Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Sebut Migran Dalang Kerusuhan dan Desak Prancis Tutup Perbatasan

2 min read
Trump Sebut Migran Dalang Kerusuhan dan Desak Prancis Tutup Perbatasan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menuding imigran sebagai penyebab kerusuhan dan penjarahan di Prancis, serta mendesak pemerintah Prancis segera menutup perbatasan.
  • Dalam pidato di Kansas, Trump mengaitkan protes siswa dan situasi di Paris dengan imigrasi, jihadis, komunis, serta Islam yang disebutnya ingin mengambil alih Prancis.
  • JD Vance, Mike Johnson, dan DHS turut mengkritik kebijakan perbatasan Prancis, memperingatkan pelonggaran imigrasi dapat memicu kekerasan serupa di AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa imigran yang menyebabkan kerusuhan dan penjarahan di Prancis. Ia mendesak Prancis untuk menutup perbatasannya dari imigran. 

“Apa yang terjadi di Prancis berkaitan erat dengan imigrasi. Ini bukan tentang sekolah atau lainnya. Ini imigrasi. Maka dari itu, segera tutup perbatasan Anda,” ungkapnya, dikutip dari El Mundo, Selasa (20/10/2026). 

Sebelumnya, Trump sudah mengkritik demonstrasi besar-besaran siswa SMA di Prancis yang bertujuan memperbaiki sekolah dan pendidikan. Menurutnya, demo ini didorong oleh imigran dan Islam berniat mengambilalih Prancis. 

  1. 1. Sebut Prancis sudah dijarah dan dibakar oleh imigran

    ilustrasi bendera Prancis
    ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky)

    Saat berpidato di Park City, Kansas, Trump mengatakan bahwa Prancis yang pernah menjadi negara besar telah dikuasai oleh imigran. Ia menilai imigran, jihadis, dan komunis sudah membakar dan menjarah di Prancis. 

    “Jika Anda melihat apa risiko dalam pemilu sela ini. Maka Anda dapat melihat apa yang terjadi di Prancis. Seluruh dunia sudah tiba dan Paris akan menjadi sebuah kota Muslim dalam waktu dekat. Namun, masalahnya berbeda, kita sudah menutup perbatasan, mereka belum,” terangnya, dikutip dari The Guardian.

  2. 2. JD Vance dan Mike Johnson ikut kritik kebijakan imigrasi Prancis

    Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance.
    Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance. (C-SPAN, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Pada saat yang sama, Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan bahwa demonstrasi di Prancis terjadi karena membiarkan imigran masuk. Menurutnya, imigran tersebut adalah orang yang tidak punya budaya yang sama dengan Prancis. 

    “Liberal Barat sudah mengimpor orang dari negara dunia ketiga ke Prancis dan negara lain dalam rangka keberagaman dan belas kasihan. Namun, mereka akhirnya justru mempertanyakan dasar asimilasi dan kompatibilitas,” ungkapnya, dikutip dari USA Today.

    Sementara itu, Juru Bicara Parlemen AS, Mike Johnson menjelaskan bahwa kekacauan di Prancis disebabkan pembukaan perbatasan. Ia menekankan bahwa AS tidak akan membiarkan insurgensi Marxisme masuk dan menimbulkan kekacauan. 

  3. 3. DHS umumkan peringatan dampak longgarkan imigrasi di AS

    suasana di perbatasan AS dan Meksiko
    suasana di perbatasan AS dan Meksiko (unsplash.com/nhuenerfuerst)

    Menyusul pernyataan Trump ini, Departemen Keamanan Negara (DHS) mengusulkan peringatan keras soal imigrasi di Prancis. Menurutnya, kekerasan dan kerusuhan di Prancis dapat juga terjadi di AS. 

    “Setiap negara yang melonggarkan kontrol perbatasan akan membayar mahal perbuatannya. Presiden Trump sudah berkomitmen besar dalam menegakkan hukum imigrasi dan menjaga kedaulatan nasional,” terangnya, dilansir dari Fox News. 

    Pihak DHS bahkan menekankan penolakan terhadap imigran dari negara dunia ketiga. Ia menegaskan impor imigran dari negara dunia ketiga akan membuat AS menjadi negara dunia ketiga. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More