Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Presiden Afrika Selatan Didesak Mundur, Diduga Lakukan Pencucian Uang

Presiden Afrika Selatan Didesak Mundur, Diduga Lakukan Pencucian Uang
potret Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa (flikcr.com/ITU Pictures via commons.wikimedia.org/ITU Pictures)
Intinya Sih
  • Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan mendesak Presiden Cyril Ramaphosa mundur karena dugaan pencucian uang, namun ia menolak dan menyatakan tidak ada kewajiban hukum untuk mengundurkan diri.
  • Dugaan bermula dari kasus pencurian uang 580 ribu dolar AS di peternakan Ramaphosa pada 2022, yang memicu kecurigaan soal asal-usul dana besar tersebut.
  • Upaya pemakzulan terhadap Ramaphosa pernah terjadi pada 2022 dan kemungkinan gagal lagi tahun ini karena dominasi dukungan dari partai Kongres Nasional Afrika di parlemen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, didesak mundur oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada Senin (11/5/2026). Desakan ini muncul karena Ramaphosa diduga melakukan pencucian uang.

Dalam pernyataannya, Ramaphosa mengaku menghormati keputusan MK Afrika Selatan yang mendesak dirinya mundur. Namun, Ramaphosa menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Afrika Selatan. Sebab, ia menganggap desakan itu bukan paksaan yang harus dipatuhi.  

“Meskipun ada seruan di beberapa kalangan agar saya mengundurkan diri, tidak ada satu pun dalam putusan Mahkamah Konstitusi yang memaksa saya untuk mengundurkan diri dari jabatan saya,” kata Ramaphosa dalam pidatonya yang disiarkan oleh stasiun televisi nasional Afrika Selatan, seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Dugaan pencucian uang oleh Ramaphosa mencuat pada 2022

Sejumlah uang berserakan di atas meja.
ilustrasi pencucian uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Dugaan pencucian uang yang dilakukan oleh Ramaphosa ini mulai mencuat pada 2022. Kala itu, ada sekelompok pencuri datang ke peternakan hewan yang dimiliki Ramaphosa. Mereka datang untuk mencuri uang sebesar 580 ribu dolar Amerika Serikat atau Rp10 miliar yang disembunyikan di bawah sofa. 

Kasus pencurian tadi akhirnya terendus oleh pihak berwenang Afrika Selatan. Namun, alih-alih menyalahkan pencuri, mereka malah menuduh Ramaphosa telah melakukan pencucian uang. Ini karena tindakan Ramaphosa yang menyembunyikan uang miliaran dolar AS di bawah sofa dinilai mencurigakan. Sebab, uang sebesar itu seharusnya disimpan di bank.

Oleh karena itu, MK Afrika Selatan meminta Ramaphosa untuk menjelaskan dari mana semua uang tersebut berasal. Langkah ini bertujuan untuk membuktikan apakah dirinya benar-benar melakukan pencucian uang atau tidak. 

2. Ramaphosa menolak permintaan MK Afrika Selatan

Cyril Ramaphosa sedang menandatangani dokumen.
potret Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa (flikcr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Namun, Ramaphosa enggan menuruti perintah tersebut. Sebab, ia mengatakan tidak pernah melakukan tindakan pencucian uang selama menjabat sebagai presiden. Ramaphosa menjelaskan, semua uang yang disembunyikan di bawah sofa di peternakannya merupakan hasil penjualan kerbau, bukan hasil curian, korupsi, apalagi pencucian uang.   

“Saya tidak pernah mencuri uang pembayar pajak. Saya ingin menegaskan kembali bahwa saya tidak terlibat dalam tindakan kriminal apa pun,” kata Ramaphosa.

3. MK Afrika Selatan pernah mendesak Ramaphosa mundur pada 2022

Ruang persidangan.
ilustrasi Mahkamah Konstitusi (pexels.com/Michael D Beckwith)

Sebetulnya, MK Afrika Selatan juga pernah mendesak Ramaphosa mundur dari jabatannya pada 2022. Kala itu, mereka juga sudah berencana untuk melakukan pemungutan suara di parlemen untuk memakzulkan Ramaphosa. Namun, upaya itu digagalkan oleh Kongres Afrika Selatan (ANC). Sebab, ANC menilai tuduhan tindak pencucian uang yang diberikan ke Ramaphosa tidak berdasar. 

Para pengamat menilai, upaya pemakzulan Ramaphosa yang dilakukan oleh MK Afrika Selatan pada tahun ini juga bakal gagal. Sebab, jumlah anggota parlemen yang mendukung diperkirakan tidak akan memenuhi syarat. 

Jadi, pemakzulan presiden di Afrika Selatan harus disetujui oleh 2 per 3 anggota parlemen. Jika kurang dari itu, maka pemakzulan tidak akan disetujui. Namun, ambang batas itu bakal sulit tercapai. Sebab, anggota parlemen yang ada di Afrika Selatan didominasi oleh pendukung Ramaphosa. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More