The Straits Times melaporkan, investigasi awal terhadap ledakan maut di tambang batu bara Provinsi Shanxi mengungkap adanya dugaan pelanggaran keselamatan serius oleh pihak pengelola, Shanxi Tongzhou Group. Perusahaan swasta tersebut diketahui membiarkan kadar gas beracun melebihi ambang batas aman dalam waktu lama.
Selain itu, media lokal melaporkan bahwa jumlah pekerja yang berada di bawah tanah saat insiden terjadi melampaui 124 orang yang tercatat oleh perusahaan. Jumlah tersebut merupakan sebuah pelanggaran terhadap regulasi keselamatan.
"Pihak manajemen yang bertanggung jawa telah ditahan, dan operasional tambang telah dihentikan untuk perbaikan keselamatan," kata pejabat berwenang, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Sementara itu, tim penyelamat masih terus berupaya mencari dua pekerja yang dilaporkan hilang sejak kecelakaan terjadi.
Bencana ini menjadi kecelakaan tambang batu bara paling mematikan di Negeri Tirai Bambu sejak ledakan gas di Provinsi Heilongjiang pada 2009, yang menewaskan 108 orang. Shanxi sendiri memiliki riwayat kelam dalam industri pertambangan, termasuk tragedi ledakan metana pada 1960 yang menewaskan 684 korban jiwa.