ilustrasi anak kecil di Somalia, Afrika Timur (unsplash.com/Ismail Salad Osman Hajji dirir)
Meskipun terdengar menjanjikan, penggunaan AI bukan berarti persoalan kelaparan di Somalia bisa langsung diselesaikan, lho. Teknologi tetap membutuhkan data yang memadai dan gak bisa menggantikan pengamatan manusia di lapangan. WFP sendiri menegaskan bahwa informasi dari HungerMap Live harus digunakan bersama penilaian langsung untuk menentukan kebutuhan masyarakat secara lebih akurat.
Keterbatasan dana juga masih menjadi masalah besar. WFP membutuhkan tambahan sekitar 192 juta dolar AS atau sekitar Rp3,4 triliun hingga Januari 2027 agar bisa menjangkau seluruh masyarakat Somalia yang membutuhkan bantuan pangan. Simon Renk menilai AI memang dapat membantu WFP menetapkan prioritas berdasarkan bukti yang lebih kuat, tapi teknologi tersebut gak membuat kekurangan bantuan menjadi sesuatu yang bisa diterima.
Pemanfaatan AI oleh PBB di Somalia menunjukkan bahwa teknologi bisa memiliki peran penting dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Dengan membaca berbagai data secara lebih cepat, WFP dapat mengenali wilayah yang berisiko mengalami kondisi pangan lebih buruk dan menyiapkan bantuan sebelum situasinya semakin parah. Kasus Burhakaba menjadi salah satu contoh bagaimana informasi tersebut bisa diterjemahkan menjadi bantuan pangan dan nutrisi bagi puluhan ribu orang.
Namun, kamu juga perlu melihat bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan solusi tunggal untuk mengatasi kelaparan. Konflik berkepanjangan, perubahan iklim, ketergantungan pada impor pangan, serta keterbatasan dana tetap menjadi tantangan besar bagi Somalia. Karena itu, teknologi akan memberikan manfaat paling besar ketika didukung pendanaan yang cukup, respons kemanusiaan yang cepat, dan tindakan nyata untuk melindungi masyarakat yang paling rentan.