Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas dalam gelombang besar masuknya migran dari Maroko ke wilayah kantong (enklave) Spanyol di Ceuta, menurut otoritas Spanyol pada Minggu (2/8/2026). Namun, pemerintah Maroko menyampaikan angka korban yang jauh lebih rendah.
Gelombang migrasi yang diperkirakan melibatkan sekitar 60.000 orang itu menjadi arus masuk migran terbesar yang pernah terjadi di Ceuta. Sebagian besar migran memasuki wilayah Spanyol dengan berenang melintasi perairan perbatasan.
Sebagian besar dari mereka telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam setelah menyeberang. Meski begitu, sejumlah migran, terutama anak-anak, masih berada di Ceuta dengan harapan dapat melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol.
Peristiwa tersebut memicu krisis diplomatik sekaligus kembali menyoroti persoalan migrasi di perbatasan Spanyol-Uni Eropa dengan Afrika Utara.
