Titik Panas Meningkat, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

- BNPB menggelar operasi modifikasi cuaca di Sumatra Selatan pada 4-10 Agustus 2026 untuk mendukung penanganan karhutla, setelah titik panas meningkat dari 46 menjadi 104 dalam sehari.
- Operasi dilakukan atas arahan Presiden dan permintaan Gubernur Sumsel, yang menetapkan status siaga darurat asap hingga 30 November 2026 akibat risiko karhutla dan El Nino.
- Penerbangan pertama menyemai 1.000 kilogram bahan di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, menghasilkan hujan ringan; BNPB mengajak pemerintah, masyarakat, serta pelaku usaha memperkuat pencegahan dini.
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC), dalam penanganan darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Upaya ini berlangsung selama 7 hari, mulai 4 Agustus sampai 10 Agustus 2026. Sebelumnya, BNPB pernah menggelar operasi serupa pada 5 Mei sampai 14 Mei 2026 lalu.
Operasi kali ini bertujuan untuk mendukung upaya-upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra Selatan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir.
1. Ada 104 titik panas

Satelit NASA NOAA20 mencatat ada 46 titik panas atau hotspot pada 2 Agustus 2026, dan meningkat menjadi 104 titik panas pada 3 Agustus 2026.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto dalam rapat internal dengan para unsur pengarah, pejabat eselon I, dan eselon II BNPB di Jakarta mengatakan, OMC merupakan salah satu upaya untuk mendukung penanggulangan karhutla pada 6 provinsi prioritas di Indonesia, karena memiliki lahan gambut yang luas dan sangat sulit dipadamkan apabila terjadi kebakaran yang cukup masif, termasuk salah satunya di Sumsel.
“Pada tanggal 28 Juli 2026, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, termasuk kami, BNPB, yang diundang dalam rapat tersebut. Dalam rapat tersebut, kepala negara menginstruksikan jajarannya untuk mengambil langkah-langkah strategis menghadapi potensi dampak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino, dengan fokus utama pada upaya menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan,” ujarnya.
“Arahan Presiden salah satunya untuk tetap melaksanakan OMC di 6 provinsi prioritas tersebut. Menindaklanjuti arahan Presiden, BNPB kembali menggelar OMC di Sumatra Selatan, tentunya dengan pertimbangan masih ada cukup awan yang disemai sesuai dengan rekomendasi BMKG”, lanjutnya.
2. Gubernur Sumsel bersurat ke BNPB

Terkait ancaman karhutla yang dapat diperburuk dengan adanya fenomena El Nino, Gubernur Sumsel telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhula di wilayahnya. Status ini telah berlaku mulai 22 April 2026 sampai dengan 30 November 2026. Gubernur juga sudah bersurat kepada Kepala BNPB meminta dukungan OMC di wilayah Sumatra Selatan.
Pesawat OMC yang digelar BNPB melalui pihak ketiga beroperasi dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Pelaksanaanya mendapatkan dukungan dari TNI AU di Lanud setempat, BMKG dan BPBD provinsi. Kemudiam BNPB melaksanakan penerbangan OMC sebanyak satu sorti dengan penyemaian 1.000 kg bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir pada Selasa (4/8/2026). OMC dengan pesawat fixed wings ini berhasil menjadi hujan dengan intensitas ringan di wilayah tersebut.
3. BNPB imbau berkerja sama cegah karhutla

Menyikapi masuknya musim kemarau yang berpotensi mengakibatkan bencana asap akibat karhutla, BNPB menekankan kembali instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Karhutla.
BNPB mengimbau agar pemerintah daerah bersama masyarakat maupun pelaku usaha kehutanan dan pertanian dapat bekerja sama dalam pencegahan dini.


















