AS Tetapkan Institut Konfusius China sebagai Ancaman Keamanan Nasional

- Pentagon menetapkan Institut Konfusius sebagai ancaman keamanan nasional, dengan tuduhan lembaga itu beroperasi kembali di universitas AS memakai nama dan piagam berbeda.
- Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut 80 jaringan baru di 30 universitas sebagai corong propaganda China; Pentagon mengklaim telah membongkarnya dalam dua bulan terakhir.
- Pengawasan AS sejak 2020 menyoroti dugaan kendali Beijing, penyensoran akademik, dan kurangnya transparansi; puluhan kampus kemudian menutup Institut Konfusius.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon menetapkan Institut Konfusius, pusat kebudayaan dan bahasa di lingkungan kampus yang didanai pemerintah China, sebagai ancaman keamanan nasional pada Jumat (23/10/2026). Keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, melalui unggahan video di media sosial.
Pentagon resmi memasukkan lembaga itu ke daftar institusi yang mengancam keamanan negara karena dinilai masih beroperasi dengan menyamar di berbagai universitas AS. Washington telah lama menuding Institut Konfusius berfungsi sebagai alat propaganda Beijing untuk menyebarkan pandangan pemerintah komunis China. Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan atas penetapan ini.
1. Pentagon klaim bongkar 80 corong propaganda China

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons) Hegseth mengungkapkan program kebudayaan yang didukung pemerintah China itu tetap menyusup ke universitas-universitas AS menggunakan kedok baru meski telah dibatasi oleh Kongres. Lembaga tersebut kembali muncul dan beroperasi layaknya organisasi senyap di lingkungan akademik.
"Ternyata 80 corong propaganda baru di 30 universitas telah bermunculan menggunakan nama dan piagam berbeda, tetapi dengan misi yang sama, yakni mencuri kekayaan intelektual dan menyusupi pikiran mahasiswa Amerika," ujar Hegseth, dilansir Al Jazeera.
Pentagon telah mengambil tindakan tegas terhadap seluruh jaringan baru yang terdeteksi tersebut. Dalam dua bulan terakhir, Kementerian Pertahanan AS telah membongkar seluruh organisasi itu hingga tuntas.
2. Pemerintah AS meningkatkan pengawasan sejak 2020

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel) Langkah ini meningkatkan kampanye lintas lembaga pemerintah AS terhadap pusat bahasa dan budaya sokongan Beijing tersebut. Pengawasan tingkat federal menguat sejak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS menetapkan Pusat Institut Konfusius AS (CIUS) di Washington sebagai misi asing Republik Rakyat China pada 13 Agustus 2020.
Saat itu, Kemlu AS menyoroti isu transparansi dan kendali langsung pemerintah China atas CIUS yang berfungsi sebagai markas koordinasi jaringan di AS. Status misi asing tersebut mewajibkan CIUS menyerahkan laporan berkala mengenai personel, rekrutmen, pendanaan, serta jejak operasionalnya di wilayah AS.
Temuan Kemlu AS pada 2020 mengungkap bahwa Institut Konfusius dibiayai langsung oleh Hanban, lembaga yang berafiliasi dengan Kementerian Pendidikan China. Operasional lembaga ini juga berada di bawah arahan politik dan pengawasan Departemen Kerja Front Bersatu Partai Komunis China (PKC). Melansir Arab News, pejabat AS menyoroti bahwa sejak tahun 2009, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok, Li Changchun, secara eksplisit menggambarkan institut ini sebagai bagian penting dari propaganda luar negeri China.
3. AS soroti dugaan penyensoran akademik
Pengawasan pemerintah AS terhadap Institut Konfusius berfokus pada dugaan penyensoran dan pengaruh asing dalam kehidupan akademik. Studi Asosiasi Sarjana Nasional (NAS) pada 2017 mengungkap bahwa kontrak kerja sama dengan pihak kampus kerap dirahasiakan dan materi ajarnya menghapus topik sejarah sensitif seperti pelanggaran hak asasi manusia. Kampus tuan rumah juga ditawari insentif finansial agar tidak mengkritik kebijakan Beijing.
Pada 2018, direktur bersama Institut Konfusius di Universitas Negeri Savannah pernah meminta penghapusan referensi tentang Taiwan dari biografi seorang pembicara utama. Selain itu, riset peneliti Universitas College Dublin pada 2019 menemukan keberadaan lembaga tersebut memicu pergeseran pemberitaan media lokal di sekitarnya menjadi lebih memihak Beijing. Sebelumnya, Asosiasi Profesor Universitas Amerika (AAUP) telah memperingatkan sejak 2014 bahwa lembaga ini melayani agenda politik China serta mengorbankan kemandirian pendidikan tinggi.
Pada puncak pengawasan federal pertengahan 2020, tercatat ada 75 Institut Konfusius yang aktif di AS, dengan 65 di antaranya berada di dalam kampus. Terdapat pula sekitar 500 Kelas Konfusius yang beroperasi di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Setelah penetapan status misi asing oleh Kemlu AS, puluhan perguruan tinggi di AS memilih menutup lembaga tersebut, sejalan dengan langkah serupa di Swedia, Jerman, serta India.























