Demo Siswa SMA di Prancis Berakhir Bentrok, 440 Orang Ditahan

- Demo pelajar SMA di berbagai kota Prancis berujung bentrokan, dengan pemblokiran sekolah, pembakaran, pelemparan benda keras, serta perusakan fasilitas publik.
- Siswa berusia 15–18 tahun memprotes ruang kelas panas, jam belajar panjang, kekurangan guru dan staf, kelas berkapasitas hingga 35 murid, serta ketimpangan fasilitas.
- Sebanyak 400 dari 3.700 SMA terdampak, sedikitnya 10 siswa dan staf terluka, sementara polisi mengamankan 440 orang dan dua pertiganya ditahan untuk pemeriksaan.
Jakarta, IDN Times - Aksi unjuk rasa pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis berujung bentrokan dengan aparat kepolisian pada Selasa (29/9/2026). Kerusuhan berskala nasional tersebut memicu ketegangan di ratusan sekolah serta mengganggu ketertiban umum.
Ribuan peserta aksi memblokir akses masuk ke sejumlah lembaga pendidikan di beberapa kota. Aparat kepolisian bergerak cepat membubarkan massa untuk memulihkan situasi keamanan di wilayah yang terdampak.
1. Bentrokan fisik dan pemblokiran gerbang sekolah di berbagai kota
Di Kota Lille, ratusan siswa bertopeng membakar tempat sampah dan melempari petugas menggunakan batu bata, yang memicu balasan tembakan gas air mata dari polisi. Kericuhan serupa meluas ke Marseille dan Lyon akibat aksi massa yang menimbun sampah di gerbang sekolah.
Aksi pelemparan benda keras juga terjadi di Nantes dan Rennes sehingga polisi harus membentuk barisan pengaman. Situasi makin memanas setelah petugas mencatat tujuh insiden pelemparan cairan asam serta aksi perusakan fasilitas publik, seperti halte bus dan papan iklan.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengecam keras aksi brutal tersebut.
"Tidak ada alasan yang membenarkan datang ke sekolah dengan penutup wajah, membawa senjata lempar, dan sengaja menunggu polisi untuk diserang," tegas Nuñez, dilansir CTV News.
2. Tuntutan perbaikan ruang kelas dan beban belajar siswa

Ilustrasi sekolah di Prancis akan ditutup sampai 26 April. Sumber:unsplash.com/MChe Lee Para demonstran berusia 15 hingga 18 tahun tersebut memilih mogok belajar sebagai bentuk protes atas buruknya fasilitas sekolah. Mereka mengeluhkan kondisi ruang kelas yang sangat panas akibat gelombang panas pada 2026, ditambah jam belajar yang panjang di tengah krisis jumlah tenaga pengajar.
Lambatnya penunjukan guru pengganti membuat kapasitas kelas membengkak hingga dihuni 35 murid. Kondisi ini diperparah oleh minimnya staf bimbingan dan pengawas yang mengganggu kenyamanan proses belajar harian.
Selain itu, ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah pinggiran berpenghasilan rendah turut memicu kemarahan para siswa.
"Kami, anak-anak dari daerah pinggiran kota, merasa ditelantarkan dan diabaikan oleh pemerintah," keluh seorang siswi sekolah menengah, Victoire.
3. Penahanan ratusan demonstran

ilustrasi demonstrasi (pexels/Kelly Lacy) Kementerian Pendidikan mencatat sebanyak 400 dari 3.700 sekolah menengah di seluruh Prancis terdampak oleh aksi unjuk rasa ini. Gelombang protes tersebut mengakibatkan sedikitnya 10 siswa dan staf sekolah mengalami luka-luka.
Aparat kepolisian mengamankan 440 orang di berbagai wilayah. Dari total penangkapan tersebut, dua pertiga di antaranya resmi menjalani proses penahanan kepolisian untuk pemeriksaan hukum lebih lanjut.
Pemerintah mengatakan akan menindak tegas para pelaku perusakan fasilitas publik. Menteri Pendidikan Nasional, Édouard Geffray, menilai aksi pemblokiran telah merampas hak siswa lain untuk belajar.
"Mendukung aksi kekerasan atau memperluas blokade sama saja membahayakan para siswa dan petugas kita, hal itu sangat tidak bertanggung jawab," tegas Geffray.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















