Laporan tersebut diterima oleh Rubio dan Clayton pada Jumat. Laporan itu menyebut bahwa upaya Iran untuk menyerang diplomat, pejabat, dan warga AS di Timur Tengah saat ini sudah mencapai “Tahap lanjut”. Sebab, belakangan ini, sejumlah pihak di Teheran sedang meningkatkan upaya tersebut.
Iran Dituding Berupaya Serang Diplomat hingga Warga AS di Timur Tengah

- Intelijen AS melaporkan dugaan rencana Iran menyerang diplomat, pejabat, dan warga AS di Timur Tengah telah mencapai tahap lanjut, berdasarkan sejumlah sumber rahasia regional.
- Laporan itu tidak merinci target, metode, maupun negara terkait; AS menyatakan akan terus meneruskan informasi intelijen kepada Kementerian Luar Negeri untuk ditindaklanjuti.
- AS terus mengevaluasi keamanan kedutaan dan dapat mengurangi staf diplomatik di Timur Tengah, sementara Presiden Donald Trump menyebut kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran.
Jakarta, IDN Times - Iran disebut sedang berupaya menyerang para diplomat, pejabat, hingga warga Amerika Serikat (AS) yang ada di negara-negara Timur Tengah. Menurut keterangan seorang pejabat AS anonim pada Jumat (23/10/2026), kabar tersebut termuat dalam laporan intelijen yang diberikan kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio dan Penasihat Keamanan AS, Jay Clayton.
1. Laporan intelijen AS didapat dari berbagai sumber
Clayton menjelaskan, laporan intelijen AS tadi didapat berdasarkan keterangan sejumlah sumber rahasia dari Timur Tengah. Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan target spesifik, metode serangan, atau negara di luar Timur Tengah tempat dugaan rencana tersebut dikembangkan.
“Upaya perencanaan mematikan oleh Iran terhadap warga AS telah mencapai tahap lanjut baik di Timur Tengah maupun di beberapa negara lain,” tulis Clayton dalam sebuah unggahan di media sosial X, seperti dikutip Jerusalem Post. Ia menambahkan bahwa informasi intelijen terkait upaya serangan ke diplomat hingga warga AS di Timur Tengah akan terus disampaikan ke Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS agar bisa ditindaklanjuti.
2. AS akan terus memantau keamanan para diplomatnya di Timur Tengah

potret negara-negara Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson) Imbas ancaman ini, seorang pejabat AS mengatakan pihaknya akan terus memantau keamanan semua diplomatnya yang bertugas di Timur Tengah. Ia menjelaskan, penugasan para diplomat di Timur Tengah juga akan disesuaikan dengan kondisi keamanan di sana. Jika ancaman terus meningkatkan, maka opsi pengurangan staf diplomatik akan kembali dilakukan demi keamanan para diplomat.
“Dalam hal penempatan staf di kedutaan, kami terus-menerus mengevaluasi informasi baru tentang lingkungan keamanan. Ancaman serangan Houthi dan rencana teror Iran yang menargetkan pejabat AS menjadi pertimbangan kami dalam pengambilan keputusan mengenai penyesuaian staf untuk kedutaan yang berstatus Terbatas di wilayah tersebut (Timur Tengah),” kata pejabat itu kepada NBC News.
3. AS sudah mengurangi staf diplomatiknya di Timur Tengah

Gedung Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat di Washington D.C. (flickr.com/Tony Webster via commons.wikimedia.org/Tony Webster) Sebetulnya, Kemlu AS sudah berupaya mengurangi keberadaan staf diplomatiknya di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan agar para diplomat di kawasan tersebut tidak terdampak serangan Iran. Upaya ini sudah dilakukan Washington bahkan sejak awal berperang dengan Teheran. Apalagi, AS saat ini juga sedang berencana untuk melakukan serangan baru ke Iran.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan AS kemungkinan akan melakukan serangan baru ke Iran dalam waktu dekat ini. Dalam pernyataan terbarunya, ia mengatakan pasukan militer AS kemungkinan akan kembali melakukan Operasi Epic Furry untuk menggempur Iran seperti yang sudah dilakukan pada Februari lalu. “Kami mungkin akan melakukan (Operasi) Epic Fury kecil lagi,” kata Trump dalam pidatonya di sebuah rapat umum di Florida dilansir France24.




















