Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PBB Desak Setop Perang Sudan usai Serangan Drone Tewaskan 300 Orang
ilustrasi logo PBB (unsplash.com/hdbernd)
  • Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak penghentian perang Sudan, perlindungan warga sipil, serta percepatan bantuan kemanusiaan di tengah konflik yang dinilai telah menargetkan masyarakat.
  • Eskalasi serangan drone oleh militer Sudan dan RSF menewaskan 306 orang serta melukai ratusan lainnya dalam tiga pekan, dengan banyak korban merupakan warga sipil.
  • RSF menyerang lima stasiun pembangkit listrik di Al Jazira, Gedaref, dan White Nile, memicu pemadaman massal di sebagian besar wilayah tiga negara bagian tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Senin (26/10/2026), mendesak setop pertempuran di Sudan. Menurutnya, perang saudara di Sudan sudah berubah menjadi perang militer yang menargetkan warga imbas banyaknya korban dari warga sipil.

Beberapa pekan terakhir, perang sipil Sudan semakin mencekam imbas penggunaan drone baik dari militer Sudan dan pasukan pemberontak Rapid Support Forces (RSF). Alih-alih meluncurkan serangan ke fasilitas militer, serangan drone tersebut justru menargetkan fasilitas sipil di Sudan.

1. Desak perlindungan kepada warga sipil Sudan

ilustrasi bendera Sudan (pixabay.com/david_peterson)

Guterres mengatakan bahwa perang sipil Sudan sudah diinfiltrasi oleh pihak eksternal dan justru menargetkan warga sipil. Ia mendesak agar warga sipil Sudan harus dilindungi dan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan ke korban dengan cepat. 

Dilansir Democrata, Guterres meminta agar persatuan, kedaulatan, dan integritas teritorial Sudan tetap terjaga. Menurutnya, rakyat Sudan yang seharusnya berhak menentukan masa depannya lewat proses pemilihan umum yang inklusif bukan melalui konflik berkepanjangan. 

2. Serangan drone tewaskan 306 orang dalam 3 minggu

ilustrasi drone (unsplash.com/jeisblack)

Pekan lalu, Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Volker Tuerk mengecam keras eskalasi serangan drone di Sudan. Sebab, serangan drone tersebut sudah membunuh 306 orang dan menyebabkan ratusan orang terluka hanya dalam waktu 3 pekan. 

“Naiknya penggunaan drone menyebabkan mayoritas korban tewas justru berasal dari warga sipil Sudan pada tahun ini. Ini menunjukkan situasi yang mengerikan dari banyaknya korban tewas,” ungkap Tuerk, dikutip dari UN News.

Militer Sudan dan RSF saling balas serangan menggunakan drone. Namun, mereka menargetkan rumah warga, pasar, rumah sakit, dan infrastruktur listrik dan air di Kordofan, Darfur, Blue Nile, Khartoum, dan wilayah lain. 

3. Serangan drone RSF sebabkan mati listrik massal

ilustrasi jaringan listrik (pexels.com/pok-rie)

Pada Minggu (26/10/2026), RSF sudah meluncurkan serangan drone ke lima stasiun pembangkit listrik di Al Jazira, Gedaref, dan White Nile. Serangan ini menyebabkan mati listrik massal di sebagian besar area tiga negara bagian tersebut. 

Dilansir The Daily Star, ketiga negara bagian itu dikuasai oleh militer Sudan sejak April 2023. Serangan RSF ini menjadi lanjutan saling balas serangan antara militer Sudan dan RSF yang menargetkan infrastruktur kepentingan warga sipil. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article