China Kecam Rencana AS Tempatkan Rudal Typhon di Area Jepang

Amerika Serikat berencana menempatkan sistem rudal jarak menengah Typhon di Pangkalan Udara Kanoya, Jepang, untuk latihan gabungan dengan Pasukan Bela Diri Jepang pada Juni–September 2026.
China mendesak AS serta Jepang meninjau ulang kebijakan militernya demi menjaga perdamaian regional.
China juga menyoroti tanda-tanda remiliterisasi Jepang yang dinilai menjauh dari prinsip pasifis, serta memperingatkan potensi munculnya kembali neo-militarisme yang dapat memicu ketegangan baru di Asia.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) berencana membawa sistem rudal jarak menengah Typhon ke Jepang dan memicu reaksi keras dari China. Berdasarkan rangkuman sejumlah media regional, militer AS menjadwalkan pengiriman sistem rudal tersebut ke Pangkalan Udara Kanoya di Prefektur Kagoshima.
Pengerahan itu disiapkan untuk mendukung latihan gabungan antara AS dan Pasukan Bela Diri Jepang pada Juni hingga September 2026 sebelum dipindahkan ke pangkalan militer AS lain di negara tersebut. Menanggapi rencana itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun pada Jumat (22/5/2026) menyampaikan penolakan tegas terhadap penempatan rudal jarak menengah AS di negara-negara Asia.
1. China menilai sistem Typhon mengancam kawasan

Dalam konferensi pers rutin di Beijing, Jiakun menjelaskan China memandang proyek militer AS dan Jepang itu berbahaya bagi stabilitas kawasan. Menurutnya, sistem rudal Typhon dikategorikan sebagai senjata ofensif strategis yang dapat memicu dampak berantai di Asia.
“Senjata ofensif strategis yang merusak kepentingan keamanan sah negara lain, mengancam keamanan strategis regional, serta meningkatkan risiko konfrontasi militer dan perlombaan senjata,” jelas Jiakun di hadapan media, dikutip China Daily.
Selain itu, Jiakun menyebut langkah tersebut tak membawa dampak positif selain memperbesar ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas regional. Ia juga mengatakan banyak masyarakat di Asia, termasuk warga Jepang, telah lama menyampaikan penolakan terhadap rencana militer tersebut.
2. China mendesak AS mengevaluasi kebijakan militer

Pemerintah China meminta AS dan Jepang meninjau ulang kebijakan militer mereka di Asia Timur di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Beijing juga meminta kedua negara mempertimbangkan stabilitas jangka panjang di kawasan regional.
Melalui pernyataan resminya, Jiakun mendesak Washington dan Tokyo mendengarkan kekhawatiran negara-negara di kawasan. Ia turut meminta AS dan Jepang memperbaiki langkah yang dianggap keliru serta mengambil tindakan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
3. China menyoroti remiliterisasi Jepang

China turut menyoroti perubahan kebijakan pertahanan Jepang yang dinilai mulai menjauh dari prinsip pasifis negara tersebut. Menurut pandangan geopolitik Beijing, rencana pengerahan rudal itu menjadi tanda percepatan remiliterisasi Jepang.
Jiakun menyebut terdapat kelompok sayap kanan di Jepang yang disebut berupaya mengubah postur pertahanan negara itu secara menyeluruh. Ia juga mengindikasikan kelompok tersebut sedang menyiapkan kemampuan militer Jepang untuk menghadapi skenario “perang jangka panjang” atau “perang berkepanjangan”.
Menurut China, restrukturisasi militer Jepang berpotensi mengikis pembatasan dalam Konstitusi Pasifik Jepang, hukum internasional, dan aturan domestik mereka sendiri. Beijing juga menilai langkah tersebut menantang tatanan internasional pasca-Perang Dunia II serta bertolak belakang dengan citra Jepang sebagai negara pencinta perdamaian, dilansir Global Times.
Jiakun menjelaskan bahwa “Neo-militarisme” di Jepang bisa menjadi pemantik baru konflik pada masa depan. China juga mengajak masyarakat internasional mempelajari sejarah masa lalu, menjaga kewaspadaan, dan bekerja sama untuk meredam tren militeristik tersebut.

















