Kopilot Flydubai Disebut Ingin Ulangi Serangan 9/11 di Israel

Al Hammami disebut ingin menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion atau gedung-gedung di Tel Aviv.
Kapten Smit Machchhar diserang di kokpit saat upaya pengambilalihan pesawat berlangsung.
Pesawat kehilangan ketinggian 14 ribu kaki dalam 29 detik dan mendarat darurat di Tabuk.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times — Kopilot Flydubai yang diduga mencoba mengambil alih pesawat dalam penerbangan menuju Israel disebut berniat menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion atau gedung-gedung di Tel Aviv. Dugaan tersebut muncul dari keterangan yang disampaikan kepada penyelidik Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut seorang pejabat Timur Tengah kepada NBC News, pilot bernama Hamman Al Hammami mengaku pada Senin (5/10/26), ingin menabrakkan pesawat ke sejumlah target di Israel. Keterangan itu disebut menjadi bagian dari penyelidikan yang masih berlangsung.
Identitas Al Hammami sendiri belum diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang. Namun, sejumlah sumber yang mengetahui penyelidikan serta seorang diplomat Timur Tengah menyebut pilot tersebut merupakan warga negara Oman.
Saat ini, Al Hammami tengah diperiksa oleh penyelidik UEA setelah dipindahkan dari Arab Saudi. Pesawat Flydubai yang diterbangkannya gagal melanjutkan penerbangan ke Tel Aviv setelah terjadi upaya pengambilalihan kokpit dan akhirnya mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.
1. Pilot disebut ingin tabrakkan pesawat ke Bandara Israel

potret Bandara Ben Gurion, Israel (commons.wikimedia.org/Ralf Roletschek) Menurut keterangan yang diperoleh NBC News, Al Hammami disebut mengatakan kepada penyelidik bahwa ia ingin menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion atau gedung-gedung di Tel Aviv. Rencana tersebut kemudian dikaitkan dengan pola serangan 11 September 2001 atau yang dikenal peristiwa 9/11 Amerika Serikat yang menggunakan pesawat sebagai senjata.
Namun, keterangan mengenai dugaan motif tersebut masih berasal dari sumber yang mengetahui penyelidikan. Belum ada pernyataan resmi yang merinci seluruh motif atau rencana Al Hammami.
Pesawat Flydubai tersebut membawa 174 orang dalam penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv. Pesawat kemudian mengalami situasi darurat setelah Al Hammami diduga menyerang kapten dan mencoba mengambil alih kendali.
Al Hammami disebut kini menjalani pemeriksaan di UEA untuk mengungkap motif, rencana, serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam insiden tersebut.
2. Kapten diserang dengan kapak di kokpit

ilustrasi kokpit pesawat (pixabay.com/StockSnap) Kapten penerbangan, Smit Machchhar, menjadi salah satu korban dalam insiden tersebut. Pilot berkewarganegaraan India itu diserang menggunakan kapak ketika Al Hammami diduga berusaha mengambil alih kendali pesawat.
Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Machchhar menceritakan detik-detik sebelum serangan. Ia mengatakan Al Hammami sempat memberitahunya bahwa dirinya akan salat.
Machchhar mengaku tidak mencurigai pernyataan tersebut karena umat Muslim memang menjalankan salat lima kali sehari. Namun, beberapa menit kemudian ia merasakan pukulan keras di kepala.
“Karena pukulan awal itu, penglihatan saya hampir hilang sepenuhnya, semuanya kabur,” kata Machchhar, dilansir dari Times of Israel, Rabu (7/10/2026).
“Perasaan selanjutnya yang saya rasakan adalah pesawat menukik tajam,” lanjutnya.
Machchhar awalnya menduga pesawat mengalami kerusakan serius. Namun, setelah kembali mendapat pukulan, ia menyadari masalah tersebut bukan berasal dari pesawat, melainkan dari orang lain yang berada di kokpit.
3. Pesawat jatuh 14 ribu kaki dalam 29 detik

ilustrasi pesawat Flydubai (unsplash.com/Sevcan Alkan) Dalam situasi tersebut, pesawat dilaporkan kehilangan ketinggian sekitar 14 ribu kaki hanya dalam waktu 29 detik. Kondisi itu membuat 174 penumpang di dalam pesawat panik.
Penerbangan Flydubai yang seharusnya menuju Tel Aviv akhirnya tidak mencapai Israel. Pesawat berhasil mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi, setelah kendali pesawat berhasil diamankan.
Machchhar mengalami luka dalam serangan tersebut. Insiden itu kemudian menjadi bagian dari penyelidikan otoritas UEA untuk mengungkap bagaimana upaya pengambilalihan pesawat terjadi dan apa tujuan pelaku.
The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Al Hammami pernah dilarang terbang oleh Oman karena kekhawatiran terkait pandangan ideologis yang disebut radikal.
Belum jelas bagaimana Al Hammami dapat bertugas dalam penerbangan menuju Israel, mengingat Oman tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Berdasarkan hukum Israel, maskapai penerbangan diwajibkan memberikan informasi mengenai penumpang dan awak pesawat, termasuk nama dan kewarganegaraan mereka, paling lambat 48 jam sebelum penerbangan.




















