Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Organisasi Kemanusiaan Dunia Sebut Krisis Pangan di Sudan Makin Akut

Organisasi Kemanusiaan Dunia Sebut Krisis Pangan di Sudan Makin Akut
ilustrasi krisis pangan (pexels.com/Ian Taylor)
Intinya Sih
  • Lima organisasi kemanusiaan dunia melaporkan krisis pangan di Sudan makin parah, jutaan warga hanya makan sekali sehari dan banyak anak mengalami gizi buruk akibat kekurangan nutrisi.
  • Pemerintah Sudan membantah laporan tersebut, menegaskan situasi sudah terkendali meski data menunjukkan lebih dari 61 persen populasi terdampak kelaparan akibat krisis pangan.
  • Perang saudara antara pasukan SAF dan RSF yang meletus sejak April 2023 menghancurkan lahan pertanian serta memaksa warga mengungsi, memperburuk kondisi pangan di berbagai wilayah Sudan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sejumlah organisasi kemanusiaan dunia yang terdiri dari Action Against Hunger, CARE International, International Rescue Committee, Mercy Corps, dan Norwegian Refugee Council menyebut krisis pangan di Sudan kini makin akut. Bahkan, saking parahnya, jutaan orang di sana hanya bisa makan sekali dalam sehari.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (13/4/2026), kelima organisasi kemanusiaan tadi mengatakan fenomena ini lantas membuat banyak orang di Sudan mengalami kelaparan. Bahkan, anak-anak di sana juga banyak yang mengalami gizi buruk karena tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

1. Krisis pangan di Sudan disebabkan oleh perang saudara

Tentara sedang berperang.
ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

Dalam laporan tersebut, Action Against Hunger, CARE International, International Rescue Committee, Mercy Corps, dan Norwegian Refugee Council menjelaskan, krisis pangan di Sudan disebabkan oleh perang saudara yang terjadi antara pasukan militer Sudan (SAF) dan pasukan Rapid Support Force (RSF). 

Menurut mereka, perang saudara ini membuat banyak lahan pertanian di Sudan hancur. Sebab, kelompok pemberontak yang berasal dari RSF kerap membasmi lahan pertanian yang ada di sana. Selain itu, perang saudara ini juga memaksa banyak warga Sudan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ketika mengungsi, mereka meninggalkan lahan pertanian yang seharusnya bisa menjadi sumber pangan. 

"Di dua wilayah yang paling parah terkena dampak konflik, yakni Darfur Utara dan Kordofan Selatan, jutaan keluarga hanya dapat mengakses satu kali makan sehari. Mereka juga sering melewatkan makan selama berhari-hari," bunyi laporan Action Against Hunger, CARE International, International Rescue Committee, Mercy Corps, dan Norwegian Refugee Council, seperti dilansir Jerusalem Post.

2. Pemerintah Sudan membantah laporan soal krisis pangan

Seorang anak sedang mengantre makanan.
ilustrasi krisis pangan (unsplash.com/Ian Taylor)

Laporan yang dirilis lima organisasi kemanusiaan tadi lantas dibantah oleh Pemerintah Sudan. Sudan menyangkal mereka kini sedang mengalami krisis pangan dan kelaparan akut. Mereka juga menyangkal bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh perang saudara yang sedang terjadi.

Dalam pernyataannya, Pemerintah Sudan menyebut perang saudara kini sudah terkendali. Sebab, mereka sudah bisa mengatasi serangan RSF di sejumlah wilayah, termasuk di Darfur Utara dan Kordofan Selatan. Kedua wilayah ini disebut sering menjadi target serangan kelompok pemberontak dari RSF. 

Kendati begitu, data-data terbaru menunjukkan bahwa Sudan kini memang sedang mengalami krisis pangan dan kelaparan akut. Sebab, data terbaru menunjukkan sebanyak 61,7 persen populasi di Sudan mengalami peristiwa kelaparan karena krisis pangan yang sedang terjadi.  

3. Perang saudara di Sudan sudah meletus sejak 2023

Perang saudara.
ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Hasan Almasi)

Sebagai informasi, perang saudara di Sudan yang terjadi antara pasukan SAF dan RSF sudah meletus sejak April 2023. Artinya, perang saudara di sana kini sudah berlangsung selama tiga tahun. 

Perang saudara ini pertama kali pecah di Negara Bagian Darfur karena perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF. Saat itu, SAF mendesak RSF untuk bergabung dengan mereka agar menjadi kekuatan militer yang utuh. Namun, RSF menolak dan bersikukuh ingin mengambil alih kekuasaan di Sudan. 

Dilansir BBC, perang tersebut akhirnya menjadi konflik yang mengkhawatirkan di seluruh negeri. Sebab, RSF jadi kerap melakukan serangan brutal kepada warga-warga Sudan yang dianggap pro-pemerintah, terutama yang tinggal di Darfur. Selain itu, mereka juga kerap memperkosa, merampas, dan menghancurkan rumah-rumah warga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More