Rudal Balistik Picu UEA Setop Seluruh Perdagangan dan Transaksi dengan Iran

- UEA menghentikan seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran setelah mendeteksi dua rudal balistik dari Iran yang jatuh di perairan tanpa korban atau kerusakan.
- Warga UEA menerima peringatan darurat untuk berlindung, sementara Iran membantah peluncuran rudal dan menilai tuduhan tersebut tanpa bukti serta berpotensi memperbesar ketegangan regional.
- Insiden ini mengganggu pemulihan hubungan UEA-Iran dan memperburuk keamanan Selat Hormuz, di tengah serangan kapal, tuntutan Iran, blokade AS, serta peningkatan kesiagaan militer UEA.
Jakarta, IDN Times – Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, serta transaksi keuangan dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan tersebut diambil setelah sistem pertahanan udara UEA mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran pada Selasa (18/8/2026).
Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Al Hameli mengonfirmasi keputusan tersebut.
“Mengingat eskalasi regional... semua perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran telah dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tegas Hameli, dikutip NDTV.
Menurut analisis Kementerian Pertahanan UEA, dua rudal itu mengarah ke navigasi maritim di wilayah perairan. Satu rudal jatuh di luar perairan teritorial, sedangkan satu lainnya mendarat di wilayah laut UEA tanpa menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan material.
Table of Content
1. Warga UEA menerima peringatan serangan

ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/SpaceX) Ancaman tersebut membuat warga UEA menerima peringatan darurat melalui telepon dari Kementerian Dalam Negeri pada Selasa (18/8/2026). Mereka diminta berlindung di bangunan terdekat sebelum instruksi itu dicabut, sekaligus menjadi peringatan resmi pertama setelah alarm palsu pada Juni serta ancaman luaran pada Juli dan awal Mei.
Pemerintah Iran membantah tuduhan yang disampaikan otoritas Emirat tersebut. Dilansir Times of India, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menolak secara kategoris klaim tersebut.
“Perilaku ini bertentangan dengan prinsip bertetangga yang baik dan mengganggu upaya yang sedang berlangsung untuk memperkuat kepercayaan di antara negara-negara regional dan mencegah eskalasi ketidakamanan di kawasan,” kata Baqaei.
Baqaei juga meminta negara-negara tetangga menghentikan tindakan yang dapat memicu ketegangan. Permintaan tersebut disampaikan terkait tuduhan yang dinilai disampaikan tanpa bukti.
2. Hubungan UEA-Iran alami kemunduran

Bendera Uni Emirat Arab (pexels.com/Suji Su) Insiden tersebut mengganggu upaya pemulihan hubungan UEA dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Sebelum nota kesepahaman berlaku pada Juni, UEA sempat dihantam hampir 3 ribu rudal dan pesawat nirawak (drone), menjadi intensitas serangan tertinggi di kawasan Teluk sebelum kesepakatan tersebut runtuh.
Gencatan senjata yang berlangsung singkat sempat membawa perubahan pada aktivitas ekonomi kedua negara. Pelabuhan Iran mulai kembali beroperasi, penerbangan komersial berjalan secara terbatas, aktivitas perbankan kembali meramaikan pusat keuangan Dubai, dan sekitar 20 ribu warga Iran kembali diizinkan pulang ke UEA.
3. Selat Hormuz hadapi ancaman keamanan

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Eskalasi di darat turut berdampak pada keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi lokasi sejumlah serangan terhadap kapal tanker milik perusahaan minyak negara ADNOC. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Iran menuntut pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset yang diblokir, serta penghentian operasi militer Amerika Serikat (AS) sebelum jalur perdagangan tersebut kembali dibuka.
Situasi di perairan Teluk juga meningkat setelah sejumlah serangan terhadap kapal kargo dilaporkan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) dan Associated Press. Insiden tersebut meliputi kerusakan mesin kapal di lepas pantai Oman serta kehancuran total kapal kargo di perairan Mokha, Yaman.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pembersihan ranjau laut telah selesai dan Selat Hormuz tetap beroperasi dalam pemantauan blokade AS. Di tengah situasi tersebut, militer UEA memilih meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi potensi ancaman lanjutan terhadap kedaulatan negaranya.
Ketegangan maritim ini turut menyeret Oman ke dalam perselisihan setelah Trump mengancam negara tersebut terkait rancangan kesepakatan tata kelola Selat Hormuz bersama Iran. Meski Mesir mendukung negosiasi Iran-Oman sebagai jalan menuju dialog komprehensif, Trump menegaskan tidak ada rencana pembicaraan langsung dengan Iran dan memilih mempertahankan blokade penuh di jalur strategis tersebut.




















