Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pentingnya CoC Laut China Selatan Bagi Perdagangan di ASEAN
Panel diskusi Navigating Shared Seas: ASEAN’s Role in Advancing Rules-Based Maritime Cooperation di ASEAN Media Forum 2026, di Manila, Filipina. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • FASA menilai penyelesaian Code of Conduct di Laut China Selatan penting untuk menjaga stabilitas kawasan, keamanan pelayaran, dan kepastian perdagangan maritim ASEAN.
  • Industri pelayaran tetap beroperasi selama negosiasi CoC berlangsung dengan berpedoman pada aturan IMO dan UNCLOS 1982, terutama prinsip keselamatan serta kebebasan navigasi.
  • Transportasi laut menjadi tulang punggung perdagangan ASEAN; Selat Malaka dan Singapura menangani sekitar 28 persen perdagangan dunia dengan lebih dari 90 ribu kapal setiap tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Federasi Asosiasi Pemilik Kapal ASEAN (Federation of ASEAN Shipowners’ Associations/FASA) menilai penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus menjamin keamanan pelayaran dan perdagangan regional.

Ketua FASA, Mohamed Safwan bin Othman, mengatakan industri pelayaran memandang keberadaan CoC sebagai instrumen penting dalam mendukung kepastian aktivitas maritim di kawasan.

Meski demikian, dia menegaskan kegiatan pelayaran internasional tetap akan berlangsung dengan mengacu pada aturan Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS). Pernyataan itu disampaikan Safwan di sela ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina, Kamis (30/7).

1. CoC dinilai penting bagi dunia pelayaran

Peta wilayah Laut China Selatan yang menjadi kawasan sengketa sejumlah negara Asia Tenggara

Safwan mengatakan, ASEAN memiliki kepentingan besar terhadap penyelesaian CoC di Laut China Selatan.

"Kami memahami Code of Conduct merupakan kesepakatan antara negara-negara, dan tentu saja ASEAN sebagai kawasan memiliki kepentingan besar terhadap CoC," ujarnya kepada para jurnalis ASEAN.

Dia mengatakan dari sudut pandang industri pelayaran, penyelesaian CoC tetap menjadi kebutuhan.

"Dari sisi industri, kami menilai penting untuk memiliki Code of Conduct. Namun kami akan tetap menjalankan aktivitas ekonomi kami, terlepas dari apa pun yang terjadi terhadap CoC karena kami memiliki seperangkat aturan yang diamanatkan oleh IMO," kata Safwan.

2. Kebebasan navigasi harus dijaga

Laut China Selatan (pixabay.com/user1488365914)

Safwan menegaskan, kebebasan bernavigasi merupakan prinsip utama yang harus dipertahankan.

"Keselamatan pelayaran dan kebebasan bernavigasi adalah sesuatu yang kami pegang berdasarkan UNCLOS," katanya.

Karena itu, menurutnya, industri pelayaran tetap akan menjalankan operasional meskipun proses negosiasi CoC masih berlangsung. Peran FASA, dijelaskan Safwan, juga begitu terbatas karena tak berada di meja perundingan dan hanya menyampaikan pandangan lewat pemerintah masing-masing.

"Sebagai pemilik dan operator kapal, kami akan tetap menjalankan aktivitas kami, apa pun yang terjadi terhadap proses negosiasi Code of Conduct. Kami tidak berada di meja perundingan. Namun kami menyampaikan pandangan kami kepada pemerintah melalui masing-masing asosiasi nasional," ujar Safwan.

3. Pelayaran jadi tulang punggung perdagangan ASEAN

ilustrasi Laut China Selatan (crisisgroup.org)

Dalam diskusi panel AMF, Safwan mengatakan transportasi laut masih menjadi tulang punggung perdagangan ASEAN. Bahkan, lebih dari 80 persen perdagangan dunia berdasarkan volume diangkut melalui jalur laut, sementara nilai perdagangan ASEAN mencapai sekitar 4,4 triliun dolar AS.

Safwan juga mengatakan Selat Malaka dan Singapura menangani sekitar 28 persen perdagangan dunia dengan lebih dari 90 ribu kapal melintas setiap tahun. Menurutnya, menjaga jalur pelayaran yang aman dan bebas sesuai hukum internasional menjadi kunci bagi rantai pasok kawasan serta kepercayaan investor.

"Tanpa pelayaran, tidak akan ada perdagangan," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article