Dua Penembakan Massal di Afrika Selatan Tewaskan 27 Orang

- Dua penembakan massal di Wedela dan Lwandle, Afrika Selatan, menewaskan sedikitnya 27 orang serta melukai lebih dari 20 orang pada akhir pekan.
- Polisi memburu pelaku yang kabur, mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi; pemerintah mengerahkan militer untuk patroli di titik rawan kriminal.
- Afrika Selatan mencatat lebih dari 22.700 korban pembunuhan dalam 12 bulan hingga Juni, dengan kekerasan dipicu geng narkoba, pemerasan, dan tambang ilegal.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 27 orang tewas dan lebih dari 20 orang terluka dalam dua penembakan massal di Afrika Selatan pada akhir pekan. Dua peristiwa tersebut terjadi di kota praja Wedela dekat Johannesburg dan Lwandle dekat Cape Town. Aparat kepolisian setempat masih memburu seluruh pelaku yang kabur dari lokasi penembakan.
Polisi belum membeberkan motif penyerangan di kedua tempat hiburan tersebut. Tragedi ini memperpanjang catatan kejahatan bersenjata yang kerap menghantui kawasan permukiman miskin di Afrika Selatan.
1. Kronologi penembakan di Wedela dan Lwandle

ilustrasi polisi (unsplash.com/Kenny Eliason) Penembakan pertama terjadi pada Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 21.30 waktu setempat di sebuah kedai minum di Wedela, barat daya Johannesburg. Sebanyak delapan pria bersenjata menyerang warga yang berkumpul di luar kedai, lalu menerobos masuk untuk melanjutkan tembakan. Aksi tersebut menewaskan 17 orang, terdiri dari 13 pria dan empat perempuan, serta melukai 15 orang lainnya.
"Pelaku menggunakan senapan AK-47 dan pistol. Mereka diduga menggeledah sejumlah pengunjung dan mengambil ponsel sebelum melarikan diri dengan dua mobil," kata juru bicara kepolisian Gauteng Kapten Tintswalo Sibeko, dilansir The Guardian.
Penembakan kedua terjadi di sebuah kedai daging panggang di Lwandle, pinggiran Cape Town, pada Minggu sekitar pukul 01.46 dini hari. Sekelompok orang bersenjata masuk ke dalam kedai tersebut dan langsung menembaki para pengunjung. Lima orang tewas di lokasi kejadian dan lima lainnya meninggal di rumah sakit, sementara 11 orang luka-luka.
Dua insiden berdarah ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah penembakan massal di KwaMakhutha, dekat Durban. Dalam pesta rumah tersebut, tiga pria bersenjata membunuh 11 orang, termasuk seorang perempuan yang sedang hamil.
2. Polisi buru pelaku dan pemerintah kerahkan militer

ilustrasi baku tembak (unsplash.com/Taiwangun) Layanan Kepolisian Afrika Selatan langsung menggelar operasi pencarian besar-besaran untuk menangkap seluruh pelaku. Kepolisian Gauteng membuka 17 kasus pembunuhan, 15 percobaan pembunuhan, dan dua kasus perusakan barang. Sementara itu, kepolisian Western Cape menugaskan tim khusus tindak pidana kekerasan berat untuk menangani kasus di Lwandle.
Tim forensik bersama aparat keamanan telah mengamankan lokasi kejadian guna mengumpulkan barang bukti dan memintai keterangan saksi. Pihak berwenang menunda pengumuman identitas para korban hingga seluruh keluarga inti menerima kabar duka secara resmi. Hingga kini, belum ada penangkapan terhadap para pelaku.
Merespons lonjakan kekerasan senjata api, pemerintah Afrika Selatan mengerahkan pasukan militer untuk membantu operasi penegakan hukum. Tentara ditugaskan berpatroli di titik-titik rawan kriminal guna membongkar jaringan geng bersenjata.
"Kejahatan terorganisir adalah ancaman paling langsung bagi demokrasi, masyarakat, dan pembangunan ekonomi kita," kata Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dilansir CNN.
3. Rata-rata 58 orang tewas dibunuh setiap hari di Afrika Selatan

ilustrasi bendera Afrika Selatan. (unsplash.com/Den Harrson) Afrika Selatan tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia. Laporan resmi kepolisian menunjukkan lebih dari 22.700 orang tewas dibunuh dalam rentang 12 bulan hingga akhir Juni lalu. Selain itu, rata-rata 58 orang tewas terbunuh setiap hari di seluruh penjuru negeri sepanjang triwulan pertama tahun ini.
Tingginya angka kekerasan tersebut dipicu persaingan antargeng narkoba, aksi pemerasan, dan aktivitas tambang ilegal. Berdasarkan laporan Indeks Kejahatan Terorganisir Afrika 2025, Afrika Selatan menjadi jalur transit utama penyelundupan kokain asal Amerika Selatan.
Kondisi keamanan kian mencekam menyusul maraknya kasus pembunuhan terhadap perempuan di sekitar Johannesburg. Polisi menemukan jenazah 10 perempuan yang dibuang di lahan terbuka dan tepi jalan sejak Juli lalu. Meski mendapati kemiripan pola pada beberapa lokasi penemuan, polisi belum menyimpulkan apakah kasus-kasus tersebut melibatkan pelaku yang sama.
Rangkaian temuan jenazah itu memicu protes keras dari masyarakat serta aktivis perlindungan perempuan. Publik mendesak pemerintah mengambil langkah nyata mengatasi darurat kekerasan berbasis gender yang tak kunjung teratasi.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















