Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Ancam Bom Oman jika Halangi Negosiasi AS-Iran

Trump Ancam Bom Oman jika Halangi Negosiasi AS-Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Pesawat Air Force One. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump mengancam Oman jika negara itu dinilai menghalangi negosiasi Washington dengan Iran.
  • Oman dan Iran mencapai kesepahaman mengenai peta rute transit kapal di Selat Hormuz, dengan sejumlah perincian masih difinalisasi.
  • Trump mengklaim memiliki jalur komunikasi dengan IRGC, tetapi klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seberapa penting peran Oman dalam pembicaraan Selat Hormuz?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengebom Oman jika negara tersebut dinilai menghalangi upaya Washington bernegosiasi dengan Iran. Ancaman itu muncul ketika Oman tengah memainkan peran penting dalam pembicaraan dengan Teheran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Ancaman tersebut disampaikan Trump dalam wawancara melalui telepon dengan reporter Fox News, Trey Yingst. Trump disebut menggunakan kata-kata kasar ketika memperingatkan Oman agar tidak menghambat upayanya mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Jika Oman menghalangi, kami akan mengebom mereka habis-habisan,” kata Trump, seperti dari Fox News, Selasa (18/8/2026).

Belum jelas tindakan seperti apa yang akan dianggap Trump sebagai upaya Oman menghalangi ambisi pemerintahannya. Oman sendiri selama ini dipandang sebagai mitra penting AS di kawasan dan menyatakan diri sebagai negara netral dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran.

  1. 1. Oman berperan dalam pembukaan Selat Hormuz

    bendera Oman
    bendera Oman (unsplash.com/ahmed nasser)

    Ancaman Trump muncul ketika Oman dan Iran tengah melakukan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati selat tersebut.

    Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, Teheran sebagian besar memblokir Selat Hormuz. Kondisi tersebut mengganggu jalur pelayaran dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

    Oman memiliki posisi strategis karena wilayahnya berbatasan dengan sisi selatan Selat Hormuz. Negara tersebut juga memainkan peran sebagai mediator antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik meski wilayahnya sendiri dilaporkan mengalami sejumlah serangan dari Iran.

    Pada hari yang sama dengan munculnya ancaman Trump, Iran menyatakan telah mencapai kesepahaman dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan kedua negara telah menyepakati peta rute transit kapal.

    “Telah tercapai kesepahaman mengenai peta rute transit,” kata Baghaei kepada wartawan.

    Menurut Baghaei, Iran dan Oman masih akan memfinalisasi sejumlah perincian sebelum mengeluarkan pernyataan bersama. Sebelumnya, pemerintah Oman juga menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai sesuatu yang positif.

  2. 2. Trump klaim punya jalur dengan IRGC

    Presiden AS Donald Trump saat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One
    Presiden AS Donald Trump saat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran, Trump juga mengklaim Washington memiliki saluran komunikasi langsung atau backchannel dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). IRGC merupakan salah satu kekuatan militer, ekonomi, dan politik utama di Iran. Namun, klaim Trump tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran.

    Seorang juru bicara IRGC mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News, bahwa tidak ada pembicaraan antara pejabat IRGC dan pemerintah AS.

    “Tidak ada pembicaraan yang berlangsung antara pejabat IRGC dan pihak Amerika, dan kebohongan Trump ini hanyalah fantasi yang timbul akibat delusi dan mimpi buruk yang ia alami sebagai dampak dari kekalahan dan keputusasaan dalam perang,” kata juru bicara tersebut.

    Sementara itu, Trump mengatakan dirinya tidak terburu-buru untuk mengakhiri perang dengan Iran. Ia juga mengklaim Teheran sedang berada dalam kondisi terdesak. “Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat,” ujar Trump.

    “Saya tidak punya jadwal waktu. Saya tidak terburu-buru,” lanjutnya.

  3. 3. MoU AS-Iran segera berakhir

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh pembawa acara NBC News, Tom Llamas, di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 4 Februari 2026.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh pembawa acara NBC News, Tom Llamas, di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 4 Februari 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

    Ketidakpastian mengenai pembukaan Selat Hormuz juga terjadi ketika masa berlaku Nota Kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran selama 60 hari segera berakhir. MoU tersebut ditandatangani pada 18 Juni dan dirancang untuk mewujudkan gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz, setidaknya secara sebagian.

    Namun, kesepakatan tersebut kemudian gagal bertahan setelah AS dan Iran kembali melakukan serangan. Ketika ditanya apakah dirinya berupaya memperpanjang MoU tersebut, Trump menjawab singkat, “Tidak.”

    Sebelumnya, pada 8 Juli, Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir dan mengecam para pemimpin Iran setelah kembali terjadi aksi saling serang antara kedua pihak.

    Di sisi lain, Iran sebelumnya menyatakan pembukaan penuh Selat Hormuz bergantung pada diterimanya kompensasi dari AS atas apa yang disebut Teheran sebagai pelanggaran terhadap MoU. Laporan sebelumnya menyebut Iran menuntut biaya sekitar 5 hingga 7 persen dari nilai muatan kapal yang melewati selat tersebut.

    Menjelang berakhirnya masa berlaku MoU pada Senin, Trump kembali menegaskan tujuan utama pemerintahannya terhadap Iran melalui unggahan di Truth Social.

    “Tujuan utamanya adalah, dan akan selalu demikian, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun,” tulis Trump.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More