Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Katja Kodba, Public domain, via Wikimedia Commons)
Di luar agenda keamanan maritim, kunjungan kenegaraan Macron ke Doha menghasilkan kesepakatan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar untuk memenuhi kebutuhan musim dingin Prancis. Jaminan pasokan ini sangat dibutuhkan pemerintah Prancis guna menekan lonjakan harga bahan bakar yang memicu gelombang unjuk rasa berujung kerusuhan di negaranya. Dalam tur Teluk ini, Macron turut didampingi para pemimpin perusahaan energi raksasa Prancis, TotalEnergies dan Engie.
"Kami mengamankan setara dua terawatt-jam LNG per bulan untuk periode musim dingin. Tujuan kami tercapai karena kami mendapatkan jaminan volume yang akan membantu warga kami dan menghindari kelangkaan pasokan," kata Macron, dikutip dari Euronews.
Selain gas dari Qatar, Prancis juga mengantongi komitmen pasokan diesel tambahan sebanyak 295 ribu ton per bulan dari Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Arab Saudi. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 10 persen konsumsi bulanan Prancis di tengah lonjakan harga diesel Eropa yang mendekati 200 dolar AS (sekitar Rp3,6 juta) per barel.
Di sektor militer, kedua negara menandatangani nota kesepahaman jaminan keamanan pertahanan serta menunjuk perusahaan KNDS France dan John Cockerill Defense untuk memodernisasi angkatan darat Qatar. Prancis juga menyepakati kontrak lanjutan penyediaan jet tempur Rafale generasi kelima, sistem radar, satelit komunikasi, dan kendaraan lapis baja bagi militer Qatar. Hubungan ekonomi kedua negara sendiri tercatat sangat erat dengan lebih dari 665 perusahaan Prancis beroperasi di Qatar dan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar 6,39 miliar riyal (sekitar Rp30 triliun) pada 2025.