-turut, menargetkan sistem pertahanan pantai, rudal, drone, dan fasilitas maritim di berbagai wilayah Iran.
  • Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain serta dua kapal tanker UEA di Selat Hormuz, menewaskan satu awak dan melukai delapan orang lainnya.
  • AS memberlakukan kembali blokade terhadap Iran dan mengenakan tarif 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai langkah pengendalian jalur pelayaran strategis tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer ke Iran untuk malam ketiga berturut-turut pada Selasa (14/7/2026). Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya berhasil menghantam sejumlah target militer di seluruh Iran, termasuk di Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas, dalam operasi yang berlangsung selama lima jam.

CENTCOM menyebut serangan tersebut menargetkan sistem pertahanan pantai Iran, lokasi rudal dan drone, serta berbagai kemampuan maritim negara Teluk tersebut. Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal-kapal komersial dan mengancam pelayaran di Selat Hormuz.

"Kami menyerang mereka dengan sangat keras. Dan itu akan terus berlanjut, dan kita akan lihat apa yang terjadi. Kami melumpuhkan semua kemampuan ofensif mereka dan kami mengendalikan selat. Kami memberlakukan kembali blokade," ungkap Presiden AS, Donald Trump.

Meski konflik kembali memanas, Trump mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka. Pemimpin Negeri Paman Sam itu menilai nota kesepahaman yang disepakati AS-Iran pada bulan lalu hanya menjadi ujian bagi Teheran, dikutip dari Euronews.

1. Iran meluncurkan serangan balasan ke Bahrain dan UEA

bendera Iran
ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Iran membalas rentetan serangan AS dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah negara Teluk pada Selasa. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan pihaknya menargetkan gudang logistik militer, pusat komunikasi satelit, serta kompleks tempat tinggal personel militer AS di Bahrain.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan dua kapal tanker nasional, Mombasa dan Al Bahiyah, telah dihantam dua rudal jelajah Teheran ketika melintasi jalur selatan Selat Hormuz di wilayah perairan Oman. Serangan tersebut menewaskan seorang awak kapal, melukai delapan orang lainnya, serta menyebabkan kebakaran yang mengakibatkan kerusakan material pada kedua kapal.

IRGC mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurutnya, kedua kapal tersebut telah mengabaikan peringatan berulang kali yang diberikan oleh Iran.

Dilansir CNBC, otoritas UEA menyatakan bahwa seluruh aparat keamanan tetap berada pada tingkat kesiapsiagaan tertinggi dan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas negara.

2. AS kembali memberlakukan blokade terhadap Iran

Kapal AS di Selat Hormuz
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS mengumumkan Washington akan memberlakukan blokade terhadap Iran pada Selasa. Blokade itu mencakup seluruh pelabuhan, terminal minyak, dan wilayah pesisir negara tersebut. Meski demikian, pelayaran internasional menuju negara selain Iran melalui Selat Hormuz tetap diperbolehkan dan tidak akan dihambat.

"Setiap kapal yang dicurigai memasuki atau meninggalkan area yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, dan ditangkap. Kapal yang tidak patuh dapat dipaksa secara hukum menggunakan kekuatan," bunyi pernyataan JMIC, dikutip dari The Guardian.

Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebi, mengecam langkah tersebut dan menilai AS telah secara serius membahayakan keamanan pasokan minyak dan gas dunia. Mohebi menegaskan bahwa Iran akan tetap menjalankan kedaulatan dan pengelolaan atas Selat Hormuz.

3. Trump menuntut tarif 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz

Presiden AS, Donald Trump.
Presiden AS, Donald Trump. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump juga menyatakan AS akan mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh muatan kapal yang melintasi Selat Hormuz. Trump juga mengusulkan agar Negeri Paman Sam selanjutnya dikenal sebagai penjaga Selat Hormuz.

"Kami melindungi salah satu kawasan terkaya di dunia. Kami mengeluarkan biaya untuk itu. Karena itulah kami akan mendapatkan penggantian atas perlindungan yang kami berikan," ungkap Trump.

Usulan Trump bertolak belakang dengan kebijakan Washington sebelumnya yang selama bertahun-tahun menegaskan tidak boleh ada negara yang mengenakan biaya atas jalur pelayaran internasional. Sebelum konflik pecah, AS juga secara konsisten menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi seluruh kapal tanpa pungutan apa pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More