ilustrasi konflik militer (pexels.com/Pixabay)
Di samping menyoroti isu Palestina, KTT BRICS turut menyerukan peningkatan upaya damai dalam mencegah dan menyelesaikan konflik bersenjata di tengah perang yang terjadi di Iran serta Ukraina. Mengingat kondisi polarisasi dan ketidakpercayaan global saat ini, BRICS meminta masyarakat internasional menempuh langkah-langkah politik-diplomatik demi meredakan potensi benturan. Aliansi ini juga mendorong organisasi kawasan untuk berperan aktif dalam pencegahan dan penyelesaian konflik, termasuk dengan menangani akar penyebabnya.
Para pemimpin BRICS turut menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya risiko konflik nuklir sehingga mendesak langkah perlucutan senjata, pengendalian persenjataan, serta nonproliferasi. Mereka menyuarakan kekhawatiran mendalam atas serangan-serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil maupun instalasi nuklir damai. "Pengamanan nuklir, keselamatan, dan keamanan harus selalu ditegakkan, termasuk dalam konflik bersenjata, untuk melindungi manusia dan lingkungan dari bahaya," tegas deklarasi New Delhi.
Kelompok BRICS kini beranggotakan 11 negara usai perluasan keanggotaan sejak 2024 yang memasukkan Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menyusul anggota lamanya yaitu Brasil, Rusia, India, China, serta Afrika Selatan. Dilansir TRT World, persekutuan ini secara kolektif mewakili sekitar separuh dari total penduduk dunia dan menguasai kurang lebih 40 persen keluaran ekonomi global.