pemandangan udara kota Qalqilya, West Bank (pexels.com/abu adel)
Pemerintahan pimpinan Burnham yang berkuasa sejak Juli 2026 dinilai mengambil langkah yang lebih berani terkait ketegangan di Timur Tengah. Dilansir Al Jazeera, Miliband menegaskan di hadapan parlemen House of Commons bahwa Inggris bersiap menetapkan serangkaian langkah demi mencegah keterlibatan negaranya dalam proyek pembangunan permukiman E1 di wilayah Palestina.
Proyek E1 dinilai melanggar hukum internasional karena dapat membelah wilayah Tepi Barat menjadi dua bagian dan menghubungkan permukiman Ma'ale Adumim dengan Yerusalem Timur. Melalui keterangannya, Miliband menyatakan penolakan pemerintah terhadap ancaman kehancuran proses perdamaian. "Pemerintah ini tidak akan membiarkan kehancuran solusi dua negara. Kami akan bertindak, dan saya akan menetapkan serangkaian langkah komprehensif dalam beberapa pekan mendatang," ucap Miliband.
Langkah pembatasan ini menyusul sikap bersama 21 negara dan Komisi Eropa pada bulan lalu yang menuntut Israel menghentikan ekspansi permukiman di Tepi Barat. Analis kebijakan dari British Palestinian Committee, Zena Agha, menilai sanksi dagang terhadap permukiman merupakan langkah minimum yang semestinya diambil setiap negara. Dia berpandangan bahwa secara materi, operasi rezim Israel tetap berlanjut serupa seperti pada masa pemerintahan sebelumnya. "Kami melihat hal ini lebih sebagai kelanjutan daripada sebuah perubahan drastis," kata Agha.