Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ribuan Warga Slovenia Protes Pembukaan Kedutaan Besar Israel
ilustrasi bendera Slovenia. (unsplash.com/Luka E)
  • Ribuan warga Slovenia berunjuk rasa di Ljubljana menentang pembukaan kedutaan besar tetap pertama Israel, yang diresmikan Menlu Israel Gideon Saar dan Menlu Slovenia Tone Kajzer.
  • Demonstran menuntut penutupan perwakilan Israel, sanksi ekonomi, serta pemutusan kerja sama; survei Delo menunjukkan 56 persen warga menolak hubungan lebih erat dengan Israel.
  • Pemerintahan PM Janez Jansa membalik kebijakan era Robert Golob dengan memulihkan hubungan Israel, menandatangani kerja sama lintas bidang, dan membatalkan sejumlah pembatasan sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Slovenia menggelar aksi unjuk rasa di ibu kota Ljubljana pada Rabu (9/9/2026). Demonstrasi ini digelar untuk menentang pembukaan kedutaan besar tetap pertama Israel di negara anggota Uni Eropa (UE) tersebut.

Aksi protes berlangsung saat Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar meresmikan gedung diplomatik itu bersama Menteri Luar Negeri Slovenia Tone Kajzer. Pembukaan kedutaan memicu kemarahan publik karena menandai pemulihan hubungan bilateral di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Janez Jansa.

1. Demonstran desak penutupan kedutaan Israel

ilustrasi aksi bela Palestina (unsplash.com/Ehimetalor Akhere Unuabona)

Aksi unjuk rasa dipimpin oleh Gerakan untuk Hak-Hak Rakyat Palestina di depan gedung Kementerian Luar Negeri Slovenia dan hotel lokasi peresmian. Massa membawa poster penolakan terhadap perang di Gaza serta menuntut pembatalan pembukaan kedutaan.

Para demonstran juga menuntut pemerintah Slovenia segera menutup konsulat jenderal Israel. Mereka turut mendesak pemutusan kerja sama ekonomi, penerapan sanksi dagang, hingga penarikan diri Slovenia dari keanggotaan NATO.

"Langkah ini membuat Slovenia terlihat sangat buruk," kata Melina Sahernik, seorang pensiunan berusia 65 tahun yang ikut berunjuk rasa, dilansir France24.

Selain berdemonstrasi, kelompok aktivis mengajukan petisi kepada otoritas kota Ljubljana untuk mengganti nama jalan lokasi kedutaan. Mereka mendesak Jalan Dimiceva diganti menjadi Jalan Palestina sebagai simbol solidaritas. Dewan kota dijadwalkan membahas usulan tersebut dalam rapat reguler pada Oktober mendatang.

2. Mayoritas warga Slovenia menolak hubungan dengan Israel

ilustrasi bendera Israel (unsplash.com/Taylor Brandon)

Langkah pemerintahan Jansa tidak mendapat dukungan mayoritas masyarakat Slovenia. Jajak pendapat harian Delo pada Juni menunjukkan sebanyak 56 persen warga menolak hubungan yang lebih erat dengan Israel, sementara hanya 14 persen yang mendukung.

"Mayoritas publik Slovenia menentang Israel atau berada dalam posisi netral," ujar Andraz Zorko, analis politik Slovenia, dilansir Associated Press.

Penolakan publik mendorong kubu oposisi mengajukan mosi pemakzulan terhadap PM Jansa ke parlemen. Mosi ini diprakarsai oleh partai Gerakan Kebebasan pimpinan mantan Perdana Menteri (PM) Robert Golob bersama Partai Kiri.

Oposisi juga menuntut pencopotan Menlu Tone Kajzer karena menilai kebijakan luar negeri saat ini hanya melayani kepentingan Israel. Mantan Presiden Danilo Turk turut mengkritik pemerintah dan menyebut Slovenia telah berubah menjadi instrumen politik Israel.

3. Jansa balikkan arah kebijakan luar negeri pemerintahan terdahulu

Gedung di Ljubljana merupakan kedutaan tetap pertama yang dibuka Israel di Slovenia. Sebelumnya, kepentingan diplomatik Israel untuk Slovenia ditangani melalui kantor kedutaan di Wina, Austria. Kedatangan Gideon Saar ini menjadi lawatan pertama menlu Israel ke Slovenia dalam 16 tahun terakhir.

Kedua menteri menandatangani kesepakatan di bidang pendidikan, sains, kebudayaan, pemuda, dan olahraga. Delegasi pengusaha terkemuka Israel juga hadir dalam forum bisnis untuk menjajaki kemitraan ekonomi dan teknologi.

Langkah ini membalikkan kebijakan era pemerintahan Robert Golob yang kritis terhadap Israel. Pada masa Golob, Slovenia resmi mengakui kemerdekaan negara Palestina pada 2024, menghentikan pembelian senjata, serta melarang impor produk dari permukiman ilegal Tepi Barat.

Pemerintahan sebelumnya bahkan melarang Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berkunjung ke Slovenia. Namun, Jansa membatalkan semua larangan tersebut setelah dilantik pada Juni lalu dan mencopot bendera Palestina dari kantor pemerintahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article