Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rusia Tawarkan Barter Ribuan Tawanan Ukraina dengan 2 Tentara Korut
Ilustrasi bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)
  • Rusia menawarkan pertukaran ribuan tawanan Ukraina dengan dua tentara Korut yang ditangkap Kiev, namun proposal ini diragukan oleh sejumlah sumber diplomatik.
  • Tawaran tersebut menimbulkan dilema bagi Ukraina dan Korsel karena menyangkut prinsip kemanusiaan serta hak kedua tentara Korut yang ingin membelot ke Seoul.
  • Selain isu tawanan, Ukraina juga meminta dukungan Korsel dalam rekonstruksi pascaperang, meski Seoul menegaskan hal itu tidak terkait dengan negosiasi pertukaran tahanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia dilaporkan menawarkan pertukaran ribuan tawanan perang Ukraina dengan dua tentara Korea Utara (Korut), yang ditangkap oleh pasukan Kiev. Informasi ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dalam pertemuan tertutup di Institut Studi Kebijakan Asan di Seoul, Korea Selatan (Korsel) pada 29 Juni 2026 saat kunjungannya ke Korsel, menurut sumber diplomatik pada Kamis (2/7/2026).

Sybiha mengatakan Moskow mengusulkan agar dua tentara Korut dipulangkan ke Pyongyang sebagai imbalan atas pembebasan ribuan warga Ukraina yang saat ini ditahan Rusia. Meski demikian, sejumlah sumber diplomatik meragukan Kremlin benar-benar akan menawarkan pertukaran dalam skala sebesar itu.

1. Dilema Ukraina dan sikap Korsel

Ilustrasi bendera Ukraina. (unsplash.com/Yehor Milohrodskyi)

Tawaran besar-besaran dari Moskow ini menempatkan Kiev dalam dilema politik dan berpotensi mempersulit upaya Seoul untuk membawa kedua tentara tersebut ke Korsel. Ukraina menghadapi beban politik domestik yang besar.

Di satu sisi, mereka sangat membutuhkan kepulangan ribuan warganya. Di sisi lain, menyerahkan tentara Korut ke Rusia (yang pasti akan dikembalikan ke Pyongyang) melanggar prinsip kemanusiaan. Namun, beberapa pengamat menilai Kiev sempat melihat kedua tahanan ini sebagai alat tawar untuk membebaskan warga mereka.

"Ukraina perlu memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada publiknya sendiri, jika mereka mengabaikan pemulangan ribuan warganya dan malah mengizinkan tentara Korut pergi ke Korsel," kata sebuah sumber kepada Korea Herald.

Meskipun Rusia dan Korut mendesak pengembalian prajurit tersebut, Ukraina dan Korsel sepakat untuk mencari jalan keluar berdasarkan hukum internasional, dengan tetap menghormati kehendak kedua tawanan. Menurut prinsip Non-Refoulement disebutkan bahwa hukum internasional melarang pengembalian paksa individu ke tempat-tempat, di mana nyawa atau kebebasan mereka akan terancam. Organisasi hak asasi manusia internasional juga mendesak agar hak para tahanan untuk menentukan nasib sendiri dilindungi, Korea JoongAng Daily melaporkan.

2. Korsel siap terima kedua tentara Korut

Ilustrasi pasukan tentara. (Unsplash.com/Daniel Stuben.)

Seoul berulang kali menegaskan siap menerima kedua tentara tersebut. Berdasarkan konstitusi, Korsel menganggap warga Korut sebagai warga negaranya apabila mereka memilih datang secara sukarela. Melindungi keselamatan mereka adalah tanggung jawab negara.

Sementara itu, kedua tentara Korut tersebut menyatakan keinginannya untuk membelot ke Korsel, setelah ditangkap pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, pada Januari 2025. Mereka merupakan tentara Korut pertama yang diketahui berhasil ditangkap hidup-hidup, sejak Pyongyang mengirim pasukan untuk membantu perang Rusia.

Keduanya telah secara terbuka memohon suaka ke Korsel karena takut akan dieksekusi atau dihukum berat jika kembali ke Korut. Situasi yang dihadapi pasukan Korut menggambarkan rasa takut tersebut. Pyongyang diyakini telah menginstruksikan tentara yang ditempatkan di medan perang untuk tidak membiarkan diri mereka ditangkap. Laporan dari medan perang menunjukkan bahwa beberapa orang memilih bunuh diri daripada menjadi tawanan.

3. Ukraina meminta peran Korsel dalam rekonstruksi usai perang

Bendera Korea Selatan. (Unsplash.com/Stephanie Nakagawa)

Selain membahas nasib tawanan, diplomasi antara Seoul dan Kiev kini dilaporkan meluas ke sektor ekonomi. Ukraina mulai meminta kejelasan mengenai partisipasi perusahaan Korsel dalam rekonstruksi infrastruktur dan fasilitas energi pascaperang. Meski demikian, Seoul menegaskan isu tawanan perang tidak dikaitkan dengan bantuan maupun rekonstruksi Ukraina.

"Tentu saja Ukraina memiliki harapan besar terhadap bantuan dan partisipasi Korsel dalam rekonstruksi, tetapi itu tidak terkait dengan isu tawanan perang Korut," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korsel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article