Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Para Pemimpin BRICS Tolak Pengusiran Gaza, Tuntut Hak Warga Palestina
Presiden Brasil Lula da Silva, Presiden China Xi Jinping, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, PM India Narendra Modi, dan Menlu Rusia Sergei Lavrov berpose bersama di KTT BRICS ke-15, 2023. (15th BRICS SUMMIT, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Deklarasi New Delhi BRICS menolak pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat, serta mendesak gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
  • BRICS menilai perdamaian Israel-Palestina bergantung pada pemenuhan hak Palestina, termasuk penentuan nasib sendiri dan hak kembali, serta mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB.
  • Palestina menyambut deklarasi tersebut dan meminta langkah konkret; KTT juga menyerukan diplomasi untuk konflik Iran-Ukraina serta perlindungan fasilitas sipil dan nuklir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Para pemimpin kelompok 11 negara BRICS menolak dan menentang pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza serta Tepi Barat yang diduduki. Penolakan bersama tersebut dituangkan ke dalam Deklarasi New Delhi yang disahkan secara bulat pada hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India, pada Sabtu.

Blok ini menyatakan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang masih terus berlanjut di Gaza meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai pada Oktober 2025 lalu. BRICS menegaskan bahwa solusi damai yang langgeng di kawasan tersebut hanya bisa terwujud apabila hak-hak sah rakyat Palestina dipenuhi seutuhnya.

1. Deklarasi New Delhi desak penghentian pengusiran paksa warga Gaza

Warga Gaza berjalan di antara reruntuhan bangunan hancur. (Novghorod, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Dilansir TRT World, Deklarasi New Delhi menyerukan diakhirinya segala bentuk kebijakan yang bertujuan memindahkan paksa penduduk Palestina dari Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Para pemimpin BRICS menegaskan kekhawatiran terhadap berbagai pengaturan yang dapat mencederai hak-hak yang tidak dapat dicabut rakyat Palestina serta melegitimasi atau memperpanjang pendudukan wilayah oleh Israel. Selain itu, deklarasi ini mendesak seluruh pihak untuk mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB guna memastikan pemeliharaan gencatan senjata dan penyaluran bantuan kemanusiaan tanpa rintangan.

Dalam dokumen kesepakatan tersebut, para pemimpin BRICS juga menegaskan kembali komitmen terhadap solusi damai demi mengakhiri konflik di kawasan. "Kami menegaskan kembali bahwa solusi yang adil dan langgeng untuk konflik Israel-Palestina hanya dapat dicapai melalui cara-cara damai dan bergantung pada pemenuhan hak-hak sah rakyat Palestina, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk kembali," bunyi deklarasi bersama tersebut. BRICS turut menegaskan dukungan penuh agar Negara Palestina memperoleh status keanggotaan penuh di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

2. Palestina sambut dukungan BRICS terhadap perjuangan rakyatnya

bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)

Pemerintah Palestina melalui Kementerian Luar Negeri pada Sabtu (12/9/2026) menyampaikan sambutan baik atas isi deklarasi yang disahkan dalam KTT BRICS di India. Mereka memuji penegasan aliansi tersebut yang menentang upaya pengusiran paksa warga Palestina dari tanah mereka, termasuk di wilayah Yerusalem Timur yang diduduki. Kementerian Luar Negeri Palestina menilai sikap tegas blok ekonomi tersebut telah sejalan dengan ketentuan hukum internasional serta berbagai resolusi PBB terkait.

Kementerian Luar Negeri Palestina juga menyambut dukungan deklarasi terhadap mandat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) serta seruan perlindungan tempat suci dan memastikan akses ke tempat suci tersebut di Yerusalem Timur yang diduduki. "Penerapan posisi dan penegasan yang tercantum dalam deklarasi BRICS membutuhkan penghentian pendudukan Israel dan pemberian kesempatan bagi rakyat Palestina untuk menjalankan hak-hak mereka yang tidak dapat dicabut," ungkap Kementerian Luar Negeri Palestina. Mereka pun menekankan pentingnya menerjemahkan komitmen diplomatik tersebut ke dalam langkah-langkah praktis dan konkret.

3. Sorotan BRICS terhadap risiko konflik global dan fasilitas nuklir

ilustrasi konflik militer (pexels.com/Pixabay)

Di samping menyoroti isu Palestina, KTT BRICS turut menyerukan peningkatan upaya damai dalam mencegah dan menyelesaikan konflik bersenjata di tengah perang yang terjadi di Iran serta Ukraina. Mengingat kondisi polarisasi dan ketidakpercayaan global saat ini, BRICS meminta masyarakat internasional menempuh langkah-langkah politik-diplomatik demi meredakan potensi benturan. Aliansi ini juga mendorong organisasi kawasan untuk berperan aktif dalam pencegahan dan penyelesaian konflik, termasuk dengan menangani akar penyebabnya.

Para pemimpin BRICS turut menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya risiko konflik nuklir sehingga mendesak langkah perlucutan senjata, pengendalian persenjataan, serta nonproliferasi. Mereka menyuarakan kekhawatiran mendalam atas serangan-serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil maupun instalasi nuklir damai. "Pengamanan nuklir, keselamatan, dan keamanan harus selalu ditegakkan, termasuk dalam konflik bersenjata, untuk melindungi manusia dan lingkungan dari bahaya," tegas deklarasi New Delhi.

Kelompok BRICS kini beranggotakan 11 negara usai perluasan keanggotaan sejak 2024 yang memasukkan Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menyusul anggota lamanya yaitu Brasil, Rusia, India, China, serta Afrika Selatan. Dilansir TRT World, persekutuan ini secara kolektif mewakili sekitar separuh dari total penduduk dunia dan menguasai kurang lebih 40 persen keluaran ekonomi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article