Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PBB Resmi Adopsi Peta Equal Earth: Afrika 14 Kali Lebih Besar Greenland
Ilustrasi peta benua Afrika. (pexels.com/Nothing Ahead)
  • Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi Correct the Map dengan 164 suara dukungan, mendorong lembaga internasional dan platform teknologi beralih dari Mercator ke Equal Earth.
  • Resolusi nonmengikat ini menyoroti distorsi Mercator, yang membuat Greenland tampak hampir sebesar Afrika, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar.
  • Pendukung menilai Equal Earth dapat memperbaiki persepsi politik dan ekonomi terhadap Afrika serta Global South; AS menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (4/9/2026) menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan representasi luas wilayah yang lebih akurat, terutama terhadap Afrika. Resolusi yang dikenal sebagai 'Correct the Map' itu disponsori oleh Togo dan didukung oleh anggota Uni Afrika (AU).

Dalam pemungutan suara tersebut, sebanyak 164 negara memilih mendukung, 6 negara abstain, dan Amerika Serikat (AS) menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menentang.

Meskipun keputusan PBB ini bersifat tidak mengikat, tetapi resolusi tersebut mendesak lembaga-lembaga internasional serta platform teknologi global seperti Google Maps untuk beralih dari proyeksi Mercator ke Equal Earth.

1. Perdebatan yang berawal dari penggunaan proyeksi Mercator

Ilustrasi peta dunia. (Unsplash.com/Brett Zeck)

Proyeksi Equal Earth diciptakan pada 2018 dan diadopsi oleh Uni Afrika sebagai alternatif untuk menggambarkan luas benua dan negara secara lebih proporsional. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya mengoreksi distorsi pada peta dunia lama, terutama proyeksi Mercator yang membuat ukuran Afrika terlihat lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.

Dilansir CNN, penggunaan proyeksi Mercator telah mendominasi peta dunia selama berabad-abad menjadi pemicu perdebatan tersebut. Dalam proyeksi ini, wilayah yang lebih jauh dari khatulistiwa tampak jauh lebih besar, daripada wilayah yang paling dekat. Akibatnya, Greenland terlihat hampir sebesar Afrika, meskipun kenyataannya Afrika sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland.

Proyek Mercator dirancang oleh kartografer Flandria Gerardus Mercator pada 1569. Saat itu, digunakan untuk membantu para penjelajah Eropa bernavigasi di seluruh dunia. Distorsi ukuran merupakan konsekuensi dari upaya menggambarkan permukaan Bumi yang berbentuk bulat ke dalam bidang datar. Oleh sebab itu, tidak ada peta dunia dua dimensi yang dapat mempertahankan seluruh aspek bentuk, jarak, arah, dan luas secara sempurna.

2. Pro dan kontra terkait atas representasi peta dunia yang lebih akurat

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot. (x.com/ Jean-Noël Barrot)

Merespons hal itu, para kritikus dan kelompok kampanye seperti #CorrectTheMap menegaskan bahwa distorsi Mercator selama berabad-abad telah mempertahankan pandangan dunia yang tidak seimbang. Alhasil, meminimalkan tingkat realitas sosial ekonomi, kebutuhan infrastruktur, potensi pembangunan, dan kemakmuran Afrika dan di kawasan Global South lainnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Togo, Robert Dussey, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil.

"Peta tidak pernah netral. Peta membentuk persepsi, memengaruhi bagaimana posisi masyarakat dan benua di dunia dipahami," ujarnya.

Dukungan juga datang dari Prancis. Menlu Jean-Noel Barrot mengatakan kementeriannya akan meninggalkan penggunaan proyeksi Mercator dan beralih ke representasi yang lebih akurat. Menurut Barrot, mengubah peta memang tidak akan mengubah dunia, tetapi memperbaiki representasi yang terdistorsi merupakan langkah untuk mengoreksi cara dunia digambarkan.

Sebaliknya, Washington menilai pembahasan tersebut bukan prioritas Majelis Umum PBB. Delegasi AS Yaryna Ferencevych mengatakan badan tersebut seharusnya lebih berfokus pada persoalan seperti perdamaian internasional, kemakmuran, dan hubungan baik, daripada memperdebatkan peta yang berasal dari abad ke-16.

3. Apa dampak yang diharapkan dari proyeksi Equal Earth?

Potret kehidupan di Uganda, Afrika Timur. (unsplash.com/Jeff Ackley)

Selain mengoreksi ukuran benua, proyeksi Equal Earth juga hadir dalam fleksibilitas tata letak baru yang dapat memusatkan pandangan pada wilayah, seperti Oseania, sekaligus menjawab kritik keberpihakan geografis yang selama ini selalu berpusat di Greenwich, London.

Bagi ahli geografi Kenya, Kioko Muendo, peta Mercator secara implisit telah meremehkan sumber daya, populasi, dan peluang investasi yang melimpah di benua Afrika. Menurutnya, peta dapat memengaruhi cara suatu wilayah dipandang secara politik dan ekonomi.

Di sisi lain, Lerato Mogoatlhe dari Africa No Filter, salah satu kelompok di balik kampanye untuk meninggalkan peta Mercator, mengatakan kesalahan penggambaran Afrika pada peta dunia bukan hanya kesalahan kartografi, ini adalah masalah naratif.

"Hal itu merupakan bagian dari upaya untuk menghentikan misinformasi dan disinformasi terpanjang di dunia tentang Afrika," kata Mogoatlhe kepada BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article