Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Krisis Pangan Somalia: PBB Manfaatkan AI untuk Lawan Kelaparan
ilustrasi penduduk lokal Somalia, Afrika Timur (unsplash.com/Ismail Salad Osman Hajji dirir)
  • Somalia menghadapi krisis pangan akibat konflik, kekeringan, banjir, dan ketergantungan impor; sekitar 6 juta orang berada pada tingkat kerawanan pangan krisis.
  • WFP memakai AI dan HungerMap Live 2.0 untuk menggabungkan data iklim, harga, konflik, pertanian, serta gizi guna memprediksi wilayah berisiko dan menentukan bantuan.
  • Di Burhakaba, analisis data mendukung bantuan pangan bagi 48.000 orang dan nutrisi bagi 3.000 perempuan serta anak; namun WFP masih membutuhkan dana tambahan 192 juta dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Krisis pangan di Somalia masih menjadi persoalan serius karena jutaan orang harus menghadapi ancaman kelaparan di tengah konflik dan perubahan iklim. Kondisi ini semakin rumit karena kekeringan yang berkepanjangan kerap disusul banjir bandang, sementara konflik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun terus mengganggu kehidupan masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui World Food Programme (WFP) mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk menentukan wilayah yang membutuhkan bantuan pangan dengan lebih cepat. Teknologi ini membantu WFP membaca berbagai data sehingga potensi memburuknya kondisi pangan bisa diketahui sebelum dampaknya semakin parah.

Lalu, seperti apa cara AI membantu upaya melawan kelaparan di Somalia?

1. AI membantu menemukan wilayah yang membutuhkan bantuan

ilustrasi AI (vecteezy.com/Muchlis Nugroho)

Somalia saat ini menghadapi situasi pangan yang sangat mengkhawatirkan. Sekitar 6 juta orang berada dalam kondisi rawan pangan tingkat krisis, tapi WFP hanya mampu menjangkau sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan bantuan. Keterbatasan sumber daya membuat penyaluran bantuan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar bisa sampai terlebih dahulu kepada masyarakat yang berada dalam kondisi paling mendesak.

Untuk menentukan prioritas tersebut, WFP memanfaatkan data dari berbagai sumber dan menganalisisnya menggunakan perangkat berbasis AI. Data yang diperhatikan bukan hanya soal ketersediaan makanan, tapi juga kondisi iklim, ekonomi, pertanian, inflasi, konflik, harga pasar, hingga kondisi gizi masyarakat. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa AI dalam situasi ini bukan sekadar teknologi untuk memprediksi angka, melainkan alat bantu agar keputusan kemanusiaan bisa dibuat berdasarkan bukti yang lebih kuat.

2. Kasus Burhakaba menunjukkan manfaat AI

ilustrasi kelaparan, kemiskinan (pexels.com/Damilola Saka)

Salah satu contoh penggunaan teknologi tersebut terlihat di Distrik Burhakaba, sekitar 180 kilometer sebelah barat laut Mogadishu. Di wilayah ini, petugas kemanusiaan menemukan banyak anak yang mengalami kekurangan gizi parah dan membutuhkan bantuan segera. WFP kemudian memanfaatkan data dari organisasi mereka dan para mitra untuk melihat tanda-tanda bahwa kondisi di wilayah tersebut sedang memburuk.

Hasil analisis membantu WFP mengambil tindakan sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Bantuan pangan akhirnya diberikan kepada sekitar 48.000 orang, sedangkan dukungan nutrisi diberikan kepada 3.000 perempuan dan anak-anak. Simon Renk, kepala bidang vulnerability, analysis and mapping WFP di Somalia, menjelaskan bahwa informasi tersebut memungkinkan lembaga kemanusiaan mengetahui risiko malnutrisi lebih awal, sebelum kondisi tersebut berujung pada perpindahan penduduk atau bahkan kematian.

3. HungerMap Live kini punya kemampuan prediksi

ilustrasi Somalia, Afrika Timur (pexels.com/Mohamed abdirisak Ali)

WFP sebenarnya sudah menggunakan platform HungerMap Live sejak Januari 2020 untuk memantau kondisi ketahanan pangan di lebih dari 90 negara. Platform tersebut menggabungkan berbagai informasi, seperti kondisi pangan, iklim, perekonomian, pertanian, inflasi, dan faktor lainnya. Data tersebut kemudian ditampilkan untuk menunjukkan wilayah yang sedang mengalami kerawanan pangan atau berpotensi menuju kondisi tersebut.

