Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Marak Pembunuhan, Perempuan Afrika Selatan Persenjatai Diri

3 min read
Marak Pembunuhan, Perempuan Afrika Selatan Persenjatai Diri
ilustrasi perempuan berlari (unsplash.com/Patti Black)
  • Sembilan jenazah perempuan, termasuk seorang pelari, ditemukan di East Rand, Johannesburg, dalam dua bulan terakhir, memicu ketakutan dan peningkatan langkah perlindungan diri.
  • Perempuan di Johannesburg hingga Cape Town mengubah rutinitas, menghindari rute sepi, berbagi lokasi, serta membawa semprotan merica atau benda lain untuk membela diri.
  • Presiden Cyril Ramaphosa menyebut penderitaan perempuan sebagai aib nasional, sementara panggilan darurat kekerasan berbasis gender meningkat 21 persen pada 1–16 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serangkaian pembunuhan perempuan di Johannesburg telah memicu ketakutan di kalangan warga Afrika Selatan. Para pelari perempuan kini mulai membawa pisau dan semprotan merica untuk melindungi diri dari aksi kejahatan.

Nancy Masha termasuk di antara mereka yang mengambil langkah pencegahan ekstra tersebut setelah sembilan jenazah perempuan, termasuk seorang pelari, ditemukan di kawasan East Rand, Johannesburg, dalam 2 bulan terakhir. Beberapa korban ditemukan dalam kondisi setengah telanjang dan terluka.

"Pelari kami tewas dibunuh secara kejam. Saya butuh cara untuk melindungi diri karena saya seorang perempuan dan juga pelari," ujar Masha, seorang pelari berusia 39 tahun, dikutip France24.

  1. 1. Banyak perempuan terpaksa harus mengubah rutinitas demi keamanan

    seorang perempuan melakukan jogging
    seorang perempuan melakukan jogging (unsplash.com/McCarthy Beckan)

    Chulumanco Mahamba juga telah mengurangi frekuensi jalan kaki menjadi hanya 2 kali seminggu usai serangkaian kasus pembunuhan tersebut. Selain membawa semprotan merica, ia kini menghindari rute yang sepi dan membagikan lokasi terkini kepada orang-orang terdekatnya sebelum meninggalkan rumah.

    "Rasanya tidak adil bahwa kami harus mengubah rutinitas kami, tetapi saya memang merasa lebih aman saat membawa semprotan merica," kata perempuan berusia 31 tahun tersebut.

    Bahkan di Cape Town, yang berjarak sekitar 1.400 kilometer jauhnya dari Johannesburg, para perempuan juga mengubah rutinitas mereka setelah serangkaian pembunuhan tersebut. Andiswa Siwela, seorang pembuat film sekaligus pelari dan pendaki gunung, mengatakan bahwa kasus-kasus tersebut membuatnya menjadi lebih waspada terhadap orang asing. Ia mengaku selalu membawa semprotan merica dan kunci mobilnya sebagai senjata untuk membela diri.

    "Kami ingin bebas. Kami ingin melakukan berbagai hal tanpa rasa takut; kami ingin menjalani hidup," ujarnya.

  2. 2. Presiden Afsel sebut kejahatan terhadap perempuan sebagai aib nasional

    bendera Afrika Selatan (unsplash.com/Den Harrson)
    bendera Afrika Selatan (unsplash.com/Den Harrson)

    Penemuan sembilan jenazah perempuan tersebut telah memicu aksi protes dan doa bersama di berbagai wilayah Afrika Selatan. Ratusan orang hadir untuk mengenang para korban dan mendesak adanya tindakan untuk melindungi perempuan.

    Sejauh ini, sedikitnya tiga orang telah ditangkap terkait kasus pembunuhan tersebut, meskipun polisi belum menyatakan bahwa kasus-kasus itu saling berkaitan. Meski demikian, penangkapan tersebut belum dapat sepenuhnya meredakan kekhawatiran masyarakat.

    Pada Kamis (24/9/2026), Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengatakan bahwa rasa sakit dan penderitaan yang dialami perempuan Afrika Selatan merupakan aib nasional.

    “Perempuan Afrika Selatan berhak berjalan di jalan-jalan di negara mereka kapan pun tanpa rasa takut," ujarnya.

  3. 3. Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius di Afrika Selatan

    ilustrasi kejahatan (unsplash.com/Ari Spada)
    ilustrasi kejahatan (unsplash.com/Ari Spada)

    Kekerasan berbasis gender masih marak terjadi di Afrika Selatan, meskipun pemerintah telah bertahun-tahun berjanji untuk mengatasi masalah tersebut dan menetapkannya sebagai bencana nasional pada tahun lalu.

    Pemerintah mengatakan bahwa Pusat Komando Kekerasan Berbasis Gender yang beroperasi selama 24 jam menerima 6.782 panggilan darurat pada 1–16 September 2026, dengan rata-rata 424 panggilan per hari. Jumlah tersebut meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama pada Agustus.

    Dilansir BBC, kelompok hak asasi manusia, Amnesty International, mengatakan bahwa langkah penting pertama untuk melindungi perempuan di Afrika Selatan adalah mengakui femisida sebagai tindak pidana tersendiri.

    “Setiap hari femisida tidak diakui sebagai tindak pidana merupakan kegagalan dalam menghadapi pembunuhan perempuan yang dilakukan secara sengaja. Sudah waktunya menyebutnya sesuai dengan apa adanya: femisida," kata Direktur Amnesty International Afrika Selatan, Shenilla Mohamed, dalam sebuah pernyataan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More