Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Krisis Ceuta: 72 Migran Tewas saat Masuk Spanyol
Para imigran dari Maroko memasuki Ceuta, Spanyol. (AFP/HENRY NICHOLLS)
  • Sedikitnya 72 migran dilaporkan tewas saat sekitar 60.000 orang menyeberang dari Maroko ke Ceuta, sementara pemerintah Maroko mencatat 11 korban jiwa.
  • Sebagian besar migran dipulangkan ke Maroko dalam 48 jam, sementara aparat Spanyol memperketat patroli dan penghalang perbatasan; sejumlah anak masih bertahan di Ceuta.
  • Spanyol menyebut rumor kebijakan imigrasi memicu penyeberangan massal, di tengah ketegangan diplomatik dengan Maroko dan desakan 22 negara Uni Eropa untuk rapat darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak orang dari Maroko berenang ke Ceuta, wilayah Spanyol. Pemerintah Spanyol bilang 72 orang meninggal, tapi Maroko bilang 11 orang. Banyak orang sudah pulang ke Maroko. Polisi dan tentara masih menjaga Ceuta. Beberapa anak masih di sana dan ingin pergi ke Spanyol.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas dalam gelombang besar masuknya migran dari Maroko ke wilayah kantong (enklave) Spanyol di Ceuta, menurut otoritas Spanyol pada Minggu (2/8/2026). Namun, pemerintah Maroko menyampaikan angka korban yang jauh lebih rendah.

Gelombang migrasi yang diperkirakan melibatkan sekitar 60.000 orang itu menjadi arus masuk migran terbesar yang pernah terjadi di Ceuta. Sebagian besar migran memasuki wilayah Spanyol dengan berenang melintasi perairan perbatasan.

Sebagian besar dari mereka telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam setelah menyeberang. Meski begitu, sejumlah migran, terutama anak-anak, masih berada di Ceuta dengan harapan dapat melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol.

Peristiwa tersebut memicu krisis diplomatik sekaligus kembali menyoroti persoalan migrasi di perbatasan Spanyol-Uni Eropa dengan Afrika Utara.

1. Spanyol dan Maroko berbeda data korban

Potret area pejalan kaki yang ramai oleh orang-orang di Ceuta, Spanyol (flickr.com/Nicolas Vigier, CC0)

Delegasi Pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez Triano, mengatakan jumlah korban jiwa terus bertambah dibandingkan laporan sebelumnya. “Angka terbaru yang kami miliki adalah 72 orang,” kata Perez Triano kepada wartawan saat ditanya mengenai jumlah korban tewas.

Sebelumnya, jumlah korban dilaporkan mencapai 67 orang.

Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri Maroko menyebut hanya 11 orang meninggal dunia saat mencoba mencapai Ceuta.

Menurut pemerintah Maroko, 10 orang meninggal akibat tenggelam, sedangkan satu orang lainnya tewas setelah terjatuh dari kawasan berbatu di sekitar perbatasan.

2. Situasi Ceuta mulai kondusif

Potret Ceuta (commons.wikimedia.org/RACHID BAYA)

Aparat kepolisian dan militer Spanyol masih berjaga di berbagai titik di Ceuta meski situasi secara umum mulai kembali normal.

Patroli laut terus dilakukan menggunakan kapal penyelamat di sekitar pagar perbatasan yang membentang hingga ke Laut Mediterania. Spanyol juga memasang penghalang terapung sepanjang 500 meter untuk memperkuat pengamanan.

Sementara itu, petugas Penjaga Sipil (Civil Guard) terlihat mengawal sejumlah migran kembali ke pos perbatasan untuk dipulangkan ke Maroko.

Di kawasan bekas kawasan industri, sejumlah anak migran masih bertahan. Sebagian terlihat beristirahat di trotoar, sementara yang lain berharap dapat melanjutkan perjalanan ke Spanyol daratan.

“Semua anak di sini ingin pergi ke Spanyol (daratan utama),” kata seorang warga Maroko, Aziz Dabch (41), dilansir dari Al Jazeera, Senin (3/8/2026).

3. Rumor dan ketegangan diplomatik

Pasukan Militer Ceuta saat berada di Plaza de Oriente, Madrid (Wikimedia Commons/Contando Estrelas)

Pemerintah Spanyol menuding kelompok kriminal menyebarkan rumor putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol mengenai kebijakan imigrasi akan mempermudah migran memasuki negara tersebut. Rumor itu dengan cepat menyebar melalui media sosial dan diyakini menjadi salah satu pemicu gelombang penyeberangan massal ke Ceuta.

Sejumlah analis juga menilai Maroko kemungkinan melonggarkan pengawasan perbatasan sebagai bentuk tekanan diplomatik terhadap Spanyol yang belakangan mempererat hubungan dengan Aljazair, rival utama Rabat.

Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2021 ketika sekitar 10.000 migran memasuki Ceuta setelah Maroko melonggarkan kontrol perbatasan.

Krisis terbaru ini juga memicu reaksi dari negara-negara Uni Eropa. Sebanyak 22 negara anggota mendesak digelarnya pertemuan darurat untuk menyusun respons bersama terhadap arus migrasi tersebut. Italia bahkan menangguhkan selama satu bulan penerapan Perjanjian Schengen dengan Spanyol yang memungkinkan perjalanan lintas batas tanpa pemeriksaan.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengkritik respons sejumlah negara Uni Eropa yang dinilainya egois, sedangkan Paus Leo XIV menyatakan mengikuti situasi di Ceuta “dengan keprihatinan” dan berharap tercapai solusi yang menghadirkan perdamaian, stabilitas, dan keadilan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article