Viral Gibran Minta Maaf soal Keracunan MBG, Kepala BGN Sindir Guru-LSM

- Gibran Rakabuming Raka mengunjungi pelajar yang dirawat akibat dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo dan meminta maaf atas nama pemerintah.
- Keluhan keluarga pasien, kebutuhan obat, serta kemungkinan rujukan menjadi perhatian dalam kunjungan ke dua rumah sakit di Karo.
- Pernyataan Kepala BGN Sudaryono soal kritik MBG mendapat tanggapan dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris.
Jakarta, IDN Times - Di tengah polemik pelajar keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, jadi sorotan publik di media sosial, karena dianggap berani mengakui kesalahan hingga meminta maaf.
Momen ini terjadi saat Gibran mengunjungi Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham dan Rumah Sakit Umum (RSU) Amanda Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Jumat, 11 September 2026. Ia melihat langsung kondisi anak-anak yang tengah menjalani perawatan akibat dugaan keracunan makanan program MBG.
1. Kala Gibran dengar keluhan, minta maaf, hingga minta dokter pribadi bantu rawat korban keracunan MBG

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengunjungi anak-anak korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Jumat (11/9/2026) (dok. Setwapres) Gibran juga mendengarkan langsung keluhan keluarga pasien, termasuk kebutuhan obat dan kemungkinan rujukan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Gibran mengatakan kesehatan anak menjadi salah satu hal yang sangat penting. Ia ingin ratusan anak korban keracunan MBG di Karo, khususnya yang masih menjalani perawatan, dapat segera pulih dan kembali bersekolah serta menjalani aktivitas sehari-hari.
Gibran tidak hanya menemui anak-anak yang menjalani perawatan. Ia juga berbincang dengan keluarga pasien di lobi rumah sakit, untuk mendengar kebutuhan dan keluhan mereka secara langsung.
Salah seorang ibu menceritakan kondisi anaknya yang sempat dirawat akibat keracunan makanan MBG pada Agustus lalu. Meski sudah diperbolehkan pulang, sang anak disebut masih mengalami keluhan kesehatan.
Gibran memastikan keluhan masyarakat akan disampaikan kepada pihak terkait. Kebutuhan obat maupun rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut juga akan diupayakan.
“Tadi saya datangi satu-satu bapak, ibu, semuanya. Keluhannya apa, butuh obat apa, atau butuh referensi ke Jakarta atau Medan, sedang kami penuhi semua sesuai izin dari orang tua,” katanya.
Gibran mengatakan berbagai keluhan masyarakat terkait pelaksanaan MBG sedang menjadi bahan evaluasi Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menyebut masukan dari masyarakat penting untuk memperbaiki pelaksanaan program tersebut.
“Hal ini sedang dievaluasi oleh kepala BGN (Badan Gizi Nasional). Tetapi semua keluhan serta masukan Bapak Ibu akan saya sampaikan kepada pimpinan tertinggi untuk mendapat tindak lanjut,” imbuhnya.
Gibran juga menyampaikan permintaan maaf atas persoalan yang dialami masyarakat.
“Atas nama pemerintah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” lanjut Wapres.
Ia memastikan pemerintah akan mengupayakan agar anak-anak yang terdampak dapat kembali sehat dan bersekolah.
“Kami pastikan anak-anak bisa sehat dan bersekolah kembali,” ujar Gibran.
Selain itu, Gibran ingin memastikan kondisi korban keracunan MBG mendapat perhatian dan penanganan yang diperlukan. Ia juga membuka opsi rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang memiliki dukungan medis sesuai dengan kondisi pasien.
Menurut Gibran, kesehatan anak merupakan hal penting agar mereka dapat segera pulih dan kembali bersekolah. Karena itu, kehadiran Gibran disebut menjadi bagian dari upaya memastikan proses penyembuhan bisa berlangsung cepat dan maksimal.
Gibran turut membawa dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi pasien, sekaligus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Koordinasi dilakukan untuk memastikan apabila ada anak yang memerlukan penanganan lebih lanjut, langkah rujukan dapat segera dilakukan sesuai kebutuhan medis.
Putra sulung mantan Presiden Joko "Jokowi" Widodo itu meminta agar dokter pribadinya untuk sementara tinggal di Karo, melayani anak-anak yang keracunan MBG.
“Ini saya kesini membawa dokter pribadi saya. Saya minta dokter saya tinggal di sini dulu, untuk mengkoordinasikan sekiranya ada anak-anak yang butuh penanganan lebih intens di Jakarta,” imbuh Gibran.
2. Kepala BGN sindir orang tua, guru, hingga jurnalis bikin gaduh

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (kiri) dan Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (kanan). (IDN Times/Santi Dewi) Tak selang lama, video pernyataan Kepala BGN, Sudaryono mengenai maraknya pembahasan dan kritik terhadap program MBG ikutan viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, salah satunya diunggah akun Instagram @dardardar_30, Sudaryono menyebut secara keseluruhan pelaksanaan MBG di lapangan tidak mengalami persoalan seperti yang ramai dibicarakan di media sosial.
“Saya bukan ngeluh, sekali lagi ini hanya cerita kondisi aja. MBG secara keseluruhan kalau anda lihat di bawah, itu orang itu gak ada masalah sama MBG. Ini yang ramai di sosmed,” ujar Sudaryono.
Sudaryono pun menyinggung yang meramaikan masalah MBG justru berasal dari pihak guru, orang tua murid, jurnalis, hingga oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Menurutnya upaya memviralkan MBG ini karena ada kepentingan politik.
“Kenapa ramai? Satu, adalah ideologis, ini masalah urusan politik. Nomor satu. Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum yang LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis,” kata dia.
Dalam keterangan terpisah, sebenarnya Sudaryono disebut berani melakukan sikap tegas terhadap kasus keracunan MBG. Bahkan, ia tak tanggung-tanggung menjatuhkan sanksi berat kepada dapur SPPG yang lalai. Mulai dari memecat pekerja maupun kepala dapur hingga menutup permanen SPPG.
"Yang tidak sesuai sudah kita tutup, orang-orang kepala dapur, orang yang bekerja di dapur yang tidak kompeten sudah kita keluarkan, dan ini terus akan kita lakukan," katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis, 17 September 2026.
3. Pimpinan Komisi IX DPR sentil pernyataan Kepala BGN

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono di DPR, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Sementara, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyayangkan pernyataan semacam itu keluar dari mulut figur sekelas Kepala BGN. Ia menganggap masyarakat tentu punya alasan untuk menyampaikan kondisi yang terjadi di lapangan, termasuk ketika ada laporan gangguan kesehatan atau dugaan keracunan yang dialami penerima manfaat MBG.
Charles menegaskan, keluhan publik tersebut tidak semestinya dianggap sebagai upaya membuat kegaduhan dan penuh muatan unsur politik. Padahal, kritik yang disampaikan masyarakat terhadap MBG menjadi upaya untuk mencari keadilan.
"Tentu saya menyayangkan adanya statement seperti ini, karena kalau ada orang tua atau guru-guru yang mengalami keracunan terhadap anak-anaknya ya, saya rasa untuk speak out itu tujuannya bukan untuk membuat gaduh, tetapi untuk mencari kebenaran dan mungkin sebagian ingin mencari keadilan," ucap Charles di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 17 September 2026.
"Apalagi kalau berbicara guru-guru pasti mereka juga punya kepentingan untuk memastikan bahwa tidak terjadi lagi keracunan di kemudian hari," sambung politikus PDIP itu.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















