ilustrasi Islandia, Eropa, kapal laut, perairan, perikanan, pelabuhan (pexels.com/ArtHouse Studio)
Penolakan Islandia tentu menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi Brussel, terutama karena Uni Eropa ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap menarik bagi negara-negara Eropa yang makmur dan stabil. Sebelumnya, keberhasilan menarik Islandia bisa menjadi bukti bahwa Uni Eropa bukan hanya tujuan bagi negara yang membutuhkan bantuan ekonomi atau reformasi institusi. Namun, Christine Leuchtenmüller dari Konrad-Adenauer-Stiftung mengingatkan bahwa kasus Islandia sangat spesifik karena dipengaruhi sejarah panjang mengenai perikanan dan kedaulatan.
Akhvlediani juga melihat Islandia sebagai kasus khusus, tapi tetap ada pelajaran yang bisa diambil Uni Eropa. Menurutnya, integrasi ekonomi yang sudah dalam gak otomatis membuat masyarakat ingin masuk ke integrasi politik yang lebih jauh. Karena itu, Brussels perlu menjelaskan secara lebih jelas apa keuntungan tambahan yang akan diterima sebuah negara jika menjadi anggota, mulai dari pengaruh dalam pengambilan keputusan sampai posisi strategis dalam keamanan Eropa. Dengan kata lain, Uni Eropa gak cukup hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan negara kandidat untuk bergabung, tapi juga harus menunjukkan apa yang akan mereka dapatkan setelah menjadi anggota.
Pada akhirnya, keputusan Islandia memperlihatkan bahwa keanggotaan Uni Eropa gak selalu menjadi pilihan otomatis bagi negara yang sudah kaya dan stabil. Ketika sebuah negara sudah memiliki akses pasar, kerja sama keamanan, dan berbagai hubungan ekonomi dengan Uni Eropa, manfaat tambahan dari keanggotaan penuh harus benar-benar terasa.
Bagi Islandia, menjaga kendali atas perikanan dan kedaulatan nasional ternyata lebih penting daripada mendapatkan kursi di institusi Uni Eropa. Jadi, kalau kamu melihat peta politik Eropa, persoalannya gak sesederhana negara mana yang pro atau kontra terhadap Uni Eropa, melainkan seberapa besar mereka merasa perlu memiliki pengaruh dari dalam dibandingkan mempertahankan kendali dari luar.