Kini, WFP telah memperkenalkan HungerMap Live 2.0 dengan kemampuan AI yang lebih maju. Pembaruan ini membuat platform gak hanya membantu melihat lokasi yang sedang mengalami kelaparan, tapi juga memberikan gambaran mengenai alasan kondisi tersebut memburuk dan wilayah mana yang berpotensi terdampak berikutnya. Kemampuan prediktif ini penting karena bantuan kemanusiaan idealnya gak selalu datang setelah sebuah krisis terjadi.

Dengan memanfaatkan data seperti perkiraan kekurangan curah hujan, risiko banjir, harga pasar, konflik, dan kondisi nutrisi, WFP dapat memperkirakan wilayah yang berisiko mengalami kelaparan. Informasi tersebut kemudian bisa digunakan untuk menempatkan bantuan lebih awal. Jadi, ketika kamu melihat teknologi AI digunakan dalam krisis pangan, perannya lebih kepada memperpendek jarak antara peringatan dini dan tindakan nyata di lapangan.

4. AI membantu menentukan jenis bantuan yang tepat

ilustrasi donasi, bantuan (unsplash.com/Joel Muniz)

Masalah pangan gak selalu berarti setiap komunitas membutuhkan bentuk bantuan yang sama, lho. Ada wilayah yang lebih membutuhkan makanan secara langsung, sementara daerah lain mungkin memerlukan bantuan tunai agar masyarakat dapat membeli kebutuhan pangan dari pasar lokal. Di lokasi dengan masalah kekurangan gizi yang serius, bantuan khusus untuk perempuan dan anak-anak juga bisa menjadi prioritas.

Data dari HungerMap Live membantu tim WFP memahami kebutuhan tersebut dengan lebih baik. Meski begitu, hasil dari platform tersebut tetap gak bisa menggantikan penilaian langsung dari petugas yang berada di lapangan. Teknologi hanya memberikan dasar informasi tambahan agar tim dapat menentukan komunitas mana yang harus dibantu terlebih dahulu dan bentuk bantuan apa yang paling sesuai.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena Somalia sangat bergantung pada impor makanan. Ketergantungan ini membuat masyarakat rentan terhadap perubahan harga pangan global, termasuk dampak dari konflik di kawasan lain. Ketika harga naik sementara kondisi masyarakat sudah tertekan akibat kekeringan, banjir, dan konflik, kemampuan untuk mendapatkan makanan pun ikut semakin sulit.

5. AI bukan pengganti bantuan kemanusiaan

ilustrasi anak kecil di Somalia, Afrika Timur (unsplash.com/Ismail Salad Osman Hajji dirir)

Meskipun terdengar menjanjikan, penggunaan AI bukan berarti persoalan kelaparan di Somalia bisa langsung diselesaikan, lho. Teknologi tetap membutuhkan data yang memadai dan gak bisa menggantikan pengamatan manusia di lapangan. WFP sendiri menegaskan bahwa informasi dari HungerMap Live harus digunakan bersama penilaian langsung untuk menentukan kebutuhan masyarakat secara lebih akurat.

Keterbatasan dana juga masih menjadi masalah besar. WFP membutuhkan tambahan sekitar 192 juta dolar AS atau sekitar Rp3,4 triliun hingga Januari 2027 agar bisa menjangkau seluruh masyarakat Somalia yang membutuhkan bantuan pangan. Simon Renk menilai AI memang dapat membantu WFP menetapkan prioritas berdasarkan bukti yang lebih kuat, tapi teknologi tersebut gak membuat kekurangan bantuan menjadi sesuatu yang bisa diterima.

Pemanfaatan AI oleh PBB di Somalia menunjukkan bahwa teknologi bisa memiliki peran penting dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Dengan membaca berbagai data secara lebih cepat, WFP dapat mengenali wilayah yang berisiko mengalami kondisi pangan lebih buruk dan menyiapkan bantuan sebelum situasinya semakin parah. Kasus Burhakaba menjadi salah satu contoh bagaimana informasi tersebut bisa diterjemahkan menjadi bantuan pangan dan nutrisi bagi puluhan ribu orang.

Namun, kamu juga perlu melihat bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan solusi tunggal untuk mengatasi kelaparan. Konflik berkepanjangan, perubahan iklim, ketergantungan pada impor pangan, serta keterbatasan dana tetap menjadi tantangan besar bagi Somalia. Karena itu, teknologi akan memberikan manfaat paling besar ketika didukung pendanaan yang cukup, respons kemanusiaan yang cepat, dan tindakan nyata untuk melindungi masyarakat yang paling rentan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article