Maduro Tunjuk Pengacara Julian Assange untuk Lawan Dakwaan AS

- Pollack menilai Maduro punya kekebalan sebagai kepala negara
- Maduro dan istrinya terjerat 4 dakwaan
- Rekam jejak Pollack dalam kasus besar
Jakarta, IDN Times - Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolas Maduro, menunjuk Barry Pollack sebagai pengacara utamanya untuk menghadapi persidangan di Amerika Serikat (AS). Pollack dikenal sebagai pengacara yang sukses menegosiasikan kebebasan pendiri WikiLeaks, Julian Assange, dalam kasus spionase tingkat tinggi.
Penunjukan ini menandai langkah serius Maduro dalam melawan dakwaan narko-terorisme di pengadilan federal Manhattan. Pollack mengklaim kliennya memiliki kekebalan hukum sebagai kepala negara berdaulat.
1. Pollack menilai Maduro punya kekebalan sebagai kepala negara

Dalam sidang pembacaan dakwaan pada Senin (5/1/2026), Pollack langsung menegaskan bahwa penangkapan Maduro adalah tindakan ilegal. Ia menyebut operasi militer AS di Caracas sebagai penculikan militer yang melanggar hukum internasional.
Strategi pembelaan Pollack berpusat pada status Maduro sebagai kepala negara yang sah saat penangkapan terjadi. Tim pembela berencana mengajukan mosi rumit untuk menantang dasar hukum penangkapan dan yurisdiksi pengadilan AS terhadap pemimpin asing.
"Tuan Maduro adalah kepala negara yang berdaulat dan dia berhak atas hak istimewa serta kekebalan yang menyertai jabatan itu. Selain itu, ada masalah tentang legalitas penculikan militer ini," tegas Pollack di hadapan hakim, dilansir Business Insider.
Maduro hadir di persidangan mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye dan biru dengan kaki dibelenggu. Ia terlihat mencatat jalannya sidang di sebuah buku catatan hukum selama proses berlangsung.
Hakim Alvin Hellerstein memimpin jalannya sidang yang berlangsung singkat dan penuh ketegangan tersebut. Pihak pembela belum mengajukan permohonan jaminan, tetapi mengisyaratkan akan ada pertarungan hukum panjang mengenai legalitas penangkapan ini.
2. Maduro dan istrinya terjerat 4 dakwaan

Jaksa penuntut AS mendakwa Maduro dengan empat tuduhan berat, termasuk konspirasi narko-terorisme dan penyelundupan kokain. Jika terbukti bersalah, pemimpin berusia 63 tahun itu menghadapi ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Istri Maduro, Cilia Flores, yang turut ditangkap dalam serangan tersebut, juga menghadapi dakwaan serupa di pengadilan yang sama. Flores diwakili oleh Mark Donnelly, seorang pengacara asal Texas yang merupakan mantan jaksa federal.
Pemerintah AS menuduh Maduro memimpin kartel narkoba "Cartel of the Suns" dan bekerja sama dengan gerilyawan Kolombia untuk membanjiri AS dengan kokain. Dakwaan ini sebenarnya telah diajukan sejak 2020.
Maduro telah membantah semua tuduhan dan menyatakan dirinya sebagai tahanan perang yang diperlakukan tidak adil. Ia sempat memprotes penangkapannya di tengah ruang sidang.
"Saya tidak bersalah, saya bukan orang jahat, saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya," seru Maduro dalam bahasa Spanyol, dilansir The Guardian.
3. Rekam jejak Pollack dalam kasus besar
Menurut Straits Times, Barry Pollack memiliki reputasi panjang dalam menangani kasus-kasus rumit yang melibatkan keamanan nasional dan melawan pemerintah federal AS. Salah satu prestasi terbesarnya adalah mengamankan kesepakatan pembebasan Julian Assange pada 2024 setelah pertarungan hukum selama bertahun-tahun.
Selain kasus WikiLeaks, Pollack pernah memenangkan pembebasan bagi mantan eksekutif Enron, Michael Krautz, yang dituduh melakukan penipuan. Ia juga berhasil membatalkan hukuman Martin Tankleff, seorang pria yang dipenjara secara keliru selama 17 tahun atas tuduhan pembunuhan.
Pengalaman Pollack juga pernah membela mantan perwira CIA yang dituduh membocorkan informasi rahasia. Latar belakang ini dianggap krusial mengingat kasus Maduro melibatkan tuduhan konspirasi internasional dan operasi militer lintas negara.
"Amerika Serikat memiliki pandangan luar biasa tentang batas yurisdiksinya. Seseorang yang bukan warga negara AS (Assange), menerbitkan informasi di luar AS, tapi AS merasa berhak menangkapnya," ujar Pollack dalam wawancara terkait kasus Assange.

















