- Kawasan Syamaliah: Dikelola oleh Sektor 1 (22 hotel) dan Sektor 2 (23 hotel).
- Kawasan Gharbiah: Dikelola oleh Sektor 3 (24 hotel) dan Sektor 4 (26 hotel).
- Kawasan Janubiah: Dikoordinasikan oleh Sektor 5 (22 hotel).
Peta Hotel Jemaah Haji di Madinah: Dekat Nabawi & Setara Bintang 4 & 5

- Kementerian Haji dan Umrah menyiapkan 118 hotel di kawasan strategis Markaziyah Madinah untuk menyambut sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia yang tiba pada 22 April 2026.
- Hotel-hotel berjarak antara 50 hingga 700 meter dari Masjid Nabawi, memudahkan jemaah menjalankan ibadah Arba’in selama sembilan hari bermukim di Madinah.
- Fasilitas akomodasi setara bintang empat hingga lima disiapkan dengan pembagian kamar tiga sampai lima orang, menjamin kenyamanan dan kesetaraan layanan bagi seluruh jemaah.
Madinah, IDN Times – Kota Madinah bersiap menyambut kedatangan sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia gelombang pertama yang dijadwalkan tiba di pada 22 April 2026 mendatang. Untuk memfasilitasi puluhan ribu jemaah tersebut, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menyiapkan 118 hotel yang dipastikan berada di kawasan strategis Markaziyah atau di dalam area Ring Road.
Kepala Seksi Akomodasi Daker Madinah, Dr. Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa seluruh hotel jemaah tersebar di tiga wilayah utama di sekitar Masjid Nabawi, yakni kawasan Syamaliah (utara), Janubiyah (selatan), dan Gharbiah (barat). "Kawasan ini menjadi incaran hampir semua negara. Alhamdulillah, Indonesia berhasil mendapatkan lokasi tersebut sehingga jaraknya sangat dekat dengan Masjid Nabawi," ujar Zaenal, Senin (20/4).
1. Hotel terjauh hanya berjarak 700 meter dari Masjid Nabawi

Pengelolaan 118 hotel tersebut akan dibagi ke dalam lima sektor dengan rincian sebagai berikut:
Lokasi akomodasi jemaah Indonesia tahun ini tercatat memiliki jarak terdekat hanya 50 meter dari batas tembok Masjid Nabawi, sedangkan jarak terjauh berada di radius 700 meter. Secara rata-rata, jarak hotel ke masjid hanya berkisar 500 meter. Kondisi ini sangat strategis untuk memudahkan jemaah menjalankan ibadah, termasuk melaksanakan ibadah Arba'in (salat berjamaah 40 waktu berturut-turut) selama sembilan hari bermukim di Madinah.
2. Jemaah harus bijak terkait pengaturan kamar

Meski memiliki keunggulan lokasi, panitia dihadapkan pada tantangan perbedaan karakteristik kapasitas hotel di Madinah jika dibandingkan dengan Makkah. Hal ini berpotensi membuat jemaah yang berada dalam satu kelompok terbang (kloter) terpaksa harus ditempatkan di hotel yang berbeda.
Zaenal menegaskan, pemisahan ini dilakukan sebagai langkah efisiensi agar tidak ada sisa kamar yang kosong yang dapat berujung pada kerugian negara.
"Kami berupaya agar meskipun terpaksa pisah hotel, jemaah tetap dalam satu regu atau rombongan dan lokasinya berdekatan. Kami mohon kearifan jemaah untuk memahami kondisi ini," jelas Zaenal.
3. Kualitas hotel setara bintang empat dan lima

Dari sisi fasilitas, jemaah reguler dipastikan akan mendapatkan standar kelayakan yang nyaman. Zaenal mengungkap, terdapat jemaah haji reguler yang berpotensi menempati akomodasi dengan fasilitas setara hotel bintang empat hingga bintang lima, karena adanya sejumlah hotel dengan stratifikasi di atas bintang tiga.
Setiap kamar akan diisi oleh tiga hingga lima orang jemaah menyesuaikan ketersediaan jumlah tempat tidur di dalamnya. Kondisi kasur dan kamar mandi pun telah dipastikan sesuai standar kenyamanan. Pemerintah juga menjamin adanya kesetaraan layanan bagi seluruh jemaah pada setiap aspek, baik itu standar hotel, konsumsi, transportasi, hingga agenda ziarah.
"Intinya, layanan akomodasi ini sangat vital. Kami ingin jemaah merasa nyaman namun tetap fokus pada tujuan utama, yakni beribadah," pungkas Zaenal.



















