Jakarta, IDN Times – Chad mengumumkan rencananya untuk keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Senin (27/7/2026). Pihaknya menilai efektivitas pengadilan internasional tersebut terbatas dan tidak merata, serta terlalu berfokus pada penanganan kasus-kasus yang melibatkan negara-negara Afrika.
Pemerintah Chad menyebut bahwa dari 13 penyelidikan yang dibuka oleh ICC, sembilan di antaranya berkaitan dengan negara-negara Afrika. Sebaliknya, hanya empat penyelidikan yang dilakukan di kawasan lain tanpa menghasilkan kemajuan yang berarti. Selain itu, dari tujuh orang yang saat ini ditahan, enam di antaranya menjalani proses hukum dalam perkara yang berasal dari Afrika.
Dikutip dari Anadolu, Juru Bicara Pemerintah, Gassim Cherif, mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari visi yang lebih luas di tingkat Pan-Afrika. Pihaknya meyakini bahwa pengadilan yang bermarkas di Den Haag tersebut telah menjadi alat dominasi dan instrumen neokolonialisme.
Chad menjadi negara kelima dalam beberapa bulan terakhir yang memulai proses penarikan diri dari ICC. Sebelumnya, Venezuela serta pemerintahan militer di Burkina Faso, Mali, dan Niger telah mengambil langkah serupa. Sementara itu, Burundi dan Filipina telah lebih dahulu resmi meninggalkan pengadilan tersebut.
