Jakarta, IDN Times - Pemerintah China mengecam keras ancaman secondary sanctions atau sanksi sekunder dari Amerika Serikat (AS) yang menargetkan negara-negara mitra dagang Iran, khususnya dalam sektor transaksi minyak bumi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan pada Selasa (25/8/2026) bahwa pemerintahnya akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan nasional mereka.
Pernyataan tegas ini dikeluarkan Beijing menyusul pengumuman Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Senin (24/8/2026) mengenai kampanye pengetatan sanksi ekonomi berskala besar untuk mengisolasi Iran. Langkah AS tersebut memicu ketegangan baru mengingat China merupakan pembeli terbesar minyak Iran, dengan porsi mencapai sekitar 80 persen dari total ekspor minyak negara Timur Tengah itu.
