Referendum, Warga Islandia Tolak Gabung Jadi Anggota Uni Eropa

- Mayoritas warga Islandia menolak bergabung dengan Uni Eropa melalui referendum: 52,8 persen menolak negosiasi, sementara 47,2 persen mendukung, dengan partisipasi pemilih mencapai 82,5 persen.
- Perdana Menteri Kristrun Frostadottir menyatakan Islandia akan tetap meningkatkan hubungan dengan Uni Eropa melalui kerja sama European Economic Area, tanpa menjadi anggota blok tersebut.
- Uni Eropa menghormati keputusan referendum dan tetap menganggap Islandia sebagai mitra penting; negara itu sebelumnya mengajukan kandidat keanggotaan pada 2009 setelah krisis finansial.
Jakarta, IDN Times - Warga Islandia akhirnya memilih untuk tidak bergabung menjadi anggota Uni Eropa (UE) pada Minggu (30/8/2026). Langkah ini menyusul hasil referendum yang mayoritas dari warga menolak menjadi anggota UE.
Beberapa tahun terakhir, negara Arktik tersebut diperdebatkan soal rencana bergabung dengan UE. Namun, hasil referendum ini berbeda dari prediksi yang disebut akan mendukung dialog keanggotaan UE.
1. Islandia akan berfokus memperkuat hubungan EEA

ilustrasi bendera Islandia (pexels.com/koen-swiers) Perdana Menteri Islandia, Kristrun Frostadottir mengatakan bahwa Islandia akan berfokus meningkatkan hubungan dengan UE meski tidak jadi bagian dari blok Eropa tersebut. Islandia akan memperkuat kerja sama lewat European Economic Area (EEA).
“Pelajaran besar bagi saya dan juga pemerintah adalah warga bahagia dengan persetujuan EEA,” tuturnya, dikutip dari CNN.
Sesuai hasil dari referendum, 52,8 persen pemilih menolak negosiasi dengan UE. Sedangkan 47,2 persen warga menyetujuinya dan diketahui 82,5 persen dari seluruh pemegang hak pilih mengikuti proses pemungutan suara.
2. UE hormati keputusan Islandia

ilustrasi bendera Uni Eropa (unsplash.com/christianlue) Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa mengaku akan menghormati keputusan sesuai hasil referendum di Islandia. Menurutnya, apapun hasilnya, Islandia akan tetap menjadi rekan penting bagi Brussels.
Dilansir Democrata, Costa sudah berbicara dengan PM Islandia tersebut hasil referendum tersebut. Ia pun menekankan bahwa UE akan menghargai segala keputusan demokratik dari rakyat Islandia yang disampaikan lewat referendum tersebut.
3. Islandia sudah mendaftar sebagai kandidat anggota UE sejak 2009

ilustrasi bendera Uni Eropa (unsplash.com/alexart251) Islandia pertama kali mendaftar untuk bergabung menjadi anggota UE pada 2009. Keputusan itu didorong oleh krisis finansial yang dialami negara kecil tersebut saat itu dan berdampak besar pada ekonominya.
Menurut pakar dari Universitas Islandia, Vilborg Asa Gudjonsdottir, tingginya gaji berhasil mengentaskan dampak ekonomi dari mayoritas warga Islandia. Selain itu, tidak ada urgensi dari Islandia untuk bergabung dalam UE.





















