Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran dan Oman Tunda Pertemuan Bahas Rute Baru Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran dan Oman menunda pertemuan menteri di Salalah untuk membangun konsensus regional, setelah Arab Saudi meminta perubahan draf kesepakatan dan Bahrain menolak hadir.
  • Draf Iran-Oman mengatur pembagian rute kapal dagang di Selat Hormuz, tetapi mekanisme tarif pelayaran masih buntu antara usulan sumbangan sukarela Oman dan pungutan wajib Iran.
  • Penundaan terjadi saat serangan kapal dan gangguan jalur energi meningkat: arus pelayaran Hormuz turun 95 persen, pipa minyak Saudi ditutup, dan harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pertemuan tingkat menteri antara Iran dan negara-negara Teluk yang dijadwalkan berlangsung di Salalah, Oman, resmi ditunda pada Minggu (13/9/2026). Penundaan tersebut disepakati bersama oleh Teheran dan Muscat demi membangun konsensus regional yang lebih kuat.

Pertemuan yang seharusnya digelar pada Senin ini bertujuan untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Konflik di perairan tersebut semakin genting setelah insiden penyerangan kapal niaga terus terjadi.

1. Penundaan pertemuan demi konsensus regional

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Oman mengumumkan bahwa pertemuan di Salalah akan dijadwalkan ulang demi menciptakan kondisi dialog yang konstruktif. Muscat selama ini berperan sebagai mediator utama antara Teheran dan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

"Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama abadi di kawasan kami," kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, dilansir Al Jazeera.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengonfirmasi bahwa penundaan tersebut terjadi atas permintaan Arab Saudi. Riyadh mengajukan sejumlah usulan perubahan terhadap draf kesepakatan yang telah dirumuskan oleh Teheran dan Muscat.

Arab Saudi mengkhawatirkan dampak jangka panjang kesepakatan tersebut terhadap kepentingan negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Hubungan Riyadh dan Teheran juga kembali tegang menyusul dugaan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi.

Di sisi lain, Bahrain telah menolak hadir sejak awal rencana pertemuan digulirkan ke publik. Pemerintah Bahrain menolak berpartisipasi karena belum memulihkan hubungan diplomatik dengan Teheran sejak 2016.

2. Rencana pembagian kendali perairan Selat Hormuz

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pertemuan di Salalah awalnya dirancang untuk mempresentasikan draf kesepakatan teknis antara Iran dan Oman terkait tata kelola di Selat Hormuz. Muscat sebelumnya mengusulkan pembagian kontrol selat yang seimbang demi memastikan kelancaran lalu lintas kapal.

Draf tersebut mengatur pembagian rute pelayaran kapal dagang di wilayah perairan kedua negara. Kapal yang masuk ke Teluk Persia diarahkan melintasi perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar akan melewati perairan Oman dan Iran.

Pembahasan penarikan tarif jasa pelayaran masih menemui jalan buntu antara kedua belah pihak. Oman menghendaki skema sumbangan sukarela bagi kapal yang melintas, sedangkan Iran ingin mewajibkan pungutan biaya resmi.

3. Eskalasi serangan ancam jalur minyak Timur Tengah

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Penundaan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kapal kargo komersial Iran diserang di dekat Pulau Qeshm. Serangan tersebut menewaskan satu orang awak kapal serta melukai empat orang lainnya.

Rentetan insiden di Selat Hormuz sejak akhir Februari telah memangkas arus pelayaran di selat tersebut hingga 95 persen. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah kelompok Houthi merebut kendali Pulau Perim di Selat Bab al-Mandab. Penguasaan pulau strategis di dekat Laut Merah tersebut memicu ancaman baru terhadap dua jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Di sektor darat, Arab Saudi terpaksa menutup pipa minyak timur-barat sepanjang 1.200 kilometer akibat serangan pesawat nirawak (drone). Rangkaian gangguan ini telah mendongkrak harga minyak mentah dunia menembus 100 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article