Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Serang Dua Kapal Tanker Berawak India di Teluk Oman

AS Serang Dua Kapal Tanker Berawak India di Teluk Oman
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Intinya Sih
  • Pasukan AS menyerang dua kapal tanker berawak India di Teluk Oman, menewaskan tiga pelaut dari MT Settebello dan memicu ketegangan baru terkait blokade minyak Iran.
  • Pemerintah India memprotes keras serangan tersebut, memerintahkan pemulangan awak selamat serta jenazah korban, dan menyerahkan nota diplomatik kepada perwakilan AS di New Delhi.
  • Serikat pelaut India mengecam tindakan militer AS yang dianggap berlebihan terhadap kapal komersial, menyoroti risiko tinggi bagi keselamatan pelaut di jalur pelayaran Teluk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Jalur pelayaran di Teluk Oman kembali menjadi sorotan setelah pasukan Amerika Serikat (AS) menyerang dua kapal tanker minyak komersial yang diawaki pelaut asal India pada Kamis (11/6/2026). Peristiwa ini terjadi di tengah blokade Washington terhadap ekspor minyak Iran yang terus memicu ketegangan di kawasan.

Menurut laporan Al Jazeera, salah satu target serangan adalah MT Settebello berbendera Palau yang sedang berupaya mengangkut minyak dari Iran. Dari 24 awak kapal asal India di atas kapal tersebut, tiga orang yang sebelumnya dinyatakan hilang kemudian dipastikan meninggal dunia, yakni deck cadet Aditya Sharma, engine fitter Shivanand Chaurasiya, dan Chief Engineer Patnala Suresh. Pada insiden lain yang terjadi pada hari yang sama, seluruh awak kapal tanker kedua dilaporkan selamat tanpa mengalami cedera.

1. India menyampaikan protes atas tragedi Settebello

Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)
Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)

Pemerintah India segera merespons insiden yang menimpa para pelautnya. Menteri Perhubungan India, Sarbananda Sonowal, menyampaikan duka atas kejadian tersebut dan mengungkapkan bahwa tiga awak yang semula dinyatakan hilang telah ditemukan serta berhasil diidentifikasi.

Dalam pernyataannya kepada media, Sonowal mengatakan proses pemulangan awak yang selamat dan jenazah korban telah diperintahkan untuk segera dilakukan. Ia juga menyebut operasi pencarian dan penyelamatan dijalankan bersama otoritas Oman.

“Sayangnya, tiga pelaut India yang awalnya dilaporkan hilang kini dikonfirmasi tewas setelah jasadnya ditemukan dan diidentifikasi,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.

Sonowal menambahkan bahwa dirinya telah memerintahkan para pejabat terkait untuk memastikan awak kapal yang selamat segera dipulangkan serta jenazah para korban secepatnya dikembalikan kepada keluarga untuk proses pemakaman.

Sonowal menyebut 21 dari 24 awak India berhasil diselamatkan. Adapun tiga korban meninggal berasal dari Himachal Pradesh, Deoria di Uttar Pradesh, dan Andhra Pradesh.

Merespons perkembangan tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) India mengecam serangan itu dan menyatakan kondisi di perairan kawasan tersebut sangat memprihatinkan akibat konflik yang terus berlangsung. India juga meminta de-eskalasi serta penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Selain itu, India memanggil Kuasa Usaha AS, Jason Meeks. Sekretaris Tambahan Kemenlu untuk urusan Amerika, Nagaraj Naidu, turut menyerahkan demarche atau nota protes resmi yang menekankan pentingnya perlindungan bagi pelaut dan kapal komersial.

2. Rudal Hellfire menghantam kapal tanker Jalveer

ilustrasi peluncuran rudal
ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/SpaceX)

Kapal kedua yang menjadi sasaran adalah MT Jalveer berbendera Guinea-Bissau yang juga diawaki warga India. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kapal tersebut dibidik setelah terdeteksi berusaha mengangkut minyak dari Iran melalui Teluk Oman.

CENTCOM menjelaskan pesawat militernya menembakkan dua rudal Hellfire ke ruang mesin kapal hingga memicu kebakaran besar. Menurut keterangan mereka, tindakan itu dilakukan setelah awak kapal berulang kali mengabaikan peringatan untuk mematuhi instruksi yang diberikan.

Di tengah kondisi darurat, kru MT Jalveer mengirim sinyal bahaya ketika berada di dekat Pelabuhan Shinas, Oman. Seluruh 20 awak India di kapal itu kemudian berhasil dievakuasi dengan selamat.

Dokumentasi yang dibagikan Forward Seamen’s Union of India (FSUI), organisasi serikat pekerja pelaut India, memperlihatkan proses evakuasi menggunakan helikopter saat asap tebal membubung dari badan kapal. Kedutaan India di Oman juga terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memenuhi kebutuhan para korban selamat.

3. Serikat pelaut mengkritik tindakan militer AS

Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022.
Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)

Operasi tersebut menambah daftar penegakan sanksi yang dilakukan Washington terhadap pengiriman minyak Iran. Sebelumnya, pasukan AS juga mengambil tindakan terhadap kapal tanker Marivex yang berujung pada evakuasi 24 pelaut India oleh otoritas Oman.

CENTCOM menyatakan MT Settebello dan Marivex dilumpuhkan karena dianggap melanggar blokade AS terhadap Iran. Meski demikian, MT Settebello diketahui tidak termasuk dalam daftar sanksi resmi Washington.

Analis Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menggambarkan situasi tersebut sebagai konflik intensitas rendah yang mengancam gencatan senjata rapuh dalam konflik AS-Israel melawan Iran. Menurut dia, AS berupaya memperkuat tekanan melalui penegakan blokade, sedangkan Iran berusaha mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz untuk menekan stabilitas ekonomi global.

Kritik terhadap operasi itu datang dari Sekretaris Jenderal FSUI, Manoj Yadav. Ia mempertanyakan penggunaan kekuatan mematikan terhadap kapal komersial yang membawa warga sipil.

“Saya 101 persen yakin bahwa pasukan angkatan laut AS tahu persis berapa banyak orang India dan warga negara asing yang ada di kapal-kapal tersebut,” katanya, dikutip Times of India.

Yadav menilai bahwa apabila kapal-kapal tersebut tidak mematuhi instruksi yang diberikan, penahanan kapal seharusnya menjadi pilihan yang lebih layak dibanding penggunaan tindakan militer.

Rangkaian insiden tersebut memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan pelaut India yang bekerja di jalur pelayaran kawasan Teluk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More