Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Pemerintah Oman mengumumkan bahwa pertemuan di Salalah akan dijadwalkan ulang demi menciptakan kondisi dialog yang konstruktif. Muscat selama ini berperan sebagai mediator utama antara Teheran dan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.
"Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama abadi di kawasan kami," kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, dilansir Al Jazeera.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengonfirmasi bahwa penundaan tersebut terjadi atas permintaan Arab Saudi. Riyadh mengajukan sejumlah usulan perubahan terhadap draf kesepakatan yang telah dirumuskan oleh Teheran dan Muscat.
Arab Saudi mengkhawatirkan dampak jangka panjang kesepakatan tersebut terhadap kepentingan negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Hubungan Riyadh dan Teheran juga kembali tegang menyusul dugaan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi.
Di sisi lain, Bahrain telah menolak hadir sejak awal rencana pertemuan digulirkan ke publik. Pemerintah Bahrain menolak berpartisipasi karena belum memulihkan hubungan diplomatik dengan Teheran sejak 2016.