Salah satu negara yang terdampak perang antara AS dan Iran adalah Kamboja. Kamboja sebetulnya bukan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang terdampak perang antara Washington dan Teheran. Indonesia yang terletak di Asia Tenggara juga ikut terdampak. Namun, Kamboja tampaknya menjadi negara yang paling terdampak. Sebab, ada banyak anak di Kamboja yang kini jadi sulit sekolah karena perang AS dan Iran.
Perang AS-Iran Bikin Anak Kamboja Sulit Sekolah, Kok Bisa?

- Blokade Selat Hormuz oleh Iran memicu kenaikan harga minyak dan bahan pokok global, yang berdampak kuat pada Kamboja.
- Lonjakan bahan bakar menyulitkan kapal beroperasi di Danau Tonle Sap, sehingga murid dan guru, termasuk Sou Sreynich, kesulitan menyeberang ke sekolah.
- Keluarga miskin di sekitar danau harus memilih biaya sekolah atau kebutuhan harian; UNICEF memperingatkan 23,4 juta anak berisiko jatuh miskin jika konflik berlanjut.
Jakarta, IDN Times - Tidak bisa dipungkiri, perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terjadi sejak 28 Februari lalu tidak hanya berdampak pada kedua negara saja, tetapi juga berdampak pada negara-negara lain di seluruh dunia. Imbas perang ini, Iran memblokade Selat Hormuz sehingga memicu harga minyak global naik. Kenaikan harga minyak global ini lantas membuat harga bahan pokok juga naik.
1. Harga bahan bakar naik membuat anak dan guru di Kamboja sulit berangkat ke sekolah

potret sebuah sekolah di Kamboja (pexels.com/Sambok pen) Salah satu anak di Kamboja yang sulit mengakses pendidikan imbas perang AS dan Iran adalah Sou Sreynich. Sreynich sendiri merupakan seorang anak 13 tahun yang tinggal di sekitar Danau Tonle Sap, danau air tawar terbesar yang ada di Asia Tenggara. Setiap ingin pergi ke sekolah, dirinya harus menaiki sebuah kapal untuk menyebrangi danau. Sebab, sekolahnya memang terletak di seberang danau.
Sayangnya, hal tersebut kini sulit dilakukan. Sebab, harga bahan bakar di Kamboja melonjak drastis sejak AS dan Iran berperang. Oleh karena itu, para pemilik kapal jadi kesulitan membeli bahan bakar untuk mengoperasikan kapalnya. Hal ini lantas membuat murid dan guru yang tinggal di sekitar Danau Tonle Sap jadi sulit berangkat ke sekolah untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.
2. Kenaikan harga bahan bakar membuat warga di Danau Tonle Sap makin sengsara

ilustrasi bahan bakar (unsplash.com/Dawn McDonald) Kenaikan harga bahan bakar ini juga membuat warga yang tinggal di sekitar Danau Tonle Sap semakin sengsara. Terlebih, sebagian besar keluarga yang tinggal di sana hidup dalam kemiskinan. Banyak dari mereka yang hanya mengandalkan memancing di danau, menjual cabai, dan bekerja membersihkan ikan untuk menyambung hidup sehari-hari.
Kenaikan harga bahan bakar membuat harga bahan pokok di Kamboja juga naik. Hal ini lantas membuat warga di sekitar Danau Tonle Sap bimbang. Mereka bingung antara menggunakan uangnya untuk kebutuhan sekolah anak atau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih, uang yang mereka dapatkan sehari-hari juga “Pas-pasan” dan hanya cukup untuk sekadar bertahan hidup.
3. Perang AS dan Iran berpotensi berlanjut

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Hingga saat ini, konflik antara AS dan Iran masih belum usai. Meski sudah tidak saling berperang secara fisik, kedua negara kini justru “Perang dingin” karena masih sama-sama berbeda pendapat soal kesepakatan damai. Hal ini lantas membuat perang bisa kembali meletus. Terlebih, nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang telah disepakati Washington dan Teheran pada Juni lalu sebentar lagi akan kedarluarsa.
United Nations Children’s Fund dalam laporan terbarunya menyebut akan ada sekitar 23,4 juta anak di seluruh dunia, termasuk di Kamboja, yang terjerumus ke dalam lembah kemiskinan jika perang AS dan Iran berlanjut. Dari jumlah tersebut, 80 persennya berasal dari Benua Asia dan Afrika.
Kasus Sreynich dan anak-anak yang tinggal di sekitar Danau Tonle Sap tadi sebetulnya hanya sebagian kecil saja. Sebab, masih banyak anak Kamboja di wilayah lainnya yang sulit mengakses pendidikan imbas perang AS dan Iran. Hal yang lebih menyakitkan adalah Pemerintah pusat Kamboja juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka karena anggaran negara yang terbatas.





















