China Bantah Tuduhan Spionase Skala Besar dari Selandia Baru

- China membantah laporan intelijen Selandia Baru yang menuduh spionase massal, menyebutnya tanpa bukti, dipengaruhi kepentingan eksternal, dan berpotensi merusak kepercayaan politik.
- Laporan Penilaian Lingkungan Ancaman Keamanan 2026 Selandia Baru menyatakan China sebagai aktor campur tangan asing paling aktif, dengan sasaran teknologi sensitif dan perekrutan pejabat.
- Ketegangan keamanan muncul saat China tetap menjadi mitra dagang terbesar Selandia Baru; Beijing meminta kerja sama ekonomi dan budaya diprioritaskan agar kemitraan bilateral tetap stabil.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah China membantah laporan intelijen tahunan Selandia Baru pada Jumat (14/8/2026). Beijing menolak tuduhan spionase massal yang dinilai sengaja dihembuskan untuk memperkeruh hubungan diplomatik.
Laporan ancaman keamanan tersebut dipublikasikan oleh otoritas Wellington pada Kamis (13/8/2026). Isu ini memicu ketegangan diplomatik baru di tengah kerja sama perdagangan kedua negara yang terus berkembang.
1. Kedutaan Besar China sebut tuduhan intelijen tak berdasar

ilustrasi bendera China (pexels.com/@aboodi) Kedutaan Besar China di Wellington menilai laporan ancaman keamanan Selandia Baru berakar dari pola pikir geopolitik masa lalu. Laporan intelijen tersebut dinilai sengaja memprovokasi publik serta merusak kepercayaan politik antarnegara.
Beijing menegaskan tuduhan spionase tersebut tidak memiliki dasar bukti yang sah. Pihak diplomat meminta Selandia Baru segera menghentikan prasangka politik tersebut.
"Tuduhan palsu terhadap China yang menyebut kerja sama normal sebagai spionase sama sekali tidak berdasar," kata Kedutaan Besar China di Wellington.
Pemerintah China mengindikasikan dokumen keamanan tersebut sangat dipengaruhi oleh dorongan pihak eksternal. Mereka mendesak Selandia Baru menghentikan manipulasi politik yang dapat merugikan kemitraan kedua pihak.
2. Intelijen Selandia Baru soroti peningkatan aktivitas spionase

Ilustrasi bendera selandia baru (unsplash.com/Barry (Haoyun) Li) Laporan Penilaian Lingkungan Ancaman Keamanan 2026 menyoroti peningkatan aktivitas intelijen asing di Selandia Baru. Dokumen strategis mencatat pengumpulan informasi rahasia dilakukan secara terselubung oleh aktor luar negeri.
Lembaga keamanan mengklaim telah mengidentifikasi satu negara yang terdeteksi menjalankan operasi spionase secara intensif di wilayah mereka.
"China tetap menjadi aktor campur tangan asing paling aktif di Selandia Baru," kata Badan Intelijen Keamanan Selandia Baru, dilansir AsiaOne.
Aktivitas pengintaian tersebut dinilai mengincar penguasaan teknologi sensitif serta perekrutan pejabat domestik. Pemerintah Selandia Baru memperingatkan infiltrasi semacam ini dapat mengancam kedaulatan nasional mereka.
3. Ketegangan politik bayangi hubungan perdagangan bilateral

Ilustrasi kerja sama bilateral (Pixabay.com) Selandia Baru menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar dengan nilai transaksi tinggi. Hubungan ekonomi kedua negara telah memicu pertumbuhan berbagai sektor industri penting selama beberapa tahun terakhir.
Beijing berharap retorika ancaman keamanan tidak sampai merusak kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan bagi kedua pihak.
"Hubungan bilateral kedua negara didasarkan pada prinsip yang saling menguntungkan," kata Kedutaan Besar China di Wellington.
Para diplomat mendesak agar pertukaran ekonomi dan budaya tetap diprioritaskan demi kesejahteraan masyarakat. Saling percaya sangat dibutuhkan agar kemitraan bisnis terus berjalan stabil tanpa hambatan politik.





















