Israel Hancurkan Jembatan Qasmiyeh, Lebanon Khawatirkan Invasi Darat

- Militer Israel menghancurkan Jembatan Qasmiyeh di Lebanon selatan atas perintah Menteri Pertahanan Israel, memicu kecaman Presiden Lebanon yang menilai tindakan itu sebagai ancaman invasi darat.
- Israel berencana memperluas operasi militer terhadap Hizbullah dengan serangan darat, sementara HRW memperingatkan bahwa penghancuran infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
- Konflik Israel-Hizbullah telah menewaskan lebih dari seribu orang di Lebanon dan memaksa jutaan warga mengungsi, dengan korban jiwa juga dilaporkan di pihak Israel akibat tembakan lintas batas.
Jakarta, IDN Times- Militer Israel melancarkan serangan udara yang menghancurkan Jembatan Qasmiyeh di atas Sungai Litani, Lebanon selatan pada Minggu (22/3/2026). Serangan ini terjadi setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan penghancuran seluruh akses penyeberangan di wilayah tersebut.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai eskalasi yang sangat berbahaya. Ia memperingatkan bahwa penargetan infrastruktur sipil ini merupakan langkah awal Israel untuk melancarkan invasi darat ke Lebanon.
1. Israel akan perluas operasi militer di Lebanon

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah baru saja dimulai. Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, menambahkan bahwa perluasan operasi akan dimulai pada pekan depan.
"Kami sekarang bersiap untuk memajukan operasi darat dan serangan yang ditargetkan sesuai dengan rencana yang terorganisasi," ujar Zamir, dilansir Al Jazeera.
Israel menuduh Hizbullah menggunakan Jembatan Qasmiyeh untuk memindahkan ribuan senjata dan peluncur roket. Jembatan Qasmiyeh diklaim sebagai jalur logistik utama bagi kelompok militan itu untuk menyerang warga sipil Israel.
Pengeboman Jembatan Qasmiyeh merupakan serangan kelima yang menargetkan infrastruktur penyeberangan sungai sejak 2 Maret lalu. Militer Israel juga memperkirakan ada kurang dari seribu anggota elit Pasukan Radwan Hizbullah yang telah menyeberangi Sungai Litani menuju selatan.
2. HRW peringatkan risiko kejahatan perang

Tiga serangan udara Israel menyebabkan kerusakan parah yang membuat Jembatan Qasmiyeh tidak dapat lagi digunakan. Hantaman rudal juga menghancurkan jaringan listrik, area pertokoan, kebun warga, serta taman di sekitar jembatan.
Katz bahkan menginstruksikan percepatan perobohan rumah-rumah warga Lebanon yang berada di desa-desa garis depan. Israel disebut berencana membuat zona penyangga yang mirip dengan zona di Beit Hanoun dan Rafah, Jalur Gaza.
Organisasi Human Rights Watch (HRW) memperingatkan, pemusnahan massal bangunan tempat tinggal di Lebanon selatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Peneliti HRW, Ramzi Kaiss, menegaskan bahwa hukum internasional mewajibkan pihak militer untuk mempertimbangkan dampak kerugian sipil.
"Jika semua jembatan ini diserang, dan wilayah di selatan Litani terisolasi dari wilayah lain di negara itu, maka kerugian sipil akan sangat besar sehingga akan terjadi bencana kemanusiaan. Penduduk di selatan tidak akan bisa mengakses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya," kata Kaiss, dilansir Al Jazeera.
3. Jumlah korban jiwa terus bertambah

Konflik Israel-Hizbullah kembali memanas sejak tiga pekan lalu dan telah menewaskan sebanyak 1.029 orang di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari satu juta penduduk terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Rentetan kekerasan pada hari Minggu dilaporkan telah merenggut nyawa empat orang warga akibat dua serangan udara terpisah di wilayah selatan. Di sisi lain, seorang warga sipil Israel tewas di dalam mobilnya di dekat perbatasan akibat peluncuran proyektil dari wilayah Lebanon.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa korban jiwa tersebut berada di komunitas kibbutz Misgav Am, Israel utara. Insiden ini menandai kematian warga sipil Israel pertama yang diakibatkan oleh tembakan lintas batas pada perang terbaru.
Militer Israel juga mengonfirmasi bahwa dua tentaranya telah tewas dalam pertempuran darat di Lebanon selatan. Terdapat tujuh prajurit lainnya yang menderita luka ringan akibat serangan drone milik Hizbullah maupun kecelakaan operasional.

















