Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terbesar dalam Sejarah untuk Iran
ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
  • AS menyiapkan paket sanksi ekonomi baru yang disebut paling berat dalam sejarah untuk menekan Iran mencapai kesepakatan, sebagai alternatif operasi militer besar.
  • Washington mendesak China mendukung pembukaan Selat Hormuz, tetapi Beijing menolak sanksi dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur politik serta diplomasi.
  • Kampanye AS menyasar jaringan ekonomi Iran, sementara Teheran menolaknya; ketegangan turut mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Amerika Serikat (AS) menyiapkan paket sanksi baru terhadap Iran yang disebut Menteri Keuangan Scott Bessent sebagai sanksi ekonomi terberat dalam sejarah. Sanksi tersebut merupakan bagian dari upaya Washington untuk menekan perekonomian Teheran dan memaksa negara tersebut mencapai kesepakatan.

Pada Kamis (20/8/2026), Bessent menyatakan bahwa Washington akan memadukan blokade yang sudah ada dengan sejumlah sanksi baru yang menyeluruh. Dia mengatakan bahwa AS lebih memilih menerapkan tekanan ekonomi maksimal daripada melancarkan kembali operasi militer berskala besar, dikutip dari Times of India.

Rencana tersebut muncul saat AS dan Iran masih berselisih mengenai Selat Hormuz. Presiden AS, Donald Trump, bersikeras bahwa jalur perairan tersebut harus tetap terbuka dan menyebut blokade laut AS telah efektif. Sementara itu, Teheran mengaitkan pembukaan kembali jalur perairan tersebut dengan sejumlah tuntutan, termasuk pencabutan blokade dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.

1. AS desak China bantu Washington buka kembali Selat Hormuz

ilustrasi Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Bessent mendesak China, yang merupakan pembeli minyak terbesar Iran, untuk mendukung upaya Washington membuka kembali Selat Hormuz. Pejabat keuangan AS itu mengatakan bahwa sekitar 50 persen pasokan energi Negeri Tirai Bambu berasal dari kawasan Teluk, sehingga Beijing dinilai akan mendapat keuntungan besar jika jalur tersebut kembali dibuka.

Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler pada 2025, China membeli lebih dari 80 persen dari ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz. Apabila Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan Beijing yang berhubungan dengan Teheran, dampaknya dapat meluas ke perdagangan minyak global.

Meski demikian, Beijing menolak pendekatan yang ditawarkan Washington. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan bahwa sanksi dan tekanan tidak akan membantu menyelesaikan konflik. Beijing menyerukan agar pihak-pihak terkait mengambil langkah bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah melalui jalur politik serta diplomasi.

2. Trump luncurkan kampanye untuk lumpuhkan ekonomi Iran

Presiden AS, Donald Trump. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Pernyataan Bessent disampaikan sehari setelah Trump mengumumkan operasi ekonomi yang disebut sebagai operasi paling melumpuhkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun. Kampanye tersebut menyasar berbagai sumber perekonomian Iran, termasuk jaringan penyelundupan minyak, transfer keuangan, perusahaan penukaran mata uang, registrasi kapal, dan perusahaan cangkang.

Trump meminta sekutu Washington untuk bergabung dalam kampanye yang disebutnya "ECONOMIC D-DAY" untuk mengisolasi Teheran. Pemimpin Negeri Paman Sam itu telah berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir.

Sehari sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) juga mengumumkan akan memutus seluruh hubungan finansial dan ekonomi dengan Iran menyusul ancaman rudal baru dari Teheran. Banyak entitas Iran diketahui telah lama menggunakan sistem keuangan Dubai untuk mentransfer uang melalui perusahaan penukaran mata uang dan perusahaan cangkang, dilansir BBC.

3. Iran menentang keras tekanan ekonomi Washington

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Teheran menolak keras kampanye tekanan ekonomi yang dilancarkan Washington. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Trump menggunakan kebijakan tersebut untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang sedang dihadapi AS, termasuk meningkatnya utang dan biaya bunga.

Araghchi memperingatkan bahwa peningkatan tekanan melalui sanksi justru akan membawa lebih banyak kekalahan. Upaya tersebut juga dinilai akan memperbesar permusuhan rakyat Iran terhadap Washington.

Konfrontasi antara AS dan Iran juga mulai berdampak pada pasar minyak global. Harga minyak naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu pada Kamis (20/8/2026). Meski demikian, Bessent mengatakan dirinya menilai pasar telah salah memahami signifikansi tekanan ekonomi terbaru yang diberikan Washington terhadap Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article