Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Brasil Tolak Intervensi Asing usai Rencana Kunjungan Pejabat AS
ilustrasi bendera Brasil (unsplash.com/fdantas)
  • Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menolak intervensi asing menjelang pilpres Brasil, saat ia kembali maju dan akan menghadapi kandidat sayap kanan Flavio Bolsonaro.
  • Lula menilai Brasil negara berdaulat yang tak menerima tekanan luar, setelah pencabutan visa dua pejabat Kemlu AS yang diduga berkunjung dengan tujuan politik.
  • Lula mengkritik tarif AS 12,5 persen atas impor Brasil dan tudingan kerja paksa, sementara Trump mendukung Flavio Bolsonaro di tengah ketegangan bilateral.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva menolak segala bentuk intervensi asing jelang pemilihan presiden (pilpres) di negaranya. Ia menyebut segala bentuk intervensi akan berujung pada kekalahan. 

“Kepada siapapun dari luar yang berniat mengintervensi pilpres Brasil, saya peringatkan Anda akan menerima kekalahan telak dalam pilpres nanti,” tuturnya, dikutip dari Democrata, Selasa (28/7/2026). 

Menjelang pemilihan umum (pemilu) di Brasil, kondisi politik mulai memanas. Lula yang mencalonkan kembali akan menghadapi calon sayap kanan Flavio Bolsonaro, yang merupakan anak eks Presiden Brasil, Jair Bolsonaro. 

1. Lula sebut Brasil tidak menerima tekanan dari luar

Presiden Brasil, Lula da Silva. (REPÚBLICA DE COLOMBIA, Public domain, via Wikimedia Commons)

Lula menekankan bahwa Brasil adalah negara berdaulat yang tidak akan menerima segala bentuk tekanan dari luar maupun manuver dari dalam. Ia menyebut bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki inisiatif untuk mengintervensi pemilu di Brasil. 

Pernyataan ini menyusul pencabutan visa kepada Sekretaris Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS untuk Demokrasi, Riley Barnes dan Wakil Sekretaris Kemlu AS, Samuel Samson. Keduanya diduga berkunjung dengan objek politik. 

2. Lula tuding AS memanipulasi HAM untuk menjustifikasi tarif

ilustrasi bendera Brasil (unsplash.com/samuelcm)

Pekan lalu, Lula mengkritik AS yang menetapkan tarif bea masuk ke 60 negara, termasuk Brasil. Menurutnya, perilaku Presiden AS, Donald Trump memanipulasi alasan hak asasi manusia (HAM) untuk menjustifikasi tarif kepada negara lain dengan alasan adanya kerja paksa. 

Presiden Brasil itu menolak keputusan AS untuk menetapkan tarif sebesar 12,5 persen kepada produk impor asal Brasil. Ia memastikan bahwa Brasil mengikuti aturan dari International Labour Organization (ILO) dan berkomitmen dalam pemberantasan kerja paksa. 

3. Trump mendukung pencalonan Flavio Bolsonaro

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Bolsonaro dikenal sebagai teman dekat Trump. Bahkan, keluarga Bolsonaro dikenal memiliki hubungan dengan pemerintahan AS. Pada Mei, Flavio dan saudaranya Eduardo sudah berkunjung ke Washington dan bertemu dengan Trump. 

Dilansir Deutsche Welle, hubungan AS dan Brasil sempat memanas dalam beberapa bulan terakhir. Ketegangan disebabkan oleh penetapan dua geng kriminal terbesar di Brasil dalam organisasi teroris di AS yang dipandang sebagai intervensi urusan dalam negeri. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article