Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kualitas Udara 5 Wilayah Singapura Memburuk ke Level Tidak Sehat
bendera Singapura (pexels.com/Calvin Seng)
  • Seluruh lima wilayah Singapura memasuki kategori kualitas udara tidak sehat pada Selasa pagi, pertama kali terjadi serentak sejak September 2019, dengan PSI tertinggi 154 di wilayah tengah.
  • Kabut asap dipicu asap kebakaran hutan dari Kalimantan dan Sumatra selatan yang terbawa angin timur-tenggara; NEA memperkirakan kondisi kering dan dampaknya berlanjut beberapa hari.
  • Pemburukan telah terdeteksi sejak 4 September ketika PSI wilayah tengah melampaui 101; otoritas mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan selama indeks tidak sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kualitas udara di seluruh wilayah Singapura memburuk hingga masuk ke rentang tidak sehat pada Selasa (15/9/2026) pagi waktu setempat. Peristiwa ini menjadi yang pertama kali sejak September 2019 saat seluruh lima wilayah di negara tersebut secara bersamaan mencatatkan indeks pencemaran di kategori tidak sehat.

Kondisi kabut asap tersebut dipicu oleh pergerakan asap kebakaran hutan dari Kalimantan dan Sumatra bagian selatan yang terbawa embusan angin. National Environment Agency (NEA) mencatat pemburukan mutu udara telah terjadi secara bertahap sejak awal pekan sebelum akhirnya menyelimuti seluruh kawasan pulau.

1. Indeks pencemaran udara di lima wilayah Singapura

ilustrasi kabut asap (unsplash.com/Rynco Maekawa)

Dilansir Channel News Asia, pembacaan 24-hour Pollutant Standards Index (PSI) di wilayah tengah Singapura menyentuh angka 154 pada Selasa (15/9/2026), pukul 06.00 waktu setempat. Catatan tersebut merupakan angka tertinggi di antara seluruh area sekaligus menjadi puncak tren kenaikan dalam kurun 24 jam terakhir.

Wilayah timur dan barat sama-sama membukukan angka PSI 128 pada jam yang sama setelah melintasi ambang batas tidak sehat sejak Senin sore. Wilayah selatan mencatat angka 111, sedangkan wilayah utara menjadi kawasan kelima yang menyusul ke level tidak sehat dengan catatan 104 saat fajar.

NEA mengelompokkan skor PSI 24 jam antara 101 hingga 200 sebagai kategori tidak sehat, sementara angka 51 hingga 100 tergolong sedang, dan 0 hingga 50 berada pada level baik. Rentang indeks resmi tersebut juga memuat kategori sangat tidak sehat untuk skor 201 hingga 300, serta berbahaya bila melampaui angka 300.

2. Pergerakan arah angin bawa kabut asap lintas batas

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Plato Terentev)

Dilansir The Online Citizen, NEA mengungkapkan bahwa gumpalan asap dengan intensitas sedang hingga pekat terus teramati dari kebakaran hutan di Kalimantan. Selain itu, kepulan asap dari kebakaran lahan juga terpantau bergerak dari wilayah selatan Sumatra menuju Singapura.

Perubahan mutu udara ini didorong oleh peralihan angin dominan yang mulai berembus dari arah timur-tenggara. Badan lingkungan hidup tersebut memproyeksikan cuaca kering masih akan mendominasi wilayah Singapura dan kawasan sekitarnya selama beberapa hari ke depan.

"Kondisi kering diprakirakan terjadi di Singapura dan wilayah sekitarnya dalam beberapa hari mendatang. Dengan arah angin dominan yang diprakirakan terus berembus dari tenggara ke timur-tenggara, Singapura kemungkinan akan terkena dampak kabut asap," sebut NEA. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama indeks PSI berada di level tidak sehat.

3. Kronologi pemburukan kualitas udara sejak awal September

ilustrasi kabut asap (unsplash.com/Alex Gindin)

Rentetan kabut asap tahun ini bermula pada Jumat (4/9/2026) ketika indeks PSI 24 jam di wilayah tengah melampaui 101 untuk pertama kalinya sejak 2023. Lonjakan pencemaran udara tersebut mendorong NEA untuk segera menerbitkan rilis imbauan kabut asap harian secara berkala kepada publik.

Sebelumnya, pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan terkait tingginya potensi risiko kabut asap pada rentang Juni hingga Oktober 2026. Peringatan dini tersebut didasari oleh kondisi cuaca yang lebih panas dan kering akibat fenomena El Nino serta Indian Ocean Dipole.

Di sisi lain, pengukuran konsentrasi partikulat satu jam PM2.5 menunjukkan situasi yang cukup beragam di berbagai kawasan pulau pada Selasa pagi. Konsentrasi PM2.5 di kawasan tengah dan barat tercatat berada pada tingkat meningkat, yakni masing-masing 66 dan 59 mikrogram per meter kubik, sedangkan area lainnya sudah kembali normal di bawah 55 mikrogram per meter kubik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article