Ketegangan Dengan China Tekan Angka Pariwisata Jepang pada Januari

- Jumlah wisatawan asing ke Jepang turun 4,9 persen pada Januari 2026, penurunan tahunan pertama sejak pandemi, terutama akibat merosotnya kunjungan dari China karena ketegangan diplomatik soal Taiwan.
- Meski pasar China anjlok, wisatawan dari Korea Selatan, Taiwan, Australia, dan Amerika Serikat justru mencatat rekor tertinggi berkat meningkatnya minat terhadap wisata musim dingin di Jepang.
- Ketegangan geopolitik Tokyo-Beijing berdampak luas pada sektor pariwisata, ritel, hingga hiburan Jepang, dengan pembatalan penerbangan dan acara budaya serta serangan daring terhadap Perdana Menteri Takaichi.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) mengatakan pada Rabu (18/2/2026) bahwa jumlah pengunjung asing ke negaranya pada Januari turun 4,9 persen, dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 3,60 juta orang.
Ini merupakan penurunan tahunan pertama dalam empat tahun terakhir sejak pandemik COVID-19. Hal ini dipicu oleh anjloknya wisatawan dari China akibat ketegangan diplomatik terkait isu Taiwan.
Jumlah kedatangan warga China menyusut 60,7 persen menjadi 385.300 orang, setelah Beijing mendesak warganya untuk tidak mengunjungi Jepang. Langkah tersebut menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025, yang mengisyaratkan bahwa Tokyo akan mengerahkan militernya jika terjadi serangan terhadap Taiwan, dilansir Mainichi.
1. Jumlah wisatawan di Februari akan tetap rendah selama larangan tidak dicabut
Penurunan juga terjadi pada pengunjung dari Hong Kong, yang turun 17,9 persen menjadi sekitar 200 ribu orang. NHK News melaporkan, kunjungan wisatawan dari China biasanya meningkat pesat selama periode ini setiap tahun, yakni liburan Tahun Baru Imlek. Namun, jumlahnya diperkirakan akan tetap rendah pada Februari, selama pemerintah China menyerukan kepada warganya untuk menahan diri dari bepergian ke Jepang.
JNTO mencatat bahwa pergeseran perayaan Tahun Baru Imlek ke pertengahan Februari, serta pengurangan jadwal penerbangan internasional juga memengaruhi penurunan angka kunjungan pada bulan lalu.
2. Meningkatnya jumlah wisatawan dari negara lain ke Jepang

Meski angka wisatawan dari China merosot, tetapi minat wisata ke Jepang dari negara atau wilayah lain justru mencapai rekor tertinggi pada Januari 2026. Hal ini didorong oleh permintaan terhadap wisata olahraga musim dingin.
Dilaporkan, jumlah pengunjung Korea Selatan meningkat sebesar 21,6 persen menjadi 1,18 juta orang. Lalu, disusul oleh Taiwan dengan 694.500, naik 17 persen. Sementara, jumlah wisatawan dari Australia meningkat 14,6 persen menjadi 160.700 orang, dan Amerika Serikat naik sebesar 13,8 persen menjadi 207.800 orang.
Secara keseluruhan, 17 negara dan wilayah, termasuk Indonesia, mencatatkan rekor kunjungan tertinggi untuk Januari. Namun, pertumbuhan positif ini belum mampu menutup lubang besar yang ditinggalkan oleh pasar China. Sebab, Negeri Tirai Bambu adalah penyumbang wisatawan terbesar selama periode Tahun Baru Imlek.
3. Ketegangan geopolitik berimbas terhadap industri pariwisata Jepang

Ketegangan geopolitik Tokyo-Beijing kini menjadi tantangan utama bagi target pariwisata Jepang. Jika imbauan pemerintah China terus berlanjut, sektor ritel dan perhotelan Jepang diprediksi akan kehilangan momentum besar pada kuartal pertama tahun ini.
Dampak dari larangan China juga berimbas pada pembatalan penerbangan di 49 rute ke Jepang. Bahkan, hiburan dan budaya pun tidak luput dari dampaknya.
Dilansir BBC, sejumlah acara musik Jepang telah dibatalkan di China, dan distributor film telah menunda perilisan beberapa film Jepang. Di ranah media sosial, nasionalis daring China telah melancarkan serangan terhadap Takaichi. Ini termasuk menyebarkan video yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI), yang menampilkan tokoh budaya pop Ultraman dan karakter anime Detective Conan melawan perdana menteri.

















