Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menhan Inggris Sebut Negara Harus Siap Perang dalam 1.000 Hari
Bendera Inggris (magnific.com/gpointstudio)
  • Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan Inggris dan NATO memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk bersiap menghadapi potensi serangan pada 2030.
  • Streeting menilai ancaman meningkat dari penguatan militer lawan, serangan siber, kejahatan terorganisasi, krisis iklim, serta celah digital yang dapat mengganggu layanan vital.
  • Pemerintah Inggris meluncurkan kampanye Be Ready, mengimbau keluarga menyimpan makanan tahan lama dan air untuk bertahan setidaknya tiga hari selama keadaan darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, memperingatkan bahwa negaranya harus siap bertempur dalam 1.000 hari ke depan seiring meningkatnya kekuatan militer negara-negara lawan. Ia menilai musuh Inggris diperkirakan siap melancarkan serangan pada 2030, sehingga London dan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hanya memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk bersiap.

Peringatan ini menegaskan pentingnya penguatan militer bersama sekutu internasional sekaligus peningkatan kesiapsiagaan warga di dalam negeri. Saat ini, pemerintah Inggris tengah menyiapkan langkah pencegahan menyeluruh guna melindungi fasilitas penting dari ancaman serangan dan keadaan darurat nasional.

1. Peningkatan kekuatan militer negara lawan menjelang 2030

Kekuatan militer Inggris. (ukdefencejournal.org.uk)

Pada Sabtu (24/10/2026), Streeting menjelaskan bahwa ancaman utama saat ini berasal dari pesatnya peningkatan kekuatan militer dan ekonomi negara lawan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030. Menurutnya, cara terbaik untuk mencegah perang adalah dengan menyiapkan kekuatan tempur yang nyata agar pihak lawan tidak berani menyerang.

"Keinginan musuh untuk mencelakai kita bukanlah hal baru, tetapi yang berubah saat ini adalah kemampuan mereka. Pada 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka sudah cukup siap untuk menyerang. Hal itu membuat kita hanya punya waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk bersiap bersama para sekutu agar mampu bertempur dan menang," tulis Streeting, dilansir The Independent.

2. Kerawanan fasilitas publik Inggris terhadap serangan siber

ilustrasi Inggris (pexels.com/Mauricio Artieda)

Streeting juga mengungkapkan bahwa situasi keamanan saat ini berada pada titik paling rawan dalam beberapa dekade terakhir. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mewaspadai berbagai bentuk ancaman modern.

"Inggris tengah menghadapi tingkat ancaman yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita alami hampir sepanjang hidup saya," kata Streeting.

Ia menyoroti berbagai bahaya mulai dari negara-negara yang memusuhi Inggris, serangan siber, kejahatan terorganisasi, hingga krisis iklim yang mengancam fasilitas penting. Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai makin memudahkan pihak lawan mencari celah keamanan digital untuk melumpuhkan jaringan perbankan, transportasi umum, dan layanan kesehatan.

3. Imbauan pemerintah Inggris agar warga menyiapkan pasokan darurat

ilustrasi Inggris (pexels.com/Vincent Wei)

Peringatan Kementerian Pertahanan ini sejalan dengan peluncuran kampanye kesiapsiagaan warga bertajuk Be Ready oleh pemerintah Inggris. Melalui program tersebut, pemerintah menyarankan setiap keluarga menyiapkan cadangan makanan tahan lama dan air minum di rumah untuk bertahan hidup setidaknya selama tiga hari.

Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyatakan bahwa panduan ini bertujuan agar negara lebih sigap menghadapi krisis sejak dini, bukan sekadar bereaksi saat bencana sudah terjadi.

"Langkah ini bukan untuk memicu kepanikan, melainkan cara yang masuk akal agar warga memiliki pasokan cukup di rumah untuk bertahan saat menghadapi situasi sulit," ujar Burnham.

Para pejabat keamanan Inggris menilai masa tenang setelah Perang Dingin kini telah berubah menjadi era persaingan antarnegara yang penuh gejolak. Oleh karena itu, Streeting menegaskan bahwa kesiapsiagaan warga di dalam negeri harus berjalan beriringan dengan penguatan pertahanan militer bersama negara sekutu untuk menghadapi berbagai ancaman nyata tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article