Polisi Italia Bongkar Jaringan Eksploitasi Anak Online
- Polisi Italia menangkap 17 tersangka dalam operasi lintas negara yang membongkar jaringan penyebaran konten kekerasan seksual anak daring, dengan dukungan penyelidikan internasional.
- Operasi Fly Trap mengungkap jaringan Telegram New Saga setelah polisi menyamar hampir setahun hingga menjadi administrator dan memetakan aktivitas rahasia para pelaku.
- Penyidik menyita 283 gigabita data, 200 perangkat elektronik, serta melacak 996 akun di 98 negara, yang memicu penangkapan lanjutan secara global.
Jakarta, IDN Times – Kepolisian Italia membongkar jaringan internasional penyebar konten kekerasan seksual anak secara daring, pada Kamis (17/9/2026). Sebanyak 17 tersangka ditangkap dalam operasi lintas negara untuk memutus peredaran materi ilegal berskala global tersebut.
Operasi berskala besar ini melibatkan kerja sama penegak hukum dari berbagai negara setelah melalui penyelidikan panjang. Kejaksaan Roma memastikan bahwa penindakan tegas ini secara khusus menyasar para pengelola dan anggota komunitas digital terlarang.
1. Polisi menyamar dan susupi grup Telegram rahasia
Penyelidikan bersandi Operasi "Fly Trap" ini mengandalkan taktik penyusupan siber oleh seorang personel kepolisian Italia di aplikasi Telegram selama hampir setahun. Petugas tersebut berhasil meraih kepercayaan dari para pengurus inti hingga akhirnya ditunjuk menjadi administrator grup.
"Langkah yang paling menentukan adalah kemampuan petugas menyusup ke dalam organisasi dan merebut kepercayaan mereka hingga menjadi administrator," kata Kepala Kejaksaan Roma, Francesco Lo Voi.
Keberhasilan penyusupan ini menjadi titik balik yang memungkinkan penyidik memetakan seluruh aktivitas dan obrolan rahasia sindikat. Langkah tersebut mempermudah polisi dalam mengidentifikasi para pelaku utama di balik jaringan tertutup itu.
2. Komunitas terlarang dikelola layaknya perusahaan
Komunitas daring bernama "New Saga" ini dikendalikan oleh empat warga Italia dan satu warga Swiss yang berusia 22 hingga 28 tahun. Para pengelola membagi tugas secara terstruktur, mulai dari mengelola server, memoderasi percakapan, hingga membuat bot otomatis agar grup tetap beroperasi.
"Organisasi ini terstruktur layaknya sebuah perusahaan multinasional," ujar Lo Voi.
Untuk menyaring anggota, sindikat ini mewajibkan donasi sebesar tiga hingga sembilan dolar AS (Rp53,4 ribu-Rp160,3 ribu) menggunakan mata uang kripto. Anggota yang enggan membayar wajib mengunggah konten kekerasan seksual anak terbaru sebagai syarat utama mendapat akses penuh.
3. Polisi sita puluhan ribu berkas digital dan lacak ratusan akun
Operasi ini bermula dari informasi intelijen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat sejak 2024. Dari penangkapan 17 tersangka di Italia dan Swiss, penyidik menyita 283 gigabita data yang berisi 22 ribu video dan 34 ribu foto anak, serta 200 perangkat elektronik untuk keperluan forensik.
"Kita sedang berhadapan dengan perdagangan anak di bawah umur yang sangat keji," tegas Lo Voi.
Otoritas penegak hukum juga melacak 996 akun pengguna yang terhubung dengan jaringan tersebut di 98 negara. Pertukaran informasi lintas negara ini memicu serangkaian penangkapan susulan terhadap pelaku lain di berbagai belahan dunia.





















