RI Ucapkan Belasungkawa Pasukan Perdamaian Prancis Tewas di Lebanon

- Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa atas tewasnya pasukan perdamaian Prancis di Lebanon dan menyerukan semua pihak menghormati gencatan senjata demi mencegah eskalasi konflik.
- Insiden penembakan terhadap patroli UNIFIL di Lebanon selatan menewaskan satu personel Prancis dan melukai tiga lainnya, disebut sebagai serangan disengaja di tengah situasi keamanan rapuh.
- Patroli UNIFIL diserang saat menjalankan misi pembersihan bahan peledak di desa Ghanduriyah; pelaku diduga aktor non-negara dan serangan itu dikecam keras oleh PBB serta otoritas Prancis.
Jakarta, IDN Times - Seorang pasukan penjaga perdamaian asal Prancis tewas dan tiga lainnya terluka setelah patroli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diserang di Lebanon selatan. Kementerian Luar Negeri RI melalui akun X-nya menyampaikan belasungkawa atas pasukan perdamaian Prancis yang tewas dan luka.
"Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati yang mendalam kepada Pemerintah dan rakyat Prancis atas gugurnya peacekeepers Prancis dan beberapa lainnya mengalami luka-luka dalam insiden terhadap UNIFIL pada tanggal 18 April 2026," tulis akun X @Kemlu_RI, Minggu (19/4/2026).
Kemlu menyampaikan, serangan yang dilakukan berada pada masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
"Serangan yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari merupakan hal yang tidak dapat diterima. Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional," kata dia.
1. Proses gencatan senjata harus dihormati

Indonesia juga meminta semua pihak untuk menghormati gencatan senjata. Hal itu bertujuan agar eskalasi tidak semakin meningkat.
"Negosiasi yang tengah berlangsung dan gencatan senjata harus dihormati sepenuhnya, serta tidak dilanggar dengan tindakan kekerasan yang akan berisiko memperburuk eskalasi dan membahayakan keselamatan personel di lapangan," ujar Kemlu RI.
Indonesia juga terus menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi tersebut. Terlebih, pasukan perdamaian juga menjadi korban, termasuk tiga anggota TNI yang gugur di Lebanon.
"Indonesia menyatakan solidaritas bersama Prancis dan negara-negara kontributor pasukan lainnya. Indonesia kembali menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan perdamaian PBB, sebagaimana tercermin dalam Pernyataan Bersama tentang Keselamatan dan Keamanan Personel PBB pada 9 April 2026," ujar dia.
2. Peristiwa itu disebut sebagai serangan yang disengaja

Insiden ini disebut sebagai serangan yang disengaja dan terjadi di tengah situasi keamanan yang masih rapuh. Pasukan tersebut merupakan bagian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang mengonfirmasi satu personel meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka. Dua di antaranya bahkan dalam kondisi serius, setelah patroli mereka ditembaki menggunakan senjata ringan.
Serangan ini menambah daftar panjang risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di wilayah tersebut, terutama sejak kembali memanasnya konflik antara Hizbullah dan Israel pada awal Maret.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara langsung menuding kelompok Hizbullah berada di balik serangan tersebut, meskipun tuduhan itu langsung dibantah oleh kelompok yang didukung Iran tersebut.
Di sisi lain, insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada 16 April.
3. Serangan mendadak di tengah misi pembersihan

UNIFIL menjelaskan, patroli tersebut tengah menjalankan misi untuk membersihkan sisa bahan peledak di sebuah jalan di desa Ghanduriyah. Misi ini bertujuan membuka kembali akses ke sejumlah posisi yang terisolasi akibat pertempuran sebelumnya.
Namun, di tengah operasi tersebut, tim tiba-tiba diserang oleh kelompok bersenjata. UNIFIL menyebut pelaku sebagai aktor non-negara dan mengecam keras insiden tersebut.
Serangan itu disebut sebagai tindakan yang disengaja. UNIFIL menegaskan serangan tersebut bersifat disengaja.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, mengatakan, pasukan yang tewas merupakan bagian dari misi untuk membuka kembali akses ke posisi UNIFIL yang terputus.
Dia menjelaskan, pasukan tersebut disergap oleh kelompok bersenjata dari jarak sangat dekat dan korban langsung terkena tembakan dari senjata ringan.
Menurut dia, rekan-rekan korban sempat berusaha menyelamatkan, namun nyawanya tidak tertolong.



















