Fakta-Fakta Penembakan di Gereja Yordania yang Tewaskan 7 Orang

- Tiga pria bersenjata menyerang pelayat di Gereja Ortodoks Yunani, Desa Hammoud, Karak, pada 23 Oktober 2026; tujuh jemaat tewas dan 34 lainnya terluka.
- Pelaku menembaki 150–200 peserta pemakaman selama lima menit sebelum melarikan diri. Tim gabungan keamanan Yordania dikerahkan untuk memburu mereka.
- Pemerintah Yordania menyatakan serangan sebagai terorisme terencana, menetapkan tiga hari berkabung nasional, sementara kecaman datang dari berbagai pihak internasional dan keagamaan.
Jakarta, IDN Times - Sekelompok pria bersenjata menyerang kompleks Gereja Ortodoks Yunani di Desa Hammoud, Provinsi Karak, Yordania selatan, pada Jumat (23/10/2026). Aksi penembakan terhadap para pelayat ini memicu kecaman luas karena menyasar warga minoritas Kristen di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tersebut.
Direktorat Keamanan Publik Yordania (PSD) langsung mengerahkan tim gabungan untuk memburu para pelaku yang melarikan diri seusai beraksi. Pada saat bersamaan, petugas medis mengevakuasi puluhan korban luka tembak ke sejumlah rumah sakit terdekat guna mendapatkan perawatan darurat.
1. Kronologi penembakan jemaat saat upacara pemakaman di gereja

dekorasi di Gereja Ortodoks Yunani (unsplash.com/Christina Victoria Craft) Serangan tersebut terjadi saat sekitar 150 hingga 200 warga tengah menghadiri upacara pemakaman di halaman gereja. Berdasarkan keterangan saksi mata dan rekaman kamera pengawas (CCTV), tiga pelaku turun dari sebuah mobil pikap lalu menembaki kerumunan warga selama lima menit menggunakan pistol dan senapan otomatis.
Direktur Keamanan Publik Yordania, Mayor Jenderal Obaidallah Al-Maaytah, menyatakan bahwa serangan ini menewaskan sedikitnya tujuh jemaat dan melukai 34 orang lainnya. Mayoritas korban berusia antara 50 hingga 70 tahun, termasuk tiga korban tewas yang berprofesi sebagai dokter, sementara kepolisian masih menyisir jalur pelarian pelaku untuk menangkap mereka.
"Tujuh orang dipastikan meninggal dunia akibat serangan di Gereja Ortodoks Yunani, sedangkan korban luka lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit," ujar Al-Maaytah, dilansir CBS News.
2. Respons tegas pemerintah Yordania atas serangan di Karak

bendera Yordania (unsplash.com/Tommaso Ubezio) Pemerintah Yordania menetapkan penembakan ini sebagai aksi terorisme terencana yang bertujuan memecah belah persatuan warga. Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazen Al-Faraya, menilai aksi kekerasan tersebut justru memperkuat tekad masyarakat untuk memberantas terorisme, sejalan dengan janji Raja Yordania, Abdullah II, yang akan menghukum berat para pelaku.
"Serangan teroris di Karak akan dibalas dengan tindakan paling tegas. Keselamatan setiap warga Yordania sangat berharga dan kami akan menindak keras siapa pun yang mengancam keamanan negara," tegas Raja Abdullah II.
Menyusul insiden itu, Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan, menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari yang disertai pengibaran bendera setengah tiang di seluruh kantor pemerintahan. Ratu Rania Al Abdullah juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan menyatakan bahwa duka tersebut turut dirasakan oleh seluruh rakyat Yordania.
3. Kecaman berbagai pihak terhadap aksi kekerasan di tempat ibadah

bendera Yordania (jordanembassyjapan.com) Serangan di tempat ibadah tergolong sangat jarang terjadi di Yordania, mengingat sekitar 300 ribu warga Kristen selama ini hidup berdampingan secara damai di tengah total 11,5 juta penduduk. Wilayah Karak yang berjarak sekitar 120 hingga 180 kilometer di selatan Amman merupakan kawasan permukiman bersejarah umat Kristen, meski wilayah ini sempat diguncang serangan kelompok ISIS di pos polisi dan benteng Karak pada Desember 2016 yang menewaskan 10 orang.
Kecaman atas penembakan ini pun mengalir dari sejumlah negara tetangga, Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem, hingga Dewan Gereja Dunia (WCC) yang mendesak peningkatan keamanan di seluruh rumah ibadah. Sementara itu, Uskup Agung Ortodoks Yunani di Yordania, Christophoros Atallah, menegaskan bahwa aksi teror tersebut tidak akan memecah belah masyarakat, melainkan makin mempererat persaudaraan warga di Yordania.






















