Jakarta, IDN Times - Australia resmi mengamankan kesepakatan senilai 736 juta dolar Australia (sekitar Rp9,2 triliun) untuk membeli rudal jarak jauh dari Amerika Serikat (AS), guna memperkuat armada jet tempurnya. Pengumuman ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Australia, Richard Marles, pada 6 Agustus 2026 di Darwin. Langkah ini menjadikan Negeri Kanguru sebagai negara pertama di luar AS yang diizinkan mengoperasikan rudal taktis canggih gabungan AIM-260 buatan Lockheed Martin.
"Rudal udara-ke-udara generasi baru tersebut akan dipasang di semua pesawat tempur kami. Yaitu, Super Hornet, Growler, dan F-35 milik Angkatan Udara Australia," kata Marles.
Meski Marles menegaskan bahwa amunisi ini akan segera dioperasikan, ia tidak merinci jadwal pasti pengiriman maupun alasan mengapa nilai pembelian akhir ini jauh lebih kecil daripada paket penjualan senilai 3,16 miliar dolar AS (Rp56,1 triliun) yang sempat disetujui Kongres AS pada Maret lalu. Saat itu, Washington menyatakan bahwa Canberra telah meminta 450 rudal dalam paket yang juga mencakup layanan pengujian, dilansir The Straits Times.
