Pasien Rujukan KJSU dari Bima Tempuh 14-16 Jam, RSUD Naik Tipe

- Pasien rujukan KJSU dari Kota Bima harus menempuh perjalanan laut 14–16 jam ke Mataram karena keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah.
- RSUD Kota Bima tengah naik kelas dari tipe D ke tipe C dengan fokus pengembangan layanan KJSU dan KIA, termasuk cathlab, hemodialisa, serta CT-scan.
- Pemerintah menargetkan peningkatan layanan di 66 RSUD seluruh Indonesia pada 2025–2026 melalui penguatan sarana, alat kesehatan, dan tenaga medis.
NTB, IDN Times – Pasien rujukan kasus kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU) dari Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, harus menempuh perjalanan 14 hingga 16 jam melewati laut menuju Mataram, karena keterbatasan layanan di daerah. Kondisi ini mendorong peningkatan kapasitas layanan di RSUD Kota Bima yang tengah berproses naik kelas dari tipe D menjadi tipe C.
Direktur RSUD Kota Bima, Fathurrahman, mengatakan kebutuhan layanan prioritas di daerahnya masih didominasi kasus rujukan KJSU, serta kesehatan ibu dan anak (KIA), terutama karena keterbatasan fasilitas.
"Karena kasus-kasus ini yang paling sering kita rujuk ke provinsi, dan membutuhkan perjalanan 14-16 jam melewati laut. Sehingga kadang-kadang pasien tidak selamat di jalan, makanya kita sangat antusias mengembangkan layanan KJSU-KIA di Kota Bima ini,” ujarnya di lokasi, Jumat, 27 Februari 2026.
1. Berbagai pengembangan layanan KJSU dan KIA

Peningkatan tipe rumah sakit mencakup pengembangan layanan kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU) serta KIA. Fathurrahman menjelaskan layanan baru akan mencakup handling sitotoksik, cathlab atau catheterization laboratory, layanan uro-nefrologi, hemodialisa, hingga CT-scan.
"Yang jelas saat ini di rumah sakit yang baru ini perubahannya adalah di layanan KJSU yang akan kita kembangkan di rumah sakit baru ini, yang selama ini memang tidak kita miliki di rumah sakit yang lama," katanya.
2. Seminggu ada dua kasus KJSU dirujuk ke Mataram

Fathurrahman menjelaskan hampir setiap pekan pihaknya masih merujuk pasien KJSU ke provinsi, karena keterbatasan penanganan.
"Mungkin hampir seminggu itu dua kasus KJSU kita rujuk ke Mataram, ke provinsi," katanya.
Dalam pemenuhan fasilitas layanan KJSU-KIA, RSUD Kota Bima juga masih kekurangan kapasitas rawat inap. Saat ini rumah sakit hanya memiliki 100 tempat tidur, sementara kebutuhan ideal mencapai 170 tempat tidur.
"Masih tetap 100 bed kita berharap ke depan, kita bisa menambah jumlah bed, karena rasio jumlah penduduk dengan jumlah bed ini yang belum seimbang. Secara jumlah penduduk kita butuh 170 bed," kqtanya.
3. Program targetkan 66 RSUD tingkatkan layanan

Alokasi anggaran pembangunan ruang rawat inap RSUD Kota Bima yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp35 miliar. Sedangkan, secara total pembangunan RSUD Kota Bima mencapai Rp130 miliar melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti dikutip dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Bima.
PHTC Presiden Prabowo Subianto menargetkan 66 RSUD di berbagai wilayah Indonesia untuk ditingkatkan layanannya dalam periode dua tahun, yakni 2025-2026. Peningkatan dilakukan melalui penguatan sarana prasarana, alat kesehatan, serta pemenuhan tenaga medis guna memperluas akses layanan rujukan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat secara bertahap.

